Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Mewirausahakan APB Desa dengan BUMDes

Yogyakarta (22/4) – Keberadaan BUMDes di tiap desa akan menjadi salah satu revolusi keuangan dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa). Semangat BUMDes adalah mewirausahakan APB Desa.

Pada Permendesa Nomor 4 tahun 2017 tentang Prioritas Program Kementerian Desa PDTT menyebutkan program fasilitasi pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan prioritas dan ujung tombak Kementerian Desa PDTT. Maka tidak heran jika Pemerintah mendorong lahirnya BUMDes sebagai pemicu munculnya aktivitas ekonomi yang lebih besar lagi di desa. BUMDes dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum dan dalam kegiatannya tidak hanya berorientasi pada keuntungan keuangan, tetapi juga berorientasi untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. BUMDes dapat melaksanakan fungsi pelayanan jasa, perdagangan, dan pengembangan ekonomi lainnya.

Namun, pada mengembangkan BUMDes, desa-desa menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Setidaknya ada empat tantangan bagi desa yaitu masih lemahnya tata kelola BUMDes yang belum memiliki standar yang disepakati, belum optimalnya kapasitas pengelola harian BUMDes, belum optimalnya asistensi lembaga supra desa dalam mendampingi BUMDes, dan minimnya pengakuan, dukungan, dan perlindungan terhadap BUMDes dari masyarakat, maupun lembaga supra desa.

Untuk membantu Desa menjawab tantangan dalam pengembangan dan pengelolaan BUMDes, Penabulu, bekerja sama dengan Learn! dan Desa Lestari, menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan BUMDes. Pelatihan ini diadakan pada tanggal 17-21 April 2017 di Yogyakarta dan diikuti oleh 13 orang yang berasal dari Konawe Selatan, Buton Utara, Jombang, Magelang, Yogyakarta, dan Salatiga. Pelatihan ini dipandu oleh Budi Susilo dan menghadirkan Ahmad Rofik, Agung Banardono, Roy Martfianto, dan Bahrun Wardoyo sebagai narasumber selama lima hari. Pelatihan digelar dengan dua metode belajar, yaitu belajar dan diskusi kelas serta kunjungan lapangan ke BUMDes Dlingo Giritama yang berada di Desa Dlingo, Bantul.

Pada pengembangan BUMDes, seringkali tidak melalui analisis rantai usaha yang berakibat usaha yang dikembangkan kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, atau bahkan berisiko mematikan UMKM yang sudah berkembang di desa. Selain itu, BUMDes diharapkan memiliki tanggung jawab pada pelestarian lingkungan.

“BUMDes tidak perlu menjalankan seluruh potensi usaha desa. Jangan sampai BUMDes tidak bisa menjalankannya, dan mematikan UMKM yang sudah berkembang. Bahkan BUMDes harus turut melestarikan lingkungan,” ujar Agung Banardono, saat menjelaskan mengenai analisis pengembangan usaha menggunakan Value Chain Development (VCD).

Peserta menganalisis rantai usaha untuk pengembangan unit usaha BUMDes menggunakan metode Value Chain Development (VCD). (sumber: dokumentasi lembaga)

Dalam kunjungan lapangan ke Desa Dlingo, peserta pelatihan mendengarkan paparan dari Kepala Desa Dlingo dan Ketua Pengelola BUMDes. Selain itu, peserta pelatihan juga melakukan diskusi dengan pengelola harian DesaMart. Peserta pelatihan sekaligus melihat dari dekat bagaimana DesaMart yang merupakan unit usaha BUMDes Dlingo Giritama dipilih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari hasil kunjungan lapangan, peserta menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan, serta dukungan stakeholder yang dihadapi Desa Dlingo dalam mengembangkan BUMDes.

Berdasarkan amatan peserta pelatihan mengungkapkan secara umum kepemimpinan Kepala Desa berkontribusi besar dalam pembentukan BUMDes. Kepemimpinan yang inovatif dan terbuka diperlukan dalam pengembangan BUMDes. Sehingga dapat tercipta pembangunan desa yang sukses.

“Desa harus punya daya tarik yang membuat masyarakatnya tertarik membangun desanya. Hal itu bisa terwujud kalau pemerintah desa dengan masyarakat dapat bekerjasama dengan baik. Dan ini tantangan besar kami di sana (Buton Utara),” ujar peserta dari Desa Labuan Bajo, Buton Utara, Sulawesi Utara L.D Yamin. (NP)