Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (Foto: The Korean Times)
Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (Foto: The Korean Times)

Gyeongsangbuk-Do (02/12) – “Anda ingin kaya?” tanya Dr. Ho Choi-Sang kepada peserta 2016 International Saemaul Training Program, Kamis (01/12). Serentak 42 orang delegasi delapan negara mengiyakan pertanyaan tersebut.

Kekayaan merupakan impian dan cita-cita setiap manusia dan negara. Semua orang ingin kaya,tetapi kebanyakan tidak mau mengubah sikap mental dan cara bekerjanya, sehingga tetap miskin.  Ho Choi-Sang adalah doktor dari National Characters Studies yang telah melakukan penelitian watak orang Korea selama 42 tahun. Ia menceritakan sikap mental orang Korea pada masa lalu. Selama masa kepemimpinan dua Presiden sebelumnya orang Korea bermalas-malasan. Namun, setelah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee yang juga berasal dari keluarga miskin, sang presiden memotivasi perubahan mental orang Korea. “Semua orang Korea berubah menjadi pekerja keras “ tegasnya.

Choi-Sang mencontohkan, 40 tahun yang lalu Filipina adalah negara yang lebih kaya daripada Korea, tetapi sekarang kondisinya Korea 10 kali lebih kaya dari Filipina. Padahal Filipina sebenarnya mempunyai sumberdaya alam yang melimpah seperti Indonesia. Lain halnya dengan Malaysia yang mempunyai musim seperti Indonesia, namun negara Malaysia sekarang menempati peringkat 16 dunia negara  kaya sejak mengaplikasikan Saemaul Undong pada 1982 silam.

“Indonesia kaya sumber daya alam akan tetapi mengapa tidak maju seperti negara Korea?” tanya Budi Santoso Idris, Kepala Desa Tanjungwangi, salah satu delegasi dari Indonesia. Pertanyaan tersebut sejenak menghentikan cerita sang Doktor. Choi-Sang yang sudah 30 tahun menjadi dosen ini mengakui hasil pertanian yang melimpah di Indonesia seperti beras, sayur dan buah-buahan. Namun kualitasnya masih perlu ditingkatkan agar harganya tinggi. Proses produksi yang mengolah hasil pertanian untuk menjadi barang yang mempunyai nilai tambah mesti dikembangkan, agar pendapatan masyarakat juga meningkat.

Lebih lanjut, Choi-Sang menjelaskan salah satu faktor penting agar menjadi negara atau desa kaya, pemimpinnya harus mempunyai sikap mental sukarela kepada masyarakatnya. Pemimpin negara harus mempunyai mental yang kuat untuk membuat negara menjadi kaya. Pemimpin yang mampu membantu masyarakatnya untuk bekerja giat dan semangat sangat diperlukan untuk membangun desa atau negara. “Indonesia saat ini belum mempunyai pemimpin yang dapat mempunyai tujuan yang jelas untuk maju dan belum dapat membuat masyarakatnya lebih giat bekerja,” Choi-Sang berpendapat atas kondisi Indonesia.

Choi-Sang berharap agar para delegasi yang hadir ketika kembali ke tanah airnya mampu memilih pemimpin, termasuk pemimpin desa, yang memiliki misi mengubah sikap mental masyarakatnya, agar  desa mempunyai tujuan kuat dan jelas untuk mengkayakan desanya. (ES)