(Yogyakarta – 04/07) Manusia telah menulis sejarahnya dengan berbagai perubahan mendasar yang ia buat. Sejarah manusia adalah sejarah perubahan yang sarat akselerasi yang transformatif. Manusia melakukan aneka perubahan transformatif, agar ia bisa tiba pada suatu tatanan dunia ideal yang ia dambakan. Akselerasi yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tatanan ideal tersebut.

Dalam konteks sejarah manusia yang penuh dengan perubahan itu, kini muncul Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0), sebuah revolusi generasi keempat di bidang industri yang akan menjadi realitas baru dalam kehidupan manusia pada masa kini. Menurut Klaus Schwab, ekonom asal Jerman, RI 4.0 adalah revolusi teknologi digital yang mendorong sistem otomatisasi dalam semua aktivitas. Bidang-bidang yang mengalami terobosan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic); (2)  teknologi  nano; (3) bioteknologi; (4) teknologi komputer quantum; (5) blockchain  (seperti bitcoin); (6) teknologi berbasis internet; dan (7) printer 3D. Menurut Schwab RI 4.0 akan mengubah hidup manusia dengan adanya sistem otomatisasi. Revolusi ini menyajikan peluang sekaligus tantangan.

Menurut Prof. Purwo Santoso, ahli Ilmu Pemerintahan UGM, RI 4.0 merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. RI 4.0 akan mendisrupsi kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, revolusi ini harus dihadapi dengan sebuah desain strategi yang tepat yang harus dilakukan baik oleh negara maupun masyarakat. Prof. Purwo menjelaskan bahwa di tengah gelombang RI 4.0 yang akan mendisrupsi kehidupan masyarakat Indonesia, negara perlu memiliki strategi berupa politik pengetahuan.

“RI 4.0 harus dihadapi dengan strategi politik pengetahuan yang baik oleh negara dan masyarakat Indonesia. Sesungguhnya RI 4.0 merupakan era persaingan pengetahuan negara-negara besar/maju yang mengandalkan kemampuan akseleratif berpikir manusia dan teknologi canggih yang bekerja dengan sistem otomatisasi tingkat tinggi,” ungkapnya.

Politik pengetahuan yang dimaksudkannya berupa kecerdasan kolektif negara dan seluruh masyarakat Indonesia. Kecerdasan kolektif ini harus bertransformasi secara fundamental menjadi watak dari negara dan masyarakat Indonesia. Hal ini berkenaan dengan tradisi pendidikan yang dikembangkan terutama oleh negara-negara maju/industri. Di tengah kenyataan RI 4.0 saat ini, negara-negara maju/industri sudah menerapkan tradisi pendidikan mereka sebagai tradisi menguasai negara-negara lain.

Dalam rangka menghadapi RI 4.0, Indonesia perlu menghidupkan kecerdasan kolektif bangsa untuk menghadapi tradisi pendidikan menguasai tersebut. Institusi pendidikan memiliki peran penting dalam menghidupkan kecerdasan kolektif. Ini merupakan poin penting yang harus dilakukan oleh pemerintah sebagai bentuk strategi politik pengetahuan negara. Lebih lanjut, Prof. Purwo menegaskan bahwasannya jika hal ini tidak segera dilakukan oleh negara, maka RI 4.0 benar-benar akan mendisrupi Indonesia dan menjadikan negara ini sebagai objek RI 4.0 bagi keuntungan negara-negara maju/industri. (YS)