Kegiatan kelompok wanita tani Mekar Dusun Gading V, Playen, Gunungkidul dalam pengelolaan tanaman sayuran.

Gunungkidul (09/08) – Gubuk kecil di tengah dusun itu tampak lebih ramai dari biasanya. Perempuan-perempuan berpakaian santai tampak akrab berkumpul. Jumlah mereka lebih dari belasan orang. Lebih banyak dari sore-sore sebelumnya. Ada perempuan yang datang membawa ceret menyiapkan minuman teh panas dan camilan makanan ringan. Ada yang sibuk menyiangi rerumputan. Ada yang memperbaiki pagar pekarangan. Ada yang wira-wiri menarik selang saluran air. Ada yang mengecek satu per satu pot tanaman yang berderet rapih. Itulah pemandangan sore beberapa hari yang lalu, saat Tim Desa Lestari Yayasan Penabulu bertandang ke Dusun Gadung V, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Perempuan-perempuan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Dusun Gading V tampak bersemangat berkebun.

“Mari silahkan datang, Pak. Ini kegiatan pertanian kecil-kecilan yang kami kerjakan bersama-sama. Sekedar untuk kegiatan ibu-ibu sore hari,” kata seorang dari mereka menyambut Tim Desa Lestari yang memang tidak ada janjian sebelumnya.

Ibu diketahui bernama Natalia Suminem, adalah Ketua KWT Mekar, yang akhirnya memperkenalkan kepada teman-teman perempuan lain tengah beristirahat di gubuk kecil untuk perkumpulan sore tersebut. Dari keramahan beliau, dihantarlah kami untuk masuk lokasi tanam lebih alam untuk melihat beberapa tanaman jenis sayuran. Dari mulai beragam jenis tanaman cabai putih, merah, hijau, keriting, bunga kol, sawi, kacang panjang, gambas, kangkung, boncis, terung, hingga tanaman kubis yang ternyata bermacam warna. Semuanya diperkenalkan kami dengan baik, mulai dari manfaat konsumsi, kandungan gizi, usia tanaman, sampai teknik tanam yang masing-masing jenis butuh perlakuan yang berbeda-beda.

“Semua yang ditanam disini bisa dikonsumsi sebagai pangan sayuran keluarga,” ujarnya sembari menjelaskan jenis kubis ungu selama ini cukup asing dijumpai di pasar.

Memang ada beberapa jenis tanaman buah di lokasi lahan tanam KWT terbilang belum lama didirikan ini, meskipun jumlahnya tidak begitu banyak seperti beberapa jenis buah mangga.

Musim kemarau seperti ini tanaman sayuran harus mendapatkan perhatian yang lebih. Asupan air bagui tanaman harus memadai dan pemantauan secara rutin agar tanaman bebas dari berbagai gangguan serangan tanaman bisa diatasi. Untuk kebutuhan pemeliharaan itulah, perempuan-perempuan Mekar setiap sore secara bergiliran bertugas melakukan perawatan atau pemeliharaan rutin.

Pemeliharaan meliputi menyiangi rumput liar, penyiraman tanaman, pengecekan gangguan tanaman, penambahan pupuk organik, hingga memeliharan keamanan lokasi sekitar menjadikan perempuan-perempuan dusun ini terlihat lebih tenang, lebih siap dan lebih berdaya yang sewaktu-waktu harga pangan meroket.

Lokasi hijau yang menjadi lahan demplot pertanian sayuran ini semula termasuk lahan tidur. Pekarangan pribadi yang tidak produktif yang ternyata dapat diolah menjadi lahan hijau dan mendatangkan manfaat keuntungan bersama.

Singkat ceritanya, sekitar dua tahun silam, dua bersaudara pegiat pertanian setempat bernama Heru Prasetyo dan Marsudi merintis Gerakan Perempuan Dusun Menanam Sayuran. Mereka jatuh bangun memulai gerakan menciptakan kawasan hijau ini, ibu-ibu satu demi satu mulai terpikat. Terlebih, kegiatan bertanam sayuran mulai dirasakan manfaatnya mendukung ekonomi keluarga saat harga pangan di pasar sedang tidak bersahabat. Ketertarikan ibu-ibu akhirnya terwujud melalui fasilitasi dilakukan Heru, yang juga tenaga penyuluh pertanian Pemkab Gunungkidul, dan Kepala Dusun Ngadirejo, Yusuf, untuk membentuk KWT Dusun Gading V.

Mesti saat itu terbilang kelompok baru, KWT Mekar yang beranggotakan 45 perempuan mulai menunjukkan prestasi panennya yang dapat dirasakan warga maupun terjual pedagang sayuran kelilingan. Bahkan pada tahun 2016 lalu, KWT ini menyabet dua kejuaraan yakni juara ketiga masak sayur lombok ijo diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan juara ketiga tingkat DIY untuk cipta menu bahan pangan lokal. Dari tiga kali panen, kualitas produk sayuran mengalami peningkatan. Bahkan sampai hari ini keberadaan dan aktivitas KWT Mekar kerap menjadi tempat belajar pendidikan pertanian bagi komunitas perempuan dan PKK di Gunungkidul.

Marsudi, yang mendampingi Mekar ini mengatakan, ada kesadaran masyarakat yang mulai muncul dari gerakan ini. Dari kelompok ibu-ibu yang sudah merasakan hasil dan manfaatnya, kini kelompok pemuda tengah menyiapkan demplot tak jauh dari lokasi tanam kolektif KWT Mekar.

Peluang pasar sayuran di Gunungkidul, imbuh Marsudi, memang cukup luas. Masih banyak produk pertanian sayuran harus dibergantung pasokan dari luar DIY karena ketersediaan produk lokal belum bisa menjangkau. “Yang menggembirakan masyarakat dusun kami sekarang sudah mulai tergerak  memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk tanam sayuran seperti cabai terong dan kacang,” imbuh pegiat pembibitan.

Marsudi optimis usaha pertanian sayuran masih menjadi peluang terbuka luas untuk dirintis di tempat-tempat lain di Gunungkidul sejalan menungkatnya kecerdasan masyarakat akan konsumsi pangan yang aman dan sehat seperti sayuran.

Tak terasa, teh panas dituangkan perempuan-perempuan Mekar dalam gelas genggaman tangan sore itu sudah ketiga kalinya harus kami habiskan, sebelum menikmati peristiwa senja menyambut malam dan mengakhiri perjumpaan dengan perempuan-perempuan mekar di kebun sayuran. (ETG).