Museum Saemaul Undong menjadi tonggak sejarah gerakan saemaul sejak tahun 1970an.
Museum Saemaul Undong menjadi tonggak sejarah gerakan saemaul sejak tahun 1970an.

Yogyakarta (29/12) – Bagi kebanyakan negara berkembang munculnya sistem ekonomi kapital yang ditandai dengan penguasaan sumber daya nasional oleh negara maju kerap berbuah mengecewakan. Sering kali menempatkan nilai-nilai kesejahteraan masyarakat di nomor dua setelah keuntungan yang lebih besar dinikmati pihak pemodal. Demikian sebaliknya, sistem komunisme tanpa kelas dinilai gagal membuahkan kekayaan.

Korea Selatan dengan semangatnya Saemaul Undong mengajak negara-negara Asia dan Afrika berani bangkit menciptakan cara-cara strategis melawan pola ekonomi kapitalis dalam pembangunan masyarakat dan negara. Ajakan Korea bukan tanpa alasan. Sistem ekonomi kapitalis saat ini tengah menggerogoti perekonomian, seperti tergambar hadirnya perusahan raksasa Samsung yang menjerat Korea pada pola ekonomi kapitalisme. Beruntung, Korea cepat tanggap dengan menyiapkan regulasi guna membendung arus kapitalis.

Dalam acara bertajuk 2016 International Semaul Training Program for the Delegates from 8 Countries di Advanced Center For Korea Studies, Andong, Gyeongsangbuk-Do, 28 November – 9 Desember 2016 lalu, Korea mengajak delapan negara penerima manfaat program Saemaul Undong berani menggagas adanya regulasi untuk membendung arus kuat kapitalisme dengan cara membentuk asosiasi kerjasama.

Co–Representative Of Korea Agriculture and Fishery Welfare Forum, Joung Myoung Chae, memantapkan kepada delapan negara berani melawan kapitalisasi ekonomi karena tidak mengenal adanya kerjasama. Kapitalisme dipandang sekadar menghasilkan persaingan ketat yang akhirnya membuahkan peperangan. Demikian dengan pola komunisme, mendasarkan pada pembagian semua secara merata yang banyak menciptakan kemiskinan.

Acara diselenggarakan Semaul Globalization Foundation (SGF), Gyeongsangbuk-Do, Kyungwoon University Saemaul Academy dengan delapan negara meliputi Indonesia, Vietnam, Kamboja, Iran, Cote d’Ivoire (Pantai Gading), Guatemala, Laos, dan Kirgiztan, menyakinkan, asosiasi kerjasama seperti telah dilakukan Korea membangkitkan keberadaan desa dan negara.

Joung Myoung Chae menyatakan asosiasi kerjasama mendorong tidak memberi tempat bagi pihak yang bertujuan kaya sendiri, tetapi kaya secara bersama. Asosiasi didirikan dalam wujud usaha yang dimiliki bersama atau orang banyak. Cara ini juga telah dipraktikkan Inggris dan Jerman yang lebih dikenal dengan istilah cooperativism, yakni menitikberatkan pada ekonomi sosial masyarakat yang utama harus dilindungi.

Penerapan asosiasi kerjasama di Korea ditandai banyak berdiri usaha-usana oleh lima orang atau lebih. Hanya dalam kurun waktu emopat tahun terakhir asosiasi kerjasama banyak berdiri. Kini ada 10.000 usaha bersama telah berdiri. Inilah yang Joung sebut sebagai spirit Saemaul Undong yang menitikberatkan kerjasama, gotong royong dan semangat kuat untuk bertahan. Apabila sektor produk makanan saja telah dikuasi pihak lain, gejala penjajahan akan terus merambah sektor lain dalam suatu negara.

Kiat melawan sistem ekonomi kapilatalis juga disinggung narasumber lain, Direktur National Characters Studies, Dr. Ho Choi-Sang. Ia mengakui negara korea selatan maju karena kapitalisme namun lambat laun regulasi dibangun untuk melindungi pencapaian kesejahteraan rakyat Korea.

Selain pentingnya regulasi asosiasi kerjasama, Ho Choi-Sang yang berpengalaman sebagai peneliti mental rakyat Korea selama 42 tahun, faktor kebiasaan keseharian amat menentukan masa depan masyarakat hendak kaya atau miskin. Ia memparkan penelitiannya, setiap orang bisa kaya atau miskin dapat diamati dari kebiasaan keseharian. Mental sukarelawan perlu ditumbuhkan sebagai gerakan bersama dalam setiap negara. Unuk itulah faktor keberhasilan negara menjadi dapat maju dan kaya utamanya pemimpin negara dan kepala desa harus memiliki mental suka relawan kepada masyarakatnya.

Choi-Sang menyatakan mental pemimpin cukup menentukan negara bisa kaya. Hendaknya pemimpin yang baik dapat memotivasi masyarakat bekerja keras, giat dan bersemangat. Jika negara gagal menemukan pemimpin sukarelawan, bekerja keras, giat dan bersemangat, tujuan mencapai kekayaan pastinya akan gagal pula.

Ia mengajak menengok beberapa negara menganut paham komunisme tidak menjadikan negara dan masyarakatnya kaya. Ia mencontohkan negara Rusia, Korea Utara, dana pada era 1975 Laos, Kamboja, Myanmar, termasuk Filipina 40 tahun silam diamana kekayaannya melebihi Korea. Tetapi, sekarang ini Korea 10 kali lipat lebih kaya dari Filipina.

Sebaliknya, Malaysia menemukan pemimpin yang baik dan mampu menempati peringkat 16 dunia negara kaya karena berteman Singapura. Choi-Sang menyebut dua negara tersebut sejak 1982 termasuk mengaplikasikan Saemaul Undong Korea Selatan. Ia berharap negara seperti Indonesia juga dapat menemukan pemimpin yang mempunyai tujuan memajukan masyarakat dan negaranya. Pemimpin Indonesia harus mampu membuat rakyatnya bekerja keras.

Selama 42 tahun berkecimpung di dunia riset, Ho Choi-Sang mengakui jika musim atau cuaca membawa pengaruh. Cuaca panas dapat berdampak produksi rendah. Korea sendiri kondisi alamnya buruk tetapi mendorong orang tertarik melakukan penelitian. Maka ditemukan solusi, para petani membuat koperasi agar bisa mengontrol pasokan barang dan permintaan.

Dari pertemuan menghadirkan delapan negara penerima manfaat program Saemaul Undong, Korea berharap peserta kembali turun ke desa dan mulai membantu rakyat menemukan sosok pemimpin yang dapat merubah mental dan sikap bekerja, punya visi yang kuat menentukan arah pembangunan desanya. Korea berkomitmen negara mitra program dapat memiliki instruktur lebih banyak dapat menerapkan semangat Saemaul Undong di mana saja. Masyarakat yang mendapat edukasi Saemaul Undong hendaknya merubah sikap menjadi sukarela, dan bekerja untuk masyarakat.

Pada acara tersebut juga dihadirkan relawan dari Myanmar, Kim Youngmo, untuk berbagi pengalaman ketika dirinya berada di Sulawesi Indonesia. Ia menawarkan ada enam solusi untuk memajukan bidang pertanian di Sulawesi meliputi pemilihan bibit yang bagus, pembuatan pola pertanian terasiring, pengembangan tanaman obat, peremajaan, alat pertanian, pola tunda jual. Terakhir, membangun asosiasi kerjasama yang belum banyak diyakini dapat semakin mendekatkan kesejahteraan masyarakat. (ETG)