Kelompok nelayan Kampung Sumber Agung bersiap untuk penanaman rumput laut sebagai upaya budidaya rumput laut untuk mewujudkan kemandirian kampung.

Berau (20/11) – Meskipun kampung tak memiliki aset laut, potensi kekayaan laut Indonesia menjadi harapan sekaligus masa depan yang baik untuk diolah sebagai sumber penghidupan. Kampung Sumber Agung, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, melirik potensi rumput laut kini tengah dikembangkan sebagai produk unggulan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). 

Tim Desa Lestari, mendapatkan kesempatan dari Yayasan Peduli Konservasi Alam (PEKA) Indonesia dalam sepekan mengunjungi kampung yang berada di tengah perkebunan sawit. Kedatangan Tim Desa Lestari tidak lain untuk memperkuat peran BUMK Mandiri Sejahtera yang belum genap dua bulan dibentuk Pemerintah Kampung. 

Rumput laut diyakini dapat dimanfaatkan lebih maksimal menjadi daya dukung keragaman produk olahan hasil laut untuk memperkuat perekonomian masyarakat kampung. Sekretaris Kampung Sumber Agung, Suparno Edi, mengaku senang BUMK Sumber Agung berani menaruh perhatian pada produk hasil laut. Menurutnya, upaya BUMK melirik potensi laut yang terletak sekitar 6 kilometer dari kantor desa bukan tanpa alasan. Selama ini wilayah Berau, khususnya Batu Putih, diakui melimpah hasil ikan laut. Akan tetapi, potensi hasil laut seperti rumput laut belum banyak digarap.

“Kami berharap teman-teman Tim Desa Lestari dan PEKA dapat memperkuat bidikan BUMK yang dijalankan anak-anak muda kampung kami,” ujar Suparno ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/11) lalu. 

Diakuinya, peran BUMK di Sumber Agung masih perlu diperkuat organisasi agar perannya terasakan dalam pembangunan perekonomian pedesaan atau kampung melalui wirausaha kampung. “Dengan demikian gerak pembangunan fisik dan ekonomi bisa seiring sejalan,” imbuh Suparno. 

Kampung Sumber Agung sendiri memiliki perhatian besar terhadap BUMK. Umumnya kampung dan desa lain, Sumber Agung juga mulai menyiapkan penyertaan modal awal untuk mendorong kiprah BUMK Mandiri Sejahtera untuk tahun anggaran 2018 nanti.

Dalam kesempatan diskusi dengan Tim Desa Lestari, Direktur BUMK Mandiri Sejahtera, Hedi Darmawan, merasa beruntung dengan adanya kemitraan dengan pihak ketiga seperti LSM. Pasalnya, meskipun BUMK yang dipimpinnya sebulan lalu belum mendapatkan anggaran kampung, tetapi sudah melakukan “pemanasan” adanya Konsorsium PEKA di kampungnya. BUMK sudah memulai usaha produksi olahan hasil laut seperti krupuk, dodol dan terasi.

Menurut Hedi, produk krupuk, dodol dan terasi asli Sumber Agung dengan bahan utama rumput laut dan udang rebon bukan hanya khas. Produk makanan asli kampung yang memanfaatkan kekayaan hasil laut Indonesia diolah tangan-tangan kreatif kelompok perempuan Sumber Agung dan dipasarkan BUMK mulai disambut antusias warga masyarakat.

“Tiga produk kami coba ternyata laris manis dibeli masyarakat kampung sendiri dan beberapa juga kampung tetangga. Ini pertanda pelung usaha baik bagi kelompok perempuan juga BUMK sendiri,” kata bapak dua anak yang sudah lebih dari 25 tahun tinggal di Kampung Sumber Agung.

Diakui Hedi, saat ini memang bahan baku rumput laut dan udang rebon untuk produksi ketiga icon kampung Sumber Agung masih bergantung dari kampung lain yakni Batu Putih. Ia sendiri kuatir, ketergantungan bahan dari luar kampung ini kedepan mengundang persoalan tersendiri dalam laju kesinambungan usaha kerupuk dan dodol yang sedang “naik daun”. 

Produksi kerupuk, dodol, dan terasi akan terus berjalan seiring dengan program BUMK bersama Pemerintah Kampung dan Konsorsium PEKA yang mulai memikirkan perlunya gerakan budidaya rumput laut sebagai wujud keswadayaan dan kemandirian kampung.

“Sambil tetap menjalankan produksi yang sudah jalan, kedepan kami ingin rumput laut bisa kami hasilkan sendiri dari teman-teman kelompok nelayan,” lanjut Ratna Sari, pemudi setempat yang aktif terlibat dalam kiprah Konsorsium PEKA.

Budidaya penanaman rumput laut pertama memang pernah gagal adanya serangan penyu. Hanya saja, PEKA dan kelompok nelayan pantang menyerah. Konsorsium terdiri dari Yayasan PEKA Indonesia, Yayasan Lamin Segawi, Yayasan Penyu Berau, Pemerintah Kabupaten Berau, yang didukung oleh Millennium Challenge Corporation Account-Indonesia (MCCAI) kini kembali memprakrasai budidaya rumput laut dengan kelompok nelayan setempat sebagai salah satu daya dukung kemandirian memproduksi rumput laut kampung.

Awak pengurus BUMK sendiri secara khusus menyaksikan langsung penanaman rumput laut sebanyak 3,1 ton setelah didatangkan dari Bontang. Dibutuhkan waktu selama tiga hari pemasangan bibit rumput laut yang 45 hari kedepan hendaknya sudah bisa panen perdana.

Sementara 45 hari menunggu hasil budidaya rumput laut, BUMK Mandiri Sejahtera memperkuat kelembagaan. Kedatangan Tim Desa Lestari menjadi mitra untuk melengkapi organisasi kewirasuahaan kampung Sumber Agung dengan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang memang belum ada. SOP dipersiapkan melalui focus grup discusion (FGD) pengurus BUMK untuk pengelolaan BUMK dapat berjalan lebih baik.

Tak terkecuali, tetangga Sumber Agung yakni Kampung Giring-Giring, di Kecamatan Biduk-Biduk, juga mempersiapkan SOP BUMK guna mendukung laju industri kreatif kampung seperti produksi minyak kelapa, pengolahan serabut kelapa dan usaha layanan simpan pinjam untuk memperkuat permodalan pegiat usaha kecil menengah Giring Giring.

Sekedar diketahui, di dua kampung ini Konsorsium PEKA tengah mengupayakan sumber listrik untuk mendukung pelaku usaha dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Ditemui terpisah, Executive Committee Yayasan PEKA Indonesia, Farhan, memastikan Desember 2017 mendatang ada penambahan pasokan listrik tenaga surya di dua desa yang saat ini sedang dikebut untuk daya dukung sektor usaha kecil. PEKA dalam beberapa tahun menaruh perhatian besar kedua kampung di Berau ini agar geliat perekonomian semakin terlihat tumbuh sejalan spirit pemerintah menempatkan desa dan kampung garda depan  pembangunan sebagaimana amanat UU Desa.

Selain pembangunan fisik, pembangunan non-fisik PEKA lakukan seperti pelatihan kewirausahaan baik kelompok pelaku usaha kecil, pegiat induatri kreatif, kelompok nelayan, pedagang, wirausaha muda. Sebanyak 100 ribu bibit kelapa hibrida rencananya akan ditanam di kawasan sebagai upaya peremajaan kelapa lokal. (ETG)