Sudarto didampingi Taromi, pedagang oleh-oleh di obyek wisata Sri Getuk, Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul, saat berbincang pengembangan peluang bisnis wisata, salah satunya kesiapan pedagang menampung produk lokal untuk dipasarkan.
Sudarto didampingi Taromi, pedagang oleh-oleh di obyek wisata Sri Getuk, Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul, saat berbincang pengembangan peluang bisnis wisata, salah satunya kesiapan pedagang menampung produk lokal untuk dipasarkan.

Gunungkidul (14/11) – Sejak dirintis pada Tahun 2009, obyek wisata air terjun Sri Getuk mengundang perhatian wisatawan. Air terjun dengan pesona alam nan asri ini menjanjikan keindahan tersendiri salah satu wisata pedesaan di Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Sejalan dengan pengunjung dari luar daerah maupun negara tetangga yang setiap hari berdatangan obyek wisata desa ini membawa denyut perekonomian bagi warga masyarakat sekitarnya. Keterlibatan masyarakat dalam berbagai peran, seperti: pemasaran wisata, pemandu, operator perahu, keamanan, penataan parkir, penyediaan kuliner, sampai dengan urusan belakang meja administrasi dan manajemen yang kesemuanya terwadahi oleh satu unit dalam Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) “Sejahtera” Bleberan.

Masyarakat meyakini jantung perekonomian desa sektor pariwisata ini masih memiliki peluang lebih luas lagi untuk dikembangkan sebagai pilar pembangunan ekonomi kesejahteraan masyarakat desa. Perlu lebih banyak lagi warga masyarakat Bleberan mau terlibat memperkuat Sri Getuk.

Sudarto,  Ketua Paguyuban Pedagang Tirta Emas Air Terjun Sri Getuk, menyatakan, sampai saat ini peluang “pasar” masih terbuka luas di Sri Getuk namun belum dilirik warga Bleberan untuk membuka jaringan pemasaran produk industri kreatif. Dari 50 pedagang Sri Getuk yang bergabung dalam paguyuban Tirta Mas selama ini. masih bergantung pada hasil kreativitas pasokan luar daerah.

“Kami dan teman-teman dari kelompok pedagang sangat membuka diri kalau ada produk dalam desa yang bisa menjadi icon Sri Getuk. Kalau memang ada produk lokal kami justru senang,” katanya saat ditemui di warungnya yang berada di kawasan Sri Getuk, belum lama ini.

Lebih jauh, Sudarto mengatakan, ada kebutuhan penting dalam pengembangan wisata Sri Getuk. Salah satunya, belum adanya produk kerajinan maupun makanan olahan sebagai ciri khas dan identitas Sri Getuk. Nama yang unik pada wisata air terjun Sri Getuk kerap membuat pengunjung bertanya-tanya dan penasaran nama getuk, tidak lain makanan olahan tradisional berbahan singkong.

Selain itu, minimnya kemampuan berbahasa asing dari anggota paguyuban pedagang Tirta Mas menyebabkan tidak adanya interaksi yang terbangun secara akrab pedagang setiap menyambut pengunjung darii warga negara asing. “Memang sudah pernah ada pelatihan bahasa.  Tetapi, pesertannya terbatas dan kurang ada kelanjutannya,” tambah Sudarto.

 

Rentenir Mulai Gentayangan

Ramainya kunjungan wisata Sri Getuk, tidak saja mendatangkan berkah bagi para pedagang oleh-oleh. Peluang itu sudah mulai mengundang banyaknya “pemodal gelap” rentenir yang masuk untuk menggandakan keuntungan melalui modus pinjaman modal.

Taromi, salah satu pedagang di Sri Getuk membenarkan keresahan hadirnya rentenir dari beberapa daerah seperti Jogja, Bantul, Klaten, Solo maupun Gunungkidul sendiri. Tiap pinjam Rp 500.000 pengembalian angsurannya Rp 170.000 per sepuluh hari. “Tapi saya tidak berminat. Mending modal kecil tapi bebas dari hutang,” sambung Taromi usaha bermodal rejeki pemberian anaknya.

Para pedagang Sri Getuk nampaknya kurang mengetahui dengan adanya program Desa Bleberan dalam kebijakan permodalan usaha masyarakat kecil yang lebih aman dibanding bergantung rentenir. Desa yang dipimpin Supraptono sebenarnya memiliki unit simpan pinjam yang jauh lebih mudah terjangkau, baik syarat maupun bunganya. Unit simpan pinjam UEP SP salah satu unit Bumdes selain Unit Pariwisata dan unit Pengelolan Air Bersih. Unit ini tengah ditata ulang tata kelola menajamennya oleh beberapa tokoh desa setelah beberapa tahun stagnasi karena banyak nasabah mengalami macet kredit. Desa bahkan berkomitmen untuk menambah penyertaan modal agar unit simpan pinjam bisa lebih leluasa bergerak. (ETG)