Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Bangun BUMK, Kampung Sumber Agung Berau Manfaatkan Rumput Laut

Kelompok nelayan Kampung Sumber Agung bersiap untuk penanaman rumput laut sebagai upaya budidaya rumput laut untuk mewujudkan kemandirian kampung. (sumber: dokumentasi lembaga)

Berau (20/11) – Meski kampung tak memiliki aset laut, potensi kekayaan laut Indonesia menjadi harapan sekaligus masa depan yang baik untuk diolah sebagai sumber penghidupan. Kampung Sumber Agung, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, melirik potensi rumput laut. Kini mereka tengah mengembangkan rumput laut sebagai produk unggulan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). 

Tim Desa Lestari mendapatkan kesempatan dari Yayasan Peduli Konservasi Alam (PEKA) Indonesia untuk mengunjungi kampung yang berada di tengah perkebunan sawit selama sepekan. Kedatangan Tim Desa Lestari tidak lain untuk memperkuat peran BUMK Mandiri Sejahtera yang belum genap dua bulan dibentuk Pemerintah Kampung. 

Pemanfaatan rumput laut diyakini dapat lebih maksimal untuk mendukung keragaman produk olahan hasil laut. Produk tersebut dapat memperkuat perekonomian kampung.

Sekretaris Kampung Sumber Agung Suparno Edi mengaku senang BUMK Sumber Agung berani menaruh perhatian pada produk hasil laut. Menurutnya, upaya BUMK melirik potensi laut yang terletak sekitar enam kilometer dari kantor desa bukan tanpa alasan. Selama ini wilayah Berau, khususnya Batu Putih, diakui melimpah hasil ikan laut. Akan tetapi, potensi hasil laut seperti rumput laut belum banyak digarap.

“Kami berharap teman-teman Tim Desa Lestari dan PEKA dapat memperkuat bidikan BUMK yang dijalankan anak-anak muda kampung kami,” ujar Suparno saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (16/11) lalu. 

Suparno mengaku peran BUMK di Sumber Agung masih perlu diperkuat organisasi agar perannya terasa dalam pembangunan perekonomian pedesaan atau kampung melalui wirausaha kampung. “Dengan demikian gerak pembangunan fisik dan ekonomi bisa seiring sejalan,” imbuhnya. 

Kampung Sumber Agung memiliki perhatian besar terhadap BUMK. Umumnya kampung dan desa lain, Sumber Agung juga mulai menyiapkan penyertaan modal awal untuk mendorong kiprah BUMK Mandiri Sejahtera untuk tahun anggaran 2018 nanti.

Pada kesempatan diskusi dengan Tim Desa Lestari, Direktur BUMK Mandiri Sejahtera Hedi Darmawan merasa beruntung dengan adanya kemitraan dengan pihak ketiga seperti LSM. Pasalnya, meskipun BUMK yang dipimpinnya sebulan lalu belum mendapatkan anggaran kampung, tetapi sudah melakukan “pemanasan”dengan adanya Konsorsium PEKA di kampungnya. BUMK sudah memulai usaha produksi olahan hasil laut seperti kerupuk, dodol dan terasi.

Menurut Hedi, produk kerupuk, dodol, dan terasi asli Sumber Agung dengan bahan utama rumput laut dan udang rebon bukan hanya khas. Produk makanan asli kampung yang memanfaatkan kekayaan hasil laut Indonesia diolah tangan-tangan kreatif kelompok perempuan Sumber Agung dan dipasarkan BUMK mulai disambut antusias warga masyarakat.

“Tiga produk kami coba ternyata laris manis dibeli masyarakat kampung sendiri dan beberapa juga kampung tetangga. Ini pertanda pelung usaha baik bagi kelompok perempuan juga BUMK sendiri,” kata Hedi.

Hedi mengaku saat ini memang bahan baku rumput laut dan udang rebon untuk produksi ketiga icon kampung Sumber Agung masih bergantung dari kampung lain yakni Batu Putih. Dirinya khawatir ketergantungan bahan dari luar kampung Sumber Agung kedepan mengundang persoalan tersendiri dalam laju kesinambungan usaha kerupuk dan dodol yang tengah “naik daun”. 

Produksi kerupuk, dodol, dan terasi akan terus berjalan seiring dengan program BUMK bersama Pemerintah Kampung dan Konsorsium PEKA yang mulai memikirkan perlunya gerakan budidaya rumput laut sebagai wujud keswadayaan dan kemandirian kampung.

“Sambil tetap menjalankan produksi yang sudah jalan, kedepan kami ingin rumput laut bisa kami hasilkan sendiri dari teman-teman kelompok nelayan,” lanjut Ratna Sari, pemudi setempat yang aktif terlibat dalam kiprah Konsorsium PEKA.

Budidaya penanaman rumput laut pertama memang pernah gagal karena serangan penyu. Namun PEKA dan kelompok nelayan pantang menyerah. Konsorsium terdiri dari Yayasan PEKA Indonesia, Yayasan Lamin Segawi, Yayasan Penyu Berau, Pemerintah Kabupaten Berau, yang didukung oleh Millennium Challenge Corporation Account-Indonesia (MCCAI) kini kembali memprakarsai budidaya rumput laut dengan kelompok nelayan setempat sebagai salah satu daya dukung kemandirian memproduksi rumput laut kampung.

Awak pengurus BUMK sendiri secara khusus menyaksikan langsung penanaman rumput laut sebanyak 3,1 ton dari Bontang. Dibutuhkan waktu selama tiga hari pemasangan bibit rumput laut yang 45 hari kedepan hendaknya sudah bisa panen perdana.

Sembari menunggu hasil panen budidaya rumput laut, BUMK Mandiri Sejahtera memperkuat lembaga. Tim Desa Lestari sebagai mitra membantu BUMK Mandiri Sejahtera menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) melalui Focus Group Discussion (FGD) pengurus BUMK. Adanya SOP nantinya membuat pengelolaan BUMK berjalan dengan baik dan terarah.

Tak terkecuali, tetangga Sumber Agung yakni Kampung Giring-Giring, di Kecamatan Biduk-Biduk, juga mempersiapkan SOP BUMK guna mendukung laju industri kreatif kampung seperti produksi minyak kelapa, pengolahan serabut kelapa dan usaha layanan simpan pinjam untuk memperkuat permodalan pegiat usaha kecil menengah Giring Giring.

Tak hanya BUMK Mandiri Sejahtera di Kampung Sumber Agung, kampung tetangga juga turut memperkuat lembaga kewirausahaan desa. Kampung Giring-giring di Kecamatan Biduk-biduk mempersiapkan SOP BUMK guna mendukung laju industri kreatif. Beberapa usaha dari industri kreatif antara lain minyak kelapa dan pengolahan serabut kelapa. Selain itu, ada juga usaha layanan simpan pinjam untuk memeprkuat modal pegiat usaha kecil menengah di Giring-giring.

Konsorsium PEKA tengah mengupayakan sumber listrik untuk mendukung pelaku usaha dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kampung Sumber Agung dan Giring-giring.

Executive Committee Yayasan PEKA Indonesia Farhan memastikan Desember 2017 mendatang ada penambahan pasokan listrik tenaga surya di dua desa yang saat ini sedang dikebut untuk daya dukung sektor usaha kecil. PEKA dalam beberapa tahun menaruh perhatian besar kedua kampung di Berau ini agar geliat perekonomian semakin terlihat tumbuh sejalan dengan semangat pemerintah menempatkan desa dan kampung garda depan  pembangunan sebagaimana amanat UU Desa.

Selain pembangunan fisik, pembangunan nonfisik juga PEKA lakukan seperti pelatihan kewirausahaan baik kelompok pelaku usaha kecil, pegiat induatri kreatif, kelompok nelayan, pedagang, wirausaha muda. Sebanyak 100 ribu bibit kelapa hibrida rencananya akan ditanam di kawasan sebagai upaya peremajaan kelapa lokal. (ETG)