Masing-masing perwakilan kampung mendiskusikan potensi ekonomi kampung.

Merauke (15/09) – Badan Usaha Milik Kampung (BUM Kampung) menjadi hal yang asing bagi desa atau kampung di Merauke. Padahal kampung-kampung di kabupaten ujung timur ini menyimpan potensi sumber daya yang sejatinya mampu menghidupi kampung.

Badan Restorasi Gambut (BRG) yang membawa misi untuk merestorasi kawasan gambut agar tidak mudah terbakar dan menjadi area yang produktif. Wilayah kerja BRG dalam memulihkan gambut Indonesia berada di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Lahan gambut Indonesia adalah salah satu yang terluas dan menjadi area paru-paru dunia. Kejadian kebakaran hutan di sebagian Sumatera dan Kalimantan pada 2015 telah merusak ratusan ribu hektar lahan gambut, yang mengakibatkan kerusakan ekosistem hutan.

Salah satu program kerja BRG untuk mempercepat restorasi gambut adalah Desa Peduli Gambut, yang turut menyelaraskan pembangunan desa di kawasan gambut, termasuk di dalamnya pemberdayaan ekonomi desa. Seiring dengan prioritas Kementerian Desa PDTT, salah satu aktivitas program Desa Peduli Gambut adalah mendorong terbentuk dan terkelolanya Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), sehingga lahan gambut pun dapat dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan perekonomian desa.

Penguatan kapasitas BUM Desa dimulai dengan serial pelatihan yang digelar di tiga wilayah yaitu Papua, Sumatera, dan Kalimantan. Bertemakan “Mengungkit Potensi Desa untuk Membangun Ekonomi Desa di Kawasan Gambut,” BRG memilih Papua sebagai wilayah pertama untuk mengawali kegiatan Pelatihan Pengembangan Badan Usaha Milik Kampung (BUM Kampung). Pelatihan berlangsung pada 11-14 September 2017 dipusatkan di Kabupaten Merauke, dengan melibatkan tiga kampung dampingan BRG yaitu Kampung Kaliki, Kampung Sumber Rejeki, dan Kampung Sumber Mulya. Ketiganya dari Distrik Kurik, barat laut ibukota kabupaten. Selama empat hari, pelatihan diikuti oleh 18 peserta dari unsur pemerintah kampung, pelaku ekonomi kampung, tokoh adat, kelompok kaum muda, dan fasilitator kampung.

Dalam penyelenggaraan Pelatihan Pengembangan BUM Kampung di Merauke, BRG menggandeng Yayasan Penabulu untuk menjadi trainer selama kegiatan berlangsung. Setelah mengikuti pelatihan, BRG mengharapkan perwakilan dari Kaliki, Sumber Rejeki, dan Sumber Mulya dapat memahami pentingnya BUM Kampung dalam proses pembangunan desa dan revitalisasi ekonomi masyarakat dalam kerangka restorasi gambut.

Nurul Purnamasari dan Sri Purwani, mengantarkan materi pelatihan melalui interaksi yang dinamis dan terbuka. Hal utama yang ditekankan adalah merujuk pada UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa menyatakan jika desa dapat membentuk dan memiliki BUM Desa. Tidak ada kata wajib dalam pasal 87 tersebut. Namun keberadaan BUM Desa atau BUM Kampung menjadi penting untuk mulai mewirausahakan desa.

“Tidak ada jaminan sampai kapan Dana Desa atau Dana Kampung akan bergulir ke lebih dari 74 ribu desa di Indonesia. Maka sebagai antisipasinya melalui pembentukan BUM Kampung sejak dari sekarang,” ungkap Nurul.

Ketiga kampung yang menjadi lokasi dampingan BRG di wilayah Papua memiliki karakteristik masyarakat dan alam yang berbeda. Kampung Kaliki merupakan desa adat yang berpenduduk masyarakat lokal dengan area tinggal di tengah hutan dan bermata pencaharian berburu. Sedangkan Kampung Sumber Rejeki dan Sumber Mulya adalah desa eks-trans dari Jawa yang mengandalkan pertanian dan wirausaha sebagai sumber penghidupan sehari-hari. Dalam pemetaan potensi sumber daya kampung, terungkap jika ketiga kampung ini menyimpan segudang sumber daya yang dapat dioptimalkan sebagai penggerak perekonomian kampung. Sebut saja kopi, sagu, ikan gastor, dan bebek rawa sangat mudah dijumpai di Kampung Kaliki, namun tidak dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. Sedangkan kelapa, mangga, dan mete berlimpah di Kampung Sumber Rejeki dan Sumber Mulya kebanyakan berakhir sebagai pakan sapi.

“Masyarakat sebenarnya tahu kalau kopi, mangga, dan mete di luar kampung harganya tinggi. Tapi bagaimana memprosesnya dan menjualnya, itu yang selama ini belum ada jalan keluarnya,” ujar Yunas, Fasilitator Kampung Sumber Rejeki, di sela-sela pelatihan.

Jauhnya jarak antara kampung dengan distrik (kecamatan) dan ibukota kabupaten menjadi hambatan dalam pemasaran hasil alam. Selain itu, keterbatasan akses informasi menambah terisolirnya kampung-kampung yang berjarak dua jam dari Merauke. Dalam pelatihan BUM Kampung, mereka mendapatkan motivasi dan informasi baru mengenai pengelolaan usaha yang mudah dan ramah lingkungan.

Waktu pelatihan selama empat hari dirasa belum mencukupi bagi perwakilan tiga kampung. Ketika memasuki sesi pemetaan potensi ekonomi desa, pikiran dan energi mereka mulai terbuka dan berkembang semakin riil.

“Kami senang ada pelatihan yang membuat pikiran bergerak. Selain tidak sempat ngantuk, kami jadi lebih tahu apa yang harus dilakukan di kampung. Pulang dari pelatihan, saya akan uji coba produksi nata de coco, sembari menjalani proses-proses musyawarah kampung untuk membentuk BUM Kampung,” kata Syamsudin, pemuda dari Kampung Sumber Mulya.

“Melihat hasil pemetaan potensi desa, ternyata kampung-kampung tersebut menyimpan sumber daya yang bernilai ekonomi tinggi. Ini yang perlu digerakkan bersama. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (PMK) Merauke sudah berkomitmen untuk mendukung pengembangan BUM Kampung model di Kaliki, Sumber Rejeki, dan Sumber Mulia,” tutur Anna Christina Sinaga, Tenaga Ahli Kedeputian Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

Berakhirnya pelatihan, menjadi sebuah awalan dari perjalanan panjang yang akan dijalani tiga kampung dampingan BRG sebagai model. Berkembangnya BUM Kampung menjadi sarana untuk mendukung restorasi gambut di tiga kampung dampingan BRG di Papua dan memperkuat perwujudan cita-cita membangun Indonesia dari pinggiran. (NP)