global-warming
Cuaca yang tidak menentu berpengaruh pada penurunan jumlah dan kualitas hasil pertanian.

Gunungkidul (02/11) – Sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul sudah memasuki musim hujan sejak pertengahan bulan September yang lalu. Sebelumnya, pada bulan Juni hingga Agustus yang biasanya memasuki musim kemarau ternyata masih sering terjadi hujan dengan intensitas sedang. Anomali cuaca ini seolah mengulangi fenomena iklim pada tahun 2010 silam.

Tak seperti biasanya saat hujan pertama tiba, para petani berbondong-bondong pergi kelahan tegalnya untuk menanam berbagai macam tanaman pangan. Para petani lahan kering yang biasanya dapat memanen singkong lalu dijemur jadi gaplek, namun tahun ini sebagian besar petani belum dapat memanenya lantaran hujan yang terus mengguyur. Jika petani nekat memanen akan mengalami kerugian karena kualitas gaplek menjadi buruk dan harga jual rendah.

Dari pantauan Tim Desa Lestari di pasar Karang Ijo Kulon, Desa Ponjong, harga gaplek berkisar Rp 1.000,00 – Rp 1.300,00. Padahal tahun lalu mencapai harga Rp 2.300,00 di tingkatan pedagang pasar atau tengkulak. Kondisi ini jelas sangat merugikan petani lahan kering yang biasa menanam tumpangsari (jagung, singkong, padi gogo dan palawija). “Terpaksa kami panen dan jual sekarang meskipun harga rendah,” tutur Sarijo, petani yang sedang menjual gapleknya di pasar.

Dalam diskusi pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Ponjong di Balai Desa Ponjong akhir pekan lalu, Petugas Penyuluh Lapangan Pertanian (PPLP) Heru Prasetya menjelaskan cuaca tidak menentu yang terjadi dapat mengancam ketahanan pangan. Heru juga mengingatkan petani agar mewaspadainya dengan melestarikan tanaman pangan lokal non padi seperti uwi, gembili, talas dan pangan lokal lainya. Tanaman pangan lokal selain padi ini terbutkti mampu menyediakan keanekaragaman pangan yang sehat bagi keluarga dan masyarakat desa.

Cuaca yang tidak menentu juga dapat mengancam turunnya produktifitas padi karena berpotensi munculnya berbagai macam hama dan penyakit padi.” Kami menghimbau agar para petani mengurangi penggunaan pupuk kimia terutama urea dan mengoptimalkan penggunaan pupuk organik,” jelasnya.

Heru menambahkan akibat perubahan iklim perlu adanya tindakan untuk mengurangi dampak tersebut diantaranya dengan adaptasi dan mitigasi. Adaptasi merupakan upaya penyesuaian penerapan teknologi, proses produksi melalui pengembangan kelembagaan sumber daya manusia (SDM) dan pengelolaan lingkungan. Upaya tersebut diantaranya mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, penggunaan varietas yang toleran terhadap cengkeraman biotik dan antibiotik, pengelolaan air dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan agensia hayati. ”Tindakan mitigasi merupakan upaya penambahan dan perbaikan penerapan teknologi seperti sistem budidaya yang ramah terhadap lingkungan,” pungkasnya.(ES)