Wardi, staf desa pengelola perpustakaan Desa Balong, Kecamatan Girisubo, tengah merapikan koleksi buku. Minat baca buku di desa sebelah utara Samudera Hindia itu potensial menjadi gerakan desa ditengah gempuran teknologi gadget masuk desa.
Wardi, staf desa pengelola perpustakaan Desa Balong, Kecamatan Girisubo, tengah merapikan koleksi buku. Minat baca buku di desa sebelah utara Samudera Hindia itu potensial menjadi gerakan desa ditengah gempuran teknologi gadget masuk desa.

Gunungkidul (18/11) – Pemerintah Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul, memiliki cita-cita menumbuhkan masyarakat pada minat baca buku. Kemajuan teknologi dan mudahya mendapat akses internet melalui perangat canggih atau gawai yang merambah desa menjadi tantangan tersendiri mewujudkan harapan besar tersebut.

Pertemuan Yayasan Penabulu dengan pengelola perpustakaan Desa Balong, Kamis (17/11), menginventarisasi persoalan rendahnya minat baca masyarakat pada dunia kepuskataan. “Kami memiliki hambatan menumbuhkan minat baca buku ditengah menjamurnya gadget seperti sekarang. Layanan perpusatakaan desa semakin jauh dari anak muda,” kata Wardi, staf desa pengelola perpustakaan.

Ia menambahkan, gadget yang memudahkan orang menikmati internet dan layanan youtube mendorong cara-cara instan semakin menjadi kebiasaan. Terlebih, desa dituntut adanya fasilitas jaringan internet menambah pekerjaan menumbuhkan minat baca serasa semakin berat. “Merasa tinggal klik saja. Padahal membaca buku lebih memberi pengetahuan mendalam,” imbuh Wardi.

Akan tetapi pekerjaan rumah yang berat itu bukan hanya dibiarkan. Pemerintah Desa Balong tak henti-henti menggencarkan informasi kepada masyarakat luas akan pentingnya membaca buku. Meskipun dua tahun sejak digagas perpustakaan desa masih terbilang sepi kunjungan pelayanan pustaka yang tiap hari. Buka bersamaan dengan pelayanan pemerintah desa.

Perpustakaan Desa Balong digagas setelah mendapat program BKAD DIY pada tahun 2014 lalu. Desa dipimpin Kepala Desa Suwardiyanto. memperoleh bantuan sebanyak 600 buku, rak buku dan perangkat komputer. Desa yang berada di sisi utara Samudera Hindia berencana akan lebih mempersiapkan sistem tata kelola yang menarik masyarakat menumbuhkan minat baca setelah pembangunan kantor desa baru selesai.

“Tapi menunggu semuanya siap sekarang pelayanan tetap jalan,” tambah Wardi yang secara rutin melaporkan progres perpustakaan desa yang belum memuaskan itu.

Sekretaris Desa, Purwanto, membenarkan rendahnya minat baca masyarakat Balong. Tetapi dia optimis, setelah ada penataan kantor desa nanti perpustakaan akan menjadi salah satu gerakan desa yang dikedepankan. Ia berusaha, jika tidak ada perubahan rencana design kantor baru, perpustakaan desa akan diberikan ruangan khusus yang lebih memadai dan nyaman untuk anak muda.

Menurut Purwanto, ketersediaan koleksi buku perpustakaan sebenarnya turut menentukan ketertarikan masyarakat mengakses buku. Saat ini desa belum bisa mengolakasikan anggaran untuk¬† menambah koleksi buku agar lebih lengkap beragam. “Novel sastra dan cerita atau buku kiat-kiat wirausaha kayaknya malah bisa mengundang perhatian anak muda. Kita akan coba nanti setelah kantor baru,” ungkap Purwanto belum genap enam bulan menjabat sekdes.

Beberapa buku nampak tertata rapi di ruangan perpustakaan desa yang masih menyatu dengan ruang kerja perangkat desa. Sayangnya, tempat baca bagi pengunjung belum memadai karena menyatu di ruang berukuran 4×4 meter. Perpustakaan Desa Balong menyediakan beberapa topic koleksi buku seperti ilmu politik, panduan dakwah islam, ragam bisnis usaha, buku tips budidaya tanaman dan peternakan, kiat menjadi master of ceremony (MC), Slank, pemikiran global Gus Dur, hingga panduan mengelola PAUD. (ETG)