Gunungkidul (13/02) – Mata air Jambe di Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY, menjadi salah satu sumber air yang berpotensi mengatasi persoalan krisis air. Pemerintah Desa Bleberan, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Sejahtera, saat ini sedang berjuang mengoptimalkan sumber mata air berada di kawasan hutan negara sebagai sumber kehidupan. Optimalitasi mata air Jambe sebagai salah satu layanan air bersih Desa Bleberan ke depan akan didorong dapat mencakup masyarakat lebih luas.

Yayasan Penabulu menjadi mitra Pemerintah Desa Bleberan pihak yang dilibatkan mewujudkan program tersebut. Satu tahap telah diselesaikan pemerintah desa, yakni memprioritaskan program optimalisasi pengelolaan sumber mata air Jambe dengan menargetkan dapat beralihnya teknologi dari sistem penggunaan bahan bakar solar menjadi tenaga listrik. Adapun target waktu pekerjaan ini selesai pada tahun 2017.

Pipa utama yang mengalirkan air dari bak penampungan utama di lokasi sumber mata air Jambe menuju bak penampungan di pusat Desa Bleberan.

Pemerintah Desa Bleberan dan BUM Desa Sejahtera melakukan studi lapangan perdana yang dilaksanakan pada hari 8 Februari 2017 dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tahap ini meninjau keberadaan hulu mata air dan sistem kerja lokasi yang sudah dikelola Unit Pengelolaan Air Bersih (PAB) bagian dari layanan usaha Bumdes Bleberan kepada melayani kebutuhan air 600 pelanggan warga masyarakat Bleberan. Selain melihat kualitas air, stabilitas debit air menjadi fokus tim dari UNY dipimpin Dr.Ing. Satoto E. Nayono, M.Eng., M.Sc.

Satoto E. Nayono mengatakan, tinjauan lokasi pertama belum dapat kesimpulan mendalam. Pasalnya memang perlu tahap yang panjang untuk melihat kapasitas dan debit air sumber Jambe. Pihaknya masih melihat sekitar sumber dan cara kerja distribusi.

“Tahap awal ini kami ingin melihat dulu sejauh mana kualitas air dan kapastias tangkapan airnya. Ini kami lakukan dengan beberapa cara baik pengamatan langsung sumber seperti kami lakukan hari ini juga mendengar keterangan masyarakat pengguna atau pelanggan sebagai pihak yang setiap hakri memanfaatkan,” kata Satoto kepada tim Desa Lestari, Penabulu.

Selanjutnya, tim akan banyak mengkaji data awal untuk melanjutkan kunjungan tahap kedua yang memastikan kapasitas debit air sumber Jambe dalam setiap detiknya. Pada tahap studi lanjutan kedua, tim dari UNY baru menggunakan berbagai peralatan pendukung untuk mendapatkan akurasi debit air. Cara ini juga belum bisa dikatakan final karena memang harus dilakukan berulang-ulang pada kondisi musim yang berbeda.

“Debit air per detik pada musim penghujan tentu akan berbeda dengan debit air pada saat musim kemarau. Ini perlu diketahui agar membantu dalam tata kelola distribisi dan manajeman pengelolanya,” imbuh Satoto.

Di pengamatan pertama, Satoto menemukan jika debit sumber air Jambe diprediksi mencapai 16 liter per detik. Prediksi awal debit ini perlu mendapat perhatian khusus agar dilakukan upaya-upaya untuk menjaga debit, karena urusan pelayanan penyediaan air tentu harus mengutamakan manajemen dan tata kelola distribusi air sampai ke pelanggan tetap stabil, sehingga kebutuhan air setiap hari terpenuhi.

Pada kunjungan pertama ini, Satoto mendapatkan kesimpulan awal bahwa air dari sumber mata air Jambe ini masih banyak yang terbuang sia-sia. Sumber yang potensial ini belum secara optimal ditampung dalam bak yang lebih besar. “Kelihatannya memang masih perlu bak penampungan tambahan agar air tidak hanya terbuang,” ujar Satoto.

Dari seluruh dusun yang ada di Desa Bleberan sudah semua menikmati sumber air. Adapun tiga dusun lain diluar layanan BUM Desa Sejahtera lebih dulu inisiatif membuat kelompok pengguna air dari sumber ini. Kepala Desa Bleberan, Supraptono, mengakui jika selama ini fokus pelayanan air bersih warga desa baru terletak pada tata kelola manajemen pengelola, yang di dalamnya mencakup sistem pengaturan distribusi air dari hulu sampai diterima masyarakat harus tersedia setiap waktu dan setiap jam.

“Ini yang musti kami persiapkan kedepan nanti agar pasokan air setiap jam setiap hari bisa stabil,” kata Supraptono.

Menurutnya, Pemerintah Desa Bleberan perlu memastikan debit air sumber air Jambe untuk rencana alih teknologi BBM ke tenaga listrik dengan melibatkan ahli dari UNY, mengingat alih teknologi memerlukan biaya besar kepastian debit air harus diperoleh secara detail. Satu sisi, pihaknya harus mempersiapkan BUM Desa Sejahtera agar tata manejemen dapat lebih baik lagi dalam pelayanan maupun pengelolaan.

Untuk mewujudkan cita-cita Desa Bleberan dan BUM Desa Sejahtera dalam mengoptimalkan sumber air Jambe sebagai sumber kehidupan, Pemerintah Desa Bleberan bekerjasama dengan Yayasan Penabulu, Universitas Gajah Mada (UGM), serta Semaul Globalization Foundation (SGF) Indonesia Office.

Kebutuhan 500 Juta Rupiah
Rencana program optimalisasi sumber mata air Jambe dengan alih fungsi teknologi BBM ke tenaga listrik merupakan rencana lama BUM Desa Sejahtera Bleberan. Badan Pengawas BUM Desa Sejahtera, Taufik Ari Wibowo, menyatakan sudah pernah melakukan konsultasi awal dengan pihak PLN Wonosari perihal kebutuhan totol biaya alih teknologi tersebut.

Menurut Taufik, pihak PLN Wonosari telah memberikan gambaran taksiran kebutuhan alih fungsi sampai pemasangan memerlukan biaya kisaran 500 juta rupiah. Biaya sebesar itu akan digunakan untuk mendirikan beberapa titik gardu listrik di sepanjang jalur sumber Jambe sebagai satu-satunya tenaga yang digunakan dalam distribusi air ke pelanggan.

“Ya sekitar 500 juta rupiah kebutuhan alih teknologi itu tapi detailnya masih perlu dibahas lagi dengan PLN,” pungkas Ketua Unit PAB BUM Desa Sejahtera, Udi Waluyo.

Sebagai pengingat, krisis air masih menjadi predikat yang melekat bagi Kabupaten Gunungkidul, DIY, sampai tahun 2017 ini. Setiap musim pada musim kemarau panjang tiba, Pemkab Gunungkidul harus menyediakan kebijakan pasokan air. Data yang diperoleh tim Desa lestari Penabulu, tercatat terdapat puluhan desa yang mengalami krisis air saat kemarau panjang. Puluhan desa tersebut berada di beberapa kecamatan meliputi Kecamatan Girisubo, Tanjungsari, Saptosari, Panggang, Ngawen, Rongkop, Purwosari. Paling parah dilanda krisis air akibar kemarau panjang yakni Kecamatan Tepus. (ETG)