Presentasi Ide Inovasi Kewirausahaan Kaum Muda Desa

Gunungkidul (23/01) – Denyut pariwisata Kabupaten Gunungkidul, DIY, masih dirasa berat sebelah. Zona utara Gunungkidul perlu mendapat perhatian lebih pemerintah setempat untuk meratanya pembangunan perekonomian. Dibutuhkan peran pemuda memberi berbagai pemikiran dan gagasan serta partisipasi agar semakin mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih maksimal.

Menyadari akan hal itu, sebanyak 25 pemuda Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, berkumpul dan mulai menata rencana nyata berperan keterlibatan dalam gerak pembangunan pedesaan sebagai relawan. Pertemuan pemuda perwakilan dari enam desa, yakni Desa Pilangrejo, Natah, Kedungpoh, Katongan, Nglipar, dan Pengkol, menjadi titik awal menemukan relawan-relawan muda yang hendak menjalin kerja sama pemerintah desa masing-masing memajukan potensi yang dimiliki desanya.

Pertemuan perdana melalui kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Bagi Kaum Muda Desa berlangsung di Balai Desa Nglipar selama lima hari, yakni 18 sampai dengan 22 Januari 2018. Beberapa materi diberikan pemuda Nglipar untuk membekali kemampuan diri, membentuk perspektif positif pembangunan, mengolah ketrampilan diri oleh fasilitator yang diterjunkan tiga lembaga nirlaba yakni dari Desa Lestari, The Head Foundation, dan JUMP Foundation. Desa Lestari dan JUMP Foundation membagi banyak ilmu dan berbagi pengalaman dalam membentuk kepemimpinan kaum muda dengan mendatangkan pegiat pembangunan mentalitas kaum muda dari Amerika, India, dan Beijing dan berbagi ketrampilan teknik fasilitasi.      

Ida Ayu, aktivis kepemudaan desa Nglipar mewakili Desa Pilangrejo mengatakan, metode pelatihan kepemimpinan cukup relevan menjawab kelesuan pemuda di Kecamatan Nglipar. Selama ini kiprah pemuda tenggelam. “Ironis, rendahnya kiprah pemuda saat ini terjadi ditengah desa-desa sedang gencar melaksanakan pembangunan dari implementasi UU Desa. Hendaknya ini eranya pemuda bau-membahu tampil dalam gerak pembangunan desa,” kata Ida yang juga anggota Karangtaruna Kecamatan Nglipar.

Ida optimis, melalui kegiatan kepelatihan pemuda ini hendaknya akan efektif mengubah cara pandang pemuda agar tidak sekadar menjadi penonton pembangunan desanya. Ia mengaku, memang bukan persoalan mudah bisa mengubah cara pandang pemuda desa yang masih perspektif kerja adalah meninggalkan desa dan beradu nasib di kota-kota besar.

“Pelatihan ini mampu meyakinkan kami desa sebagai pusat perekonomian yang masih cukup terbuka bagi pemuda menemukan sumber pendapatan,” ujarnya. Tidak adanya lapangan pekerjaan di desa, lanjut Ida, menjadi persoalan besar di Nglipar. Hanya saja, pelatihan ini mendorong pemuda untuk lebih kreatif untuk menemukan peluang-peluang usaha yang lebih produktif, tanpa meninggalkan tanggungjawabnya berperan di desanya.  

Senada diungkapkan Suyadi, peserta dari wirausaha muda desa yang mengaku jatuh bangun merintis usaha mandiri pembuatan tujuk sate. Sebenarnya, menurut Yadi, banyak potensi desa yang dapat dikelola pemuda sebagai kegiatan yang “menghasilkan”, baik dilakukan secara mandiri maupun berkelompok.

“Pertemuan pelatihan ini menjadi ajang untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan kreativitas pemuda itu sendiri. Saya cukup puas,” ungkap perajin tusuk sate dari bambu yang menemukan pasar internasional dan terpilih penerima suporting usaha kelompok.

Fasilitator pelatihan dari Desa Lestari, Eko Sujatmo, mengatakan, pelatihan memberi ragam materi pemuda agar lebih siap untuk berkiprah sebagai relawan-relawan pembangunan desa. Dari kegiatan ini terurai beberapa permasalahan desa dan pemuda berikut solusinya yang hendak dikerjakan peserta setelah kembali ke desa.

Berikut potensi desa ditemukan sebagai peluang usaha pemuda Nglipar.

  1. Produk Gula Jawa Pilangrejo, hasil assesmen kelompok pemuda Pilangrejo menemukan adanya perajin gula jawa di Desa Pilangrejo. Produksi gula jawa masih eksis dan cukup potensial dikembangkan sebagai salah satu icon Nglipar baik sebagai daya dukung pengembangan pariwisata desa maupun gerakan konsumsi makanan dan minuman seduhan sehat seperti muniman seduhan tradional gula jawa jahe serta optimalisasi produk lokal Gunungkidul di seluruh pasar.
  2. Produk pertanian Hidroponik Nglipar, hasil assesmen kelompok menemukan tingginya pasokan kebutuhan pangan sayuran setiap hari yang harus bergantung dari produk luar daerah untuk memenuhui kebutuhan pangan lokal Gunungkidul. Teknik pertanian hidropinik dipandang sebagai salah satu langkah yang bisa dirintis sebagai gerakan pemuda bertani untuk peran partisipasi mewujudkan kadaulatan pangan.
  3. Produk usaha tusuk sate Natah, kelompok ini menggali potensi besar tanaman bambu yang masih banyak di desa untuk dioleh sebagai produk tusuk sate. Adanya jalur pemasaran yang sudah menembus pasar internasional dengan permintaan pasar yang cukup tinggi memberikan peluang terbuka bagi pemuda untuk menggerakkan masyarakat sebagai sentra industri tusuk sate bambu Natah dengan tetap menjaga kelestarian alam.
  4. Konservasi tanaman cendana, kelompok assesmen Pemuda Desa Pilangrejo menemukan potensi luasnya ketersediaan lahan pertanian dan hutan rakyat, salah satunya untuk konservasi tanaman lindung jenis cendana. Konservasi cendana dipandang cukup memberi harapan pemuda untuk pelestarian bersama dengan kelompok tani sebagai daya dukung pewarna produk perajin batik tulis lokal. Seiring dengan langkah konservasi cendana, produk batik tulis yang kian merebut pasar industri kreatif baik skala nasional maupun internasional.
  5. Pengelolaan sungai sebagai daya dukung kuliner, Kedungpoh, berada di kawasan kali, kelompok asessmen pemuda mendapatkan belum optimalisasi Sungai Oya. Sungai masih sebatas digunakan sebagai jalur aliran air sehingga perlu terobosan baru untuk lebih dikelola secara produktif bagi pemuda. Ikan wader, yang banyak ditemukan di Kali Oya dinilai sebagai potensi olahan kuliner yang dipandang mampu meraih pasar. Tentu menuntut kreativitas pemuda untuk siap mengolahnya lebih kaya sebagai produk makanan olahan seperti wader goreng, rempeyek, blado wader, dan jenis lainnya. (etg)