Peserta Jambore Masyarakat Gambut 2018 tengah melakukan konsultasi tentang tata kelola pemerintahan desa di stand pameran Desa Lestari.

(Banjar, 01/05) – Salah satu pandangan yang menarik dari pelaksanaan Jambore Masyarakat Gambut 2018 adalah digelarnya pameran produk usaha masyarakat. Berbagai produk usaha kreatif dari sejumlah daerah gambut di Indonesia ditampilkan dalam acara jambore yang dipusatkan di Kiram Park, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada 28–30 April 2018.

Produk usaha kreatif mulai dari tas dan topi berbahan anyaman rotan lokal, dompet, hingga produk olahan pangan kekayaan kopi dari berbagai daerah, obat-obatan tradisional dan madu dari hutan gambut, gelang, kalung, permata, hingga batu mulia serta aneka ragam produk usaha kerajinan lain meramaikan acara jambore. Tak ketinggalan, pemerintah daerah dan organisasi nirlaba yang memiliki program dan kiprah di berbagai desa di daerah gambut.

Perkumpulan Desa Lestari dan Yayasan Penabulu, dua dari banyak lembaga nonprofit turut memeriahkan pameran produk usaha masyarakat gambut. Dua stan berdampingan menjadi membuka kesempatan bagi pegiat desa kawasan gambut untuk memanfaatkan layanan konsultasi pembangunan desa. Ruang konsultasi gratis di pameran selama tiga hari dimanfaatkan sejumlah kepala desa dan perangkat, pengurus bumdes, kader perempuan desa, fasilitator desa hingga pemerintah daerah cukup antusias ingin mendapatkan jawaban atas keragu-raguannya dalam memahami pembangunan desa sebagai implementasi UU Desa.

Layanan konsultasi Desa Lestari digagas untuk tujuan memantapkan pemahaman para pegiat desa dalam perencanaan pembangunan, transparansi dan tata kelola keuangan desa, pendirian BUMDes, hingga layanan bantuan analisis usaha desa di stan bernomor 19 dan 20 berada di sayap kanan panggung dan berhadapan dengan Jaringan Masyarakat Gambut Sumatera Selatan yang hampir tak pernah sepi pengunjung. Konsultasi yang dilayani mulai dari kendala dan hambatan yang dihadapi desa, kebutuhan informasi, dan tips bagi desa melengkapi pembagian gratis 100 buku panduan penyusunan RPJM Desa dan Jurnalistme Warga.

Salah satu peserta Jambore, Adi Sulistiono, mengatakan, keberadaan stan Desa Lestari cukup menjawab persoalan yang dihadapi para pegiat desa yang tengah mengembangkan produk kopi. “Hadirnya banyak stan juga memperkaya dirinya untuk semakin kreatif lagi. Kebetulan tahun ini desa kami mengembangkan produksi kopi tentu harus banyak belajar dalam analisis usaha agar lebih berkembang dan tidak merugi,” tandas Adi, Direktur BUMDes Sumber Agung, Muara Sugihan, Sumatera usai mendapat perjelasan dari pegiat Desa Lestari, Sri Purwani.

Anang, salah satu kepala desa dari Riau juga rela mengantre untuk bisa ‘curhat’ dengan para pegiat Desa Lestari yang bertugas. Kades mengaku menemukan jawaban berbagai persoalan yang selama dihadapi. Mulai dari gagalnya koordinasi dengan desa tetangga untuk sharing anggaran pembangunan jalan antar kampung, hingga desa yang sering dimintai uang oknum aktivis yang mengaku LSM dan jurnalis.

“Terima kasih saya akhirnya mendapat pemahaman baru dan tips menghadapi oknum LSM dan wartawan abal-abal yang sering minta duit bensin,” ujarnya.

Nurhidayah, fasilitator desa BRG Regio Kalimantan mengaku cukup terbantu mendapatkan buku panduan RPJM Desa produk pembelajaran dari Desa Lestari. Menurutnya, buku panduan itu cukup menunjang pekerjaannya dalam mendampingi desa gambut di Kalimantan.

“Kami juga ingin memperoleh buku untuk semakin mendalamkan program kabupaten ke desa,” ungkap seorang PNS Bappeda Pemkab Siak usai sharing kebijakan dan program Desa Lestari di Indonesia.

Rombongan tamu undangan, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Bambang Hendroyono sejumlah bupati dan Forkominda Kalimantan Selatan, didampingi Gubernur Kalsel Sobhirin Noor hingga Duta Besar Norwegia Vegard Kaale yang didampingi Deputi BRG RI, Myrna A Safitri, menyempatkan singgah di stan Desa Lestari dan Yayasan Penabulu. Kepada rombongan, Tim Desa Lestari berkesempatan menjelaskan kiprah pendampingan desa-desa di Indoensia dan pentingnya membuka ruang konsultasi pembagian dua buku panduan penyusunan RPJM Desa dan jurnalistik warga yang acapkali desa masih menemukan kebingungan menyusunan rencana pembangunan desa yang berkelanjutan di ajang pameran di jambore ini.

“Selama tiga hari kami melayani konsultasi dan membagi buku gratis panduan menyusun RPJM Desa, walau memang stok buku yang kami bagi terbatas semoga semua ini memberi manfaat,” kata perwakilan Desa Lestari kepada Gubernur Kalsel, yang akrab dipanggil Paman Birin, beserta rombongan nampak manggut-manggut.

Buku panduan Jurnalistik Warga ditulis mantan jurnalis FX Endro Tri Guntoro ditujukan untuk membekali pemerintah dan masyarakat desa gambut sebagai sebuah terobsan baru dalam layanan informasi desa dan upaya pemasaran produk usaha kreatif masyarakat gambut turut diburu peserta jambore. Menurut Endro, program Sistem Informasi Desa (SID) dengan adanya pengelolaan website desa masih banyak mengalami kendala jaringan yang tidak merata hendaknya dapat disikapi pemerintah dan Kementerian Kominfo.

Selain itu, lanjut Endro, sumber daya manusia di desa harus mulai dipersiapkan sejak sekarang agar pada waktunya internet merambah seluruh desa ada kesiapan merebut  pasar global.  

“Layanan konsultasi yang dibuka Desa Lestari mengemuka dengan lambatnya pemasaran produk usaha desa yang sudah dihasilkan. Nah, internet dan keterampilan desa menuliskan produk desa menjadi kebutuhan baru dalam pemasaran produk usaha desa-desa gambut ini,” terang Endro sembari menyerahkan buku produk Desa Lestari kepada Paman Birin beserta rombongan sebagai bekal semakin rajin turun ke desa memberi solusi atas berbagai kendala pemasaran produk desa gambut.

Sementara itu, permintaan cetak design poster profil desa nampak membanjir di stan milik Yayasan Penabulu sejak pameran dibuka di hari pertama. Dua petugas yang disiagakan Penabulu bahkan harus kerja lembur lantaran permintaan datang setiap hari. Demikian halnya stan Upacaya, yang tiga hari eksis menampilkan produk usaha kreatif seperti kopi, tas, gelang, kalung, anting, dan ragam jenis lain berbahan lokal menjadi sasaran pengunjung yang berburu oleh-oleh untuk keluarga.

Sekedar diketahui, Jambore Masyarakat Gambut 2018 di Kalsel diikuti sebanyak 1.354 peserta dari 265 desa lahan gambut di tujuh provinsi Indonesia yakni perwakilan Papua, Riau, Jambi, Sumsel, Kalteng, Kalsel, dan Kalbar. Jambore menjadi ruang efektif bagi masyarakat gambut untuk dapat saling menguatkan satu sama lain. Pemerintah desa, petani, kelompok usaha rakyat atau UKM, pendidik, dan pegiat pelestari gambut tujuh provinsi dapat bertukar berbagai pengalaman. Jambore kedua kalinya sejak digelar pertama tahun 2016 di Jambi ini, sebagai ajang diskusi dan mengenalkan teknologi pengolahan lahan gambut ramah lingkungan. Produksi usaha ditekankan untuk menyeimbangkan tata kelola perlindungan lahan gambut di tujuh provinsi. (etg)