Gulungan tikar anyaman purun hasil karya masyarakat Desa Asia Baru.

Banjarbaru (08/10) – Anyaman purun menjadi ciri khas produk kerajinan dari Kalimantan Selatan. Memang bagi sebagian kita, masih asing dengan purun. Karena memang purun lebih banyak tumbuh di rawa gambut. Padahal produk olahannya sudah mengembara ke berbagai penjuru negeri.

Purun, tanaman liar yang tumbuh di rawa gambut, sekilas mirip dengan rumput. Sebelum berkembangnya pengetahuan pemanfaatan purun, tanaman ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan kerbau rawa. Kini, 18 bulan setelah ditanam purun dapat dipanen yang dilanjutkan proses dijemur dan ditumbuk, purun menjelma sebagai potensi yang menjadi gantungan hidup masyarakat di sebagian Kalimantan Selatan, seperti halnya masyarakat Desa Asia Baru.

Asia Baru terletak di Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Desa ini dipercaya memiliki tanaman purun yang kualitasnya terbaik dan dapat menghasilkan panenan purun dengan kuantitas besar. Saat ini, masyarakat Desa Asia Baru menjadikan tanaman purun sebagai salah satu sumber penambahan penghasilan rumah tangga. Masyarakat memanfaatkan tanaman purun sebagai anyaman tikar yang kemudian dijual ke wilayah lain di Kalimantan maupun keluar Pulau Kalimantan. Namun sayang, harga jual tikar purun tidak sebanding dengan proses pembuatannya.

“Masyarakat di desa kami (Asia Baru) mengolah purun menjadi anyaman tikar, tetapi masih tikar mentah. Tapi ya itu, harga per tikar Rp 3.500 sampai Rp 4.000,” ujar Egas Das Meves, Fasilitator Desa BRG untuk Desa Asia Baru.

Dalam sehari, seorang perajin purun mampu menganyam 10 lembar tikar berukuran 2 meter x 3 meter. Artinya dalam sehari, maksimal RP 40.000 dapat diperoleh seorang perajin. Dapat dikatakan nilai jual itu tidak sebanding dengan tenaga dan waktu untuk pembuatan tikar purun. Diakui Egas, jika masyarakat menjual dalam bentuk mentah yang cepat prosesnya dan cepat mendatangkan uang daripada membuat produk lainnya.

Sebagai desa yang terletak di tepi Sungai Barito, minimnya akses transportasi selain jalur sungai terkadang menjadi kendala dalam akses pasar dan keterbaruan inovasi produk. Menyadari berlimpahnya bahan baku purun dan dari keprihatinan penghasilan yang diperoleh masyarakat, Pemerintah Desa Asia Baru menempatkan purun sebagai potensi utama desa untuk dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa).

“Kami memilih tanaman purun sebagai usaha yang ingin dikembangkan oleh BUM Desa nanti setelah selesai pelatihan ini. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjaual purun berbentuk tikar mentah saja tetapi juga menjadi tas, dompet, topi yang cantik. Agar nilai jualnya lebih tinggi.” ujar Jura’i saat mempresentasikan rencana usaha BUM Desa dalam Pelatihan Pengembangan BUM Desa bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut Region Kalimantan.

Jura’i berharap dengan berdirinya BUM Desa di Asia Baru dapat memberikan perubahan yang positif untuk kesejahteraan masyarakat. Khususnya perubahan pada kapasitas sumber daya manusia, memberikan pemahaman lebih tentang inovasi pengolahan tanaman purun yang nantinya dapat meningkatkan nilai jual tanaman purun dan penghasilan tambahan keluarga.

Desa Asia Baru adalah salah satu dari 36 desa peserta Pelatihan Pengembangan BUM Desa yang berasal dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Kegiatan pelatihan yang difasilitasi Badan Restorasi Gambut (BRG) bekerjasama dengan Yayasan Penabulu dan Desa Lestari, bertema Mengungkit Potensi Desa untuk Membangun Ekonomi Desa di Kawasan Gambut. Pelatihan yang digelar 2-7 Oktober 2017 lalu bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya BUM Desa bagi keberlangsungan perekonomian desa dengan melihat potensi desa yang bernilai sosial dan ekonomi. Setiap desa memiliki keunikan, potensi dan peluang masing-masing. Demikian pula desa-desa yang berada di kawasan gambut yang pernah menjadi amukan kebakaran hutan tahun 2015, mereka berhak bangkit, mandiri, dan menjalankan roda perekonomian dengan tetap menjaga kelestarian kawasan gambut. (IN)