Budi Susilo memaparkan tahapan pembentukan dan pendirian BUM Desa kepada perangkat desa dan masyarakat Desa Ngawis.

Gunungkidul (28/02) – Cerita sukses tentang kiprah Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) mengundang minat di beberapa desa Kabupaten Gunungkidul, DIY. Bumdes diharapkan bukan hanya menggenapi instruksi pemerintah, melainkan menjadi salah satu pintu dalam mewujudkan percepatan kesejahteraan masyarakat desa.

Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo dan Desa Giripanggung, Kecamatan Tepus, berada di Kabupaten Gunungkidul merupakan dua desa yang pada tahun 2017 ini tengah berjuang merintis BUM Desa agar kedepan semakin menggeliat. Upaya serius dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah DIY dan kecamatan setempat. Kedua desa belajar dasar filosofis pendirian BUM Desa, tata aturan, dan menggali potensi masyarakat dengan mendatangkan tim Desa Lestari Yayasan Penabulu sebagai mitra belajar.

Di Desa Ngawis, belajar BUM Desa dilaksanakan pada Hari Selasa (21/02). Kepala Desa Anjar Kurniawan mengundang seluruh kepala dusun, lembaga desa, dan tokoh aktivis desa agar pengetahuan mengenal bumdes dari tim Desa lestari Yayasan Penabulu bertambah. Eko Sujatmo dan Henricus Hari Wantoro, diterjunkan membantu mengungkap potensi belasan dusun yang ada.

Para peserta diajak memetakan potensi masing-masing dusun untuk menemukan potensi sumber daya desa seperti kelompok seni budaya, kepemudaan, produk olahan pangan, pertanian, hingga perdagangan. Selanjutnya potensi yang muncul hendak ditangkap desa sebagai salah satu peluang pasar. Satu catatan disampaikan Henri dan Eko kepada peserta, jenis usaha desa hendaknya memang yang bukan telah dilakukan masyarakat desa. “Prinsip utamanya usaha yang akan dipilih desa nanti jangan sampai mematikan usaha warga yang sudah lebih dulu ada,” kata Eko dalam sesi tanya jawab.

Menurut Eko, desa hendaknya cermat akan prinsip tersebut. Terlebih, Desa Ngawis berada disebelah  Desa Bejiharjo yang sudah terkenal pariwisata Gua Pindul. Kondisi itu hendaknya harus semakin percaya diri dalam menangkap potensi usaha seperti produk industri kerajinan dan hingga kesenian dan kebudayaan.

Kepala Desa Ngawis, Anjar Kurniawan, mengatakan, potensi paling besar yang ada didesanya adalah sektor pertanian. Ada 1.400 kepala keluarga, 70 persen diantaranya, bergantung dari sektor pertanian seperti padi, sayuran, peternakan. Selain itu ada beberapa warganya hidup dari industri kerajinan bambu. “Pemuda malah sudah jalan dibidang pertanian sayuran jenis cabai,” ujar Anjar.

Namun demikian, Anjar melihat, petani Desa Ngawis selama ini masih sangat kesulitan mendapat daya dukung ketersediaan fasilitas tanam. Obat-obatan pertanian seperti umumnya disediakan toko tani petani Ngawis harus keluar beli diluar desa lain. “Mungkin itu yang bisa ditangkap sebagai peluang BUM Desa nanti,” imbuhnya kepada tim Desa Lestari.

Kehadiran desa sendiri pada tahun lalu sudah mulai terasakan. Beberapa kegiatan kepelatihan desa yang didanai dari Dana Desa menyasar kelompok tersebut. Namun demikian, inventarisasi potensi desa untuk rintisan BUM Desa Ngawis ini masih perlu didalami agar pendirikan BUM Desa tidak sekadar menjadi kegiatan jangka pendek, tetapi juga memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat yang mendatangkan keuntungan bersama.

Kegiatan belajar BUM Desa di Desa Giripanggung, Kecamatan Tepus, dilaksanakan keesokan harinya, Rabu (22/02) lalu tidak jauh berbeda. Desa yang berada di sebelah utara Samudera Hindia ini mengundang tokoh masyarakat, kelompok perempuan dan perwakilan lembaga desa.

Diskusi regulasi dan berbagi cerita implementasi BUM Desa di wilayah lain, banyak potensi terungkap dari belasan dusun. Dari mulai tiga telaga, produk perajin gula jawa, hingga dusun yang dianggap strategis untuk kemungkinan pendirian rest area untuk menangkap membludaknya pariwisata Gunungkidul setiap akhir pekan.

Namun demikian, rencana rest area yang sudah dicita-citakan dua tahun tersebut perlu dipertimbangkan ulang. Selain memerlukan modal besar perlu dikaji secara serius tingginya akses jalur pantai di Gunungkidul melalui desa Giripanggung.

Kepada Desa Giripanggung, Heri Purwanto, mengapresiasi potensi semua dusun yang muncul dalam kegiatan tersebut. Telaga, gula jawa, UKM produksi tas, makanan olahan seperti ceriping, harus direspon sebagai peluang baru. Desa Giripanggung, menurut kades, memiliki wilayah pegunungan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan wahana permainan dan olah raga alam. Beberapa produk alat pertanian juga menjadi pelengkap, termasuk produk tempe, abon, stik pepaya, dan stik labu yang perlu lebih dicarikan formula baru untuk produk yang lebih menarik lagi.

Sekretaris Camat Karangmojo, Rahmadian, menyambut baik peran LSM seperti Penabulu yang membantu desa-desa di Gunungkidul dalam implementasi UU Desa. Ia berharap, peran Penabulu lebih sentral di Gunungkidul hingga desa mampu menemukan usaha desa dan tata kelola manajemen yang baik. (ETG)