Diskusi kelompok Desa Dabong dalam perencanaan usaha BUM Desa. Ekowisata menjadi pilihan untuk dikembangkan lebih lanjut.

Banjarbaru (04/10) – Akses transportasi jalur sungai tidak menjadi hambatan memajukan perekonomian masyarakat di Desa Dabong, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kendala tersebut justru ditempatkan para pegiat pembangunan desa di Dabong untuk memikat para pengunjung yang hendak menikmati Indonesia dari sisi lain, yang selama ini cukup dikenal sebagai salah satu negara dengan hiruk pikuk dan kemacetan seperti kerap dijumpai di kota-kota besar dalam pertumbuhan daerah provinsi. Desa Dabong hendak menyajikan sesuatu yang berbeda, yakni dengan membangun perekonomian melalui ekowisata alam Dabong.

“Kami memiliki nilai alam Indonesia yang masih asri. Ada pantai, suasana keheningan alam desa dan didukung sektor potensi perikanan yang masih cukup kaya,” kata Zainal Anwar, aktivis pertanian dan pembangunan masyarakat di Desa Dabong dalam kegiatan Pelatihan Pengembangan BUM Desa bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut Region Kalimantan, yang dipusatkan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan selama sepekan.

Sarjana desa dari fakultas hukum itu membeberkan potensi sumber daya alam yang ada di desa tinggalnya cukup menjanjikan untuk dipersiapkan sebagai salah satu destinasi wisata alam Indonesia yang selama ini belum banyak dipikirkan oleh masyarakat awam. Potensi tersebut seperti alam desa yang cenderung masih asri, desa yang memiliki pantai, pelabuhan, hutan mangrove, hasil tangkapan kepiting, kelestarian masyarakat adat percampuran kebudayaan dayak dan melayu, semuanya menjadi modal besar pokok yang bisa dipersiapkan desa yang layak dikunjungi wisatawan luar daerah.

“Tinggal mempersiapkan penataan kawasan yang lebih tergarap lagi seperti konservasi kawasan hutan mangrove. Selain itu kesiapan masyarakat setempat di desa untuk membuka tempat tinggalnya sebagai homestay bagi pengunjung yang hendak menikmati kehidupan desa di Dabong. Ini yang utama,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (gapoktan) turut menyumbangkan pemikiran merintis usaha wisata desa.

Dalam diskusi perencanaan usaha wisata desa tersebut setidaknya membutuhkan modal awal sekitar Rp 150juta untuk menjangkau berbagai kebutuhan persiapan awal usaha. Modal tersebut digunakan untuk pembenahan infrastruktur pendukung, pembangunan infrastruktur pendukung wisata, koordinasi dan persiapan tim operasional layanan jasa wisata, kegiatan-kegiatan kerjasama untuk promosi wisata hingga upaya konservasi hutan mangrove yang menjadi salah satu daya tarik Dabong.

Dalam pelatihan ini, Desa Dabong mewakilkan peserta dari unsur pemerintah desa, Pengurus BUM Desa, tokoh masyarakat, dan tenaga pendamping atau fasilitator Desa Dabong dari BRG. Peserta dari Desa Dabong menilai, ada harapan yang muncul dari Desa Dabong dengan mengelola dan melestarikan wisata kawasan gambut yang selama ini terkesan terabaikan. Secara ekonomis pengelolaan ekowisata dapat menambah pendapatan asli desa serta pendapatan masyarakat, juga nilai perkembangan sosial. Selain itu, wisata cukup menjanjikan dapat menciptakan multi efek yang lebih luas bagi pengembangan usaha mikro yang ada di masyarakat.

Kepala Desa Dabong, Purwanto, membenarkan jika desanya memiliki sumber daya alam yang cukup potensial untuk dibangun melalui sektor pariwisata desa. Hanya saja, memang perlu kesiapan tim yang solid dalam mendukung impian tersebut. Menurutnya, yang paling penting adalah kesiapan masyarakat Dabong sendiri untuk mematangkan berbagai perencanaannya. Pasalnya, lanjut Purwanto, masalah kebersihan dan kenyamanan desa bagi setiap pengunjung nantinya harus menjadi hal yang paling dikedepankan.

“Pariwisata merupakan bisnis jasa layanan sehingga harus dipersiapkan secara matang dari masyarakat desa sendiri. Prinsip kami di pemerintah desa sepakat sumber daya alam di Dabong ini untuk dikemas sebagai daya tarik wisatawan,” ujar Kades Dabong yang merupakan transmigran asal Purbalinga.

Menurut Purwanto, ada empat potensi lain yang dimiliki Desa Dabong selain sumber daya alam yang dilirik kalangan anak muda untuk dikemas sebagai usaha wisata desa, yaitu Tambat Labuh, Pasar Desa, serta budidaya produk perikanan dan pertanian.

Kegiatan pelatihan difasilitasi Pemerintah Badan Restorasi Gambut (BRG) yang telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Penabulu. Pelatihan untuk Region Kalimantan berlangsung selama sepekan di Banjarbaru Kalimantan Selatan, 2 – 7 Oktober 2017. Tidak hanya pelatihan bertujuan menggali dan merintis perencanaan usaha desa guna memperkuat peran BUM Desa, pelatihan juga memperkuat sistem tata kelola keuangan BUM Desa. Setidaknya ada 36 desa yang menjadi peserta pelatihan bertujuan semakin memperkuat desa-desa di kawasan gambut. Desa-desa tersebut adalah desa berkawasan gambut dari tiga provinsi yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Ya, desa-desa di bumi gambut Kalimantan ini memiliki keunikan dan manfaat menunjang kehidupan yang lebih baik. (ETG)