Sosialisasi pendirian BUM Desa di Balai Desa Jepitu, Rabu (26/07).

Gunungkidul (27/07) – UU Desa mengamanatkan pentingnya pendirian badan usaha milik desa atau BUM Desa. Mesti amanat tersebut tidak bersifat wajib atau harus, pemerintah memiliki alasan konsep pembangunan perokonomian desa melalui BUM Desa dengan tujuan agar semakin mendorong laju pertumbuhan perekonomian desa yang dapat segera terasakan.

Menyadari sumber daya alam yang dimiliki berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat desa, Pemerintah Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, DIY, mempersiapkan diri badan bisnis, BUMDes. Persiapan Desa Jepitu terlihat dari keseriusan Pemerintah Desa menggandeng masyarakat berbagai elemen untuk belajar bersama tentang apa dan bagaimana BUM Desa bertempat di balai desa setempat, Rabu (26/07). Dari dasar konseptual bisnis usaha hingga tata regulasi yang mengatur  BUM Desa mulai disosialisasikan untuk daya dukung masyarakat desa Jepitu.

“Kami tidak ingin nanti sekadar mendirikan BUM Desa. Tapi badan usaha desa yang benar-benar berjalan dan memberi nilai tambah pendapatan desa dan masyarakat,” kata Kepala Desa Jepitu, Sarwana, dalam sambutan kegiatan sosialisasi, kemarin. Ia meyakini, konsep BUM Desa cukup efektif untuk ke depan menjadi kepanjangan tangan Pemerintah Desa dalam memajukan perekonomian masyarakat.

Sekretaris Camat Girisubo, Alsito, mengapresiasi kegiatan sosialisasi BUM Desa di Desa Jepitu. Selain memang amanat UU, Alsito menegaskan, BUM Desa perlu didorong tumbuh dan dapat berperan strategis di setiap desa. Ia tidak menampik, dari sebanyak 144 desa di Kabupaten Gunungkidul, belum separuh desa-desa tersebut memiliki BUM Desa. Kenyataan itu menjadi fokus perhatian Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui kecamatan yang akan memfasilitasi berdirinya BUM Desa di banyak desa untuk pengembangan potensi dan perekonomian warga.

Ia menceritakan, sebelum ada UU Desa Gunungkidul sudah memiliki produk Peraturan Daerah yang mengatur tentang BUM Desa. Ada beberapa desa yang sejak itu sudah menggagas terbentuknya badan usaha, sehingga pendapatan asli desa dapat terdongkak dari hasil usaha yang dikerjakan. 

“Tidak ada kata terlambat bagi desa-desa lain di Kecamatan Girisubo ini. Terlebih secara geografis, desa di Kecamatan Girisubo ini berada di zona kawasan pantai selatan. Tentu akan lebih banyak peluang yang bisa diolah bersama,” ungkap Alsito.

Tim Desa Lestari dan Yayasan Penabulu, secara khusus digandeng Javlec dan Pemerintah Desa Jepitu untuk terlibat merintis BUM Desa. Selanjutnya, sebagai awal pertemuan membahas BUM Desa, beberapa konsep dasar BUM Desa dipaparkan kepada masyarakat yang hadir.

Terdapat ruang diskusi dan tanya jawab antara masyarakat dengan fasilitator dari Penabulu, Endro Tri Guntoro, setelah seluruh materi BUM Desa disampaikan dalam 90 menit. Peserta bernama Sarmun, mengharapkan sektor pertanian menjadi fokus usaha yang dibidik BUM Desa Jepitu. Ungkapan Sarmun ini bukan tidak beralasan. Mayoritas masyarakat Desa Jepitu atau 90 persen warganya merupakan petani tadah hujan.

“Saya berharap BUMDes nanti dapat menyasar perlindungan terhadap produk pertanian palawija. Selama ini kami dipermainkian tengkulak. Harga selalu dibeli murah,” ujar Sarmun.

Endro mengatakan, secara konsep memang usaha BUM Desa cukup memungkinkan bergerak di sektor perdagangan produk pertanian seperti palawija. Membeli hasil panen petani palawija dengan harga yang tidak membuat petani merugi sesungguhnya menjadi peluang cerdas BUM Desa. Tentu dengan kemampuan pengelola BUMDes yang harus cermat dalam membaca kebutuhan pasar palawija. Endro mencontohkan, khusus produk palawija kedelai di Gunungkidul menjadi salah satu peluang besar bagi petani dan BUM Desa. Pengamatan dilakukan Penabulu di empat lokasi sentra perusahaan tahu di Desa Kepek Wonosari, para pengusaha terkendala keterbatasan mendapatkan kedelai lokal bahan baku terbaik untuk memproduksi tahu. Karena adanya penurunan produksi pertanian kedelai lokal, para mengusaha harus bergantung kedelai import (Amerika) dan harus didapatkan dari luar DIY.

“Tentu kenyataan tersebut menjadi peluang besar untuk BUM Desa dan petani palawija untuk kembali giat memproduksi tanaman kedelai. Terlebih setiap perusahaan rata-rata membutuhkan bahan baku kedelai empat kuintal per hari untuk kebutuhan tahu seluruh pasar di Gunungkidul,” tutur Endro menekankan perlunya analisa perencanaan bisnis yang kuat agar BUM Desa tidak sekedar dibentuk tapi mati muda.

Sementara itu, mewakili kelompok sadar wisata setempat mendukung rencana pembentukan BUM Desa Jepitu. Selama ini memang sejumlah lokasi tempat wisata telah dikelola secara swadaya. Namun demikian dengan adanya BUM Desa nanti akan lebih memperkuat legalitas usaha pariwisata.

PJ Sekretaris Desa, Sukaja, menyatakan meskipun kehadiran kelompok perempuan dalam sosialisasi BUM Desa kemarin masih terlihat minim, akan tetapi Pemerintah Desa Jepitu akan terus mengoptimalkan sosialisi. Melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Dukuh, tokoh masyarakat, Ketua RT, LPMD, dan kelompok pemuda, rencana BUM Desa perlu sampai kepada masyarakat Jepitu lebih luas.

Diakui Sukaja, usaha peternakan sebagai daya dukung usaha pertanian masyarakat juga mulai banyak masukan. BUM Desa diharapkan dapat mengucurkan program ternak komunal kelompok sapi selain sektor pariwisata. Hasilnya pengelolaan ternak selanjutnya dapat dinikmati tidak hanya pemasukan pendapatan bagi BUM Desa ke pendapatan asli desa, tetapi juga kelompok tani penerima manfaat. Tentu hal ini perlu pendampingan intens usaha agar disiplin pemeliharaan dan terhindarkan dari kerugian.

Sukaja menambahkan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan BPD untuk penentuan jenis usaha yang akan dibidik BUM Desa dan membentuk tim penyusun pengurus atau pengelolanya. “Dalam pekan-pekan depan kami targetkan sudah Musdes pertama agar ini bisa berjalan cepat. Target kami tahun ini BUM Desa sudah bisa mulai beroperasi,” pungkas Sukaja. (ETG)