Peserta perwakilan dari Desa Kalumpang mengikuti Pelatihan Pengembangan BUM Desa bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut.

Banjarbaru (07/10) – Jika selama ini bahan kerajinan rotan mulai hilang dari masyarakat di Jawa, tidak demikian yang terjadi di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Rotan masih cukup kaya tersedia. Desa Kalumpang, salah satu kecamatan di Mantangai, merupakan desa penghasil rotan untuk menjawab berbagi kebutuhan kerajinan dan industri.

Dari potensi sumber daya alam inilah, Pemerintah Desa Kalumpang melirik rotan sebagai daya dukung dalam pendirian badan usaha milik desa (bumdes) seperti diamanatkan UU nomor 6/tahun 2014 tentang desa. Kepala Desa Kalumpang, Maza, menuturkan kalau desanya sebagai salah satu penghasil rotan. Kenyataan itu cukup dirinya dan pememrintah desa  rotan yang masih cukup berlimpah sebagai ruang menciptakan usaha kreatif rakyat.

“Di kebun pekarangan rumah warga selalu ada rotan. Ini yang kami tangkap sebagai potensi untuk mendukung usaha BUM Desa nanti. Dari rotan ini kami bercita-cita desa kami muncul ragam kerajinan rotan dan hidup banyak wirausahawan,” kata Maza melengkapi paparan desanya dalam kegiatan yang dilaksanakan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada 2-7 Oktober 2017 di Banjarbaru.

Maza ingin dengan berdirinya BUM Desa di Kalumpang tidak meninggalkan potensi rotan yang ada nantinya bisa menambah desa semakin eksis dan melahirkan produk-produk kreatif  berbahan rotan khas Kalumpang. Mengingat memang rotan adalah bahan multi guna baik untuk bahan pendukung produksi meja, kursi dan jenis meleber, dan ragam produk yang lain.

Pengurus BUM Desa Kalumpang yang lain mengatakan masyarakat desanya sudah cukup terlatih dalam mengolah produk hasil produksi kebun. Hanya saja, potensi masyarakat dan sumber alam tersebut belum terkoordinasi dengan baik. Untuk itulah, BUM Desa Kalumpang yang terbilang masih baru akan fokus pada pemanfaatan rotan.

“Berkat menjalin berbagai jaringan sekarang sudah mulai kamu temukan jalur pemasaran seperti pariwisata Bali dan beberapa hotel di Kalimantan yang sudah mulai ada komunikasi,” kata Asbudi.

Selama ini rotan yang diolah warga Kalumpang diproses melalui pemotongan sesuai kebutuhan untuk melayani pesanan produk kerajinan. Kerajinan rotan menghasilkan tikar, tas, topi, rak buku, almari, pigura, juga kursi dan meja. Namun produk-produk tersebut belum dapat menembus pasar yang skala permintaannya rutin. BUM Desa berkomitmen mengajak masyarakat Kalumpang tidak sekadar menjual bahan mentah ke luar, tetapi menjual produk kerajinan yang sudah jadi sehingga produksi dilakukan di desa lebih menjamin hidupnya sistem pemberdayaan juga lapangan kerja kreatif di desa.

Terlebih lagi, informasi yang dihimpun berbagai pihak, peralatan ibadah bagi umat muslim seperti sajadah berbahan rotan dengan corak anyaman yang cukup menarik saat ini sudah mulai merambah negara tetangga Malaysia. “Harganya pun selembar menembus Rp 250.000. Ini kalau dikerjakan desa tentu perputaran uang tidak keluar. Tinggal memperkaya referensi teman-teman desa dalam produksi dengan memperbanyak ruang pelatihan di desa,” ujar Iswadi, fasilitator desa dari BRG.

Nurhidayah, fasilitator lain dari BRG untuk Desa Kalumpang, menambahkan jika produk kerajinan rotan paling terkenal dan sedang dipromosikan adalah anyaman batang garing. Anyaman rotan ini khas desa Kalumpang Kapuas yang cukup menarik. Malah beberapa daerah seperti Bali sudah mulai mengkomunikasikan kerjasama dengan pihak desa. “Produk kerajinan rotan desa ini mulai mencuri perhatian hotel. Tinggal bersama-sama kita ciptakan gerakan melalui produksi rotan ini,” tambah Nur saat mendampingi rencana tindak lanjut pelatihan.

Dalam pelatihan ini, Desa Kalumpang juga menemukan beberapa potensi lain yang ada desa diantaranya pendirian sarang walet yang masih cukup terbuka luas. Selain itu, untuk mendukung kedaulatan pangan nasional minimnya ketersediaan pupuk dan obat-obatan pertanian di Kalumpang membuka peluang desa untuk hadir menjawab persoalan tersebut. Terlebih desa Kalumpang juga memiliki bibit padi sentang yang cukup potensial untuk dikembangkan di semua pada lahan pertanian gambut. Sektor pertanian sayuran juga dinilai dapat menjadi masa depan usaha produktif masyarakat desa.

BRG dan Yayasan Penabulu memfasilitasi pelatihan untuk 36 desa di Region Kalimantan, dengan peserta yang berasal dari unsur pemerintah desa, pengelola BUM Desa, BPD, dan tokoh masyarakat. Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat desa-desa di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat agar mulai menyentuh kelestarian kawasan gambut.  Kawasan gambut menjadi perhatian pemerintah dari kebakaran hutan lahan gambut dan tata pemanfaatan yang selama ini justru merusak keberlangsungan gambut. Para fasilitator pelatihan menekankan kepada peserta mengenai pentingnya perlakuan khusus lahan gambut untuk menunjang program pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakatnya. (ETG)