Paul Mario Ginting, Fasilitator dari Yayasan Penabulu, secara intensif mendampingi proses pelatihan pada sesi penatausahaan keuangan BUM Desa.

Banjarbaru (05/10) – Memiliki luas wilayah 5.600 hektar dengan mayoritas penduduknya petani padi menjadi berkah dan kebanggaan tersendiri masyarakat Desa Olak-Olak, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Teknologi pertanian dengan menemukan jenis bibit kondisi lokal cukup mendukung produktivitas padi Olak-Olak yang kini dapat melangsungkan dua kali masa tanam dalam satu tahun. Tak heran produk padi Olak-Olak menjadi salah satu andalan mencukupi kebutuhan pangan dalam satu wilayah kecamatan.

“Kami hendak mengelola produk pertanian padi ini sebaik mungkin melalui BUM Desa. Ini bentuk nyata melindungi produk hasil petani,” kata Makhmudin, pengurus Gabungan Kelompok Tani (gapoktan) Desa Olak-Olak memaparkan potensi sektor pertanian dalam diskusi Pelatihan Pengembangan BUM Desa bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut Region Kalimantan. 

Ia memandang perlu ada prioritas kebijakan desa untuk ikut menjaga keberlangsungan produk pertanian padi di desa tertua yang masih terisolir secara geografis. Desa Olak-Olak dikelilingi sungai sebagai akses transportasi utama menjadi berkah bagi aktivitas pertanian padi yang tak sekadar mengandalkan air dari tadah hujan. Yang perlu diperkuat adalah penyuluhan yang memperkenalkan teknologi baru kepada petani, penyediaan dukungan sarana produksi tani, jaminan ketersediaan pupuk dan peptisida hama, sampai dengan tata kelola pemasaran produk beras yang mengedepankan hasil panen petani Olak-Olak terlindungi dari permainan harga pasar.

Sekretaris Desa Olak-Olak, Nurul Qodriyah, menangkap potensi pertanian desanya. Menurutnya, Pemerintah Desa Olak-Olak, sengaja aktif melibatkan gapoktan dan pengurus BUM Desa dalam kegiatan pelatihan sebagai bentuk membuka partisipasi masyarakat turut terlibat merancang dan menggali jenis usaha perekonomian desa.

Ia menambahkan, Desa Olak-Olak optimis produk pertanian padi yang mengalami peningkatan cukup potensial dibidik sebagai bentuk usaha. Hasil produk pertanian padi memang menjadi jantung pertahanan pangan andalan kecamatan setempat dan tidak semua desa di Kecamatan Kubu penghasil padi seperti hasilnya Olak-Olak. “Ada 1.031 kepala keluarga di Olak-Olak yang memang mayoritas mata pencaharian pertani,” ujar sekretaris desa.

Melalui pelatihan tersebut, Ketua BUM Desa Olak-Olak, Hendrik, menyambut dukungan pemerintah desa yang menjadikan BUM Desa sebagai prioritas kebijakan desa yang akan lebih diseriusi lagi, tetapi juga kesiapan menyertakan modal awal usaha untuk BUM Desa. Tidak mudah bagi Hendrik turut menggagas berdirinya BUM Desa Olak-Olak karena harus melakukan pendekatan personal dengan berbagai tokoh masyarakat di desanya hingga akhirnya terbentuk kepengurusan.

Mempelajari potensi sektor pertanian padi Olak-Olak, Hendrik, menilai jenis usaha perdagangan beras yang dapat diambil sebagai usaha ke depan BUM Desa yang dipimpinnya. Ia mengaku telah melakukan analisa usaha seperti permodalan, tata pemasaran, kontinyuitas produk padi, hingga pola paket jual yang bisa terjangkau semua elemen masyarakat desa dan desa tetangga Olak-Olak.

“Untuk analisis modal usaha ini kira-kira diperlukan penyertaan modal desa Rp 151juta untuk pembelian beras dari petani, produksi gabah menjadi beras, operasional bumdes, pengemasan, hingga transportasi perdagangan produk beras,” ujar Hendrik cukup hati-hati akan tawaran investasi pihak ketiga.

Diakui Handrik, memang tidak sekadar petanian padi unggulan di desanya. Hasil pertanian dari kopra, gula merah, kedelai juga menjadi pendukung sektor pertanian padi Olak-Olak. Rencananya potensi non padi tersebut juga menjadi target pengembangan Bumdes yang hasilnya bisa menambah pendapatan bagi desa.

Pelatihan sepekan berlangsung tidak hanya memfasilitasi desa dalam menggali potensi desa dan merancang jenis usaha yang akan diambil desa. Pelatihan juga mengenalkan tata kelola keuangan agar pengurus BUM Desa dan perangkat desa semakin terampil dalam urusan tata administrasi sejalan aspek transparan dan dapat pertanggungjawabkan pengelolaan uang rakyat. Materi dasar tata administrasi keuangan dari arus kas, neraca, dan laporan rugi laba disampaikan Paul Mario Ginting sembari mengajak praktik peserta kelas mengerjakan soal sampai benar.

Pelatihan bertitel Pengembangan BUM Desa bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut diselenggarakan Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Yayasan Penabulu ditunjuk sebagai fasilitator utama pelatihan yang berlangsung di Banjarbaru Kalimantan Selatan, 2 – 7 Oktober 2017. Desa-desa di kawasan gambut dari tiga provinsi yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat perlu mendapat perhatian serius khususnya pada pemanfaatan lahan yang dikhawatirkan dapat merusak gambut. Untuk itulah, pelatihan juga menekankan pentingnya ada perlakuan khusus kawasan gambut untuk menunjang kehidupan lebih baik. (ETG)