Indonesia Miliki Sumber Daya Filantropi untuk Bangun Desa

Peserta webinar Menggalang Sumber Daya dan Kemitraan untuk Membangun Desa bersama narasumber dan moderator (sumber: dokumentasi lembaga)

Jakarta (17/6) Sebanyak 107 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Webinar bertema Menggalang Sumber Daya dan Kemitraan untuk Membangun Desa pada Kamis (17/6) siang. Webinar tersebut diselenggarakan Penabulu Foundation dalam program Co-Evolve yang didukung European Union melalui Zoom Meetings.

Tino Yosepyn yang mewakili pengelola program Co-Evolve menyampaikan bahwa webinar tersebut bertujuan sebagai momentum bagi organisasi masyarakat sipil (OMS) dapat berbagi pengalaman dalam membangun kolaborasi antar pihak untuk pemberdayaan desa.

Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia Hamid Abidin dan Ketua Perkumpulan Desa Lestari Nurul Purnamasari menjadi narasumber pada acara webinar kali ini. Webinar selama dua jam dipandu oleh Sri Purwani.

Filantropi merupakan aktivitas yang berkaitan dengan menyumbang, berbagi dan bersedekah dengan sesama. Hamid menjelaskan filantropi memiliki sumber daya untuk membangun desa. Dirinya menyebut Indonesia memiliki potensi dan realisasi filantropi yang besar. “Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia,” katanya.

Lebih lanjut, Hamid menyebut pembangunan desa menjadi prioritas filantropi. Ada beberapa alasan, diantaranya potensi dan kultur filantropi di desa cukup kuat dan bisa digerakkan untuk pembangunan desa; desa memiliki sumber daya yang bisa jadi nilai tambah dalam bermitra, alokasi anggaran pembangunan desa cukup besar; dan program pengembangan desa menjadi produk atau program yang banyak disukai dan didukung mitra dan donatur.

Hamid menekankan pentingnya pengemasan dan penawaran program yang menarik supaya kegiatan filantropi di desa dapat berjalan sesuai rencana. “Kita berkomunikasi tidak hanya sebagai peminta sumbangan tapi sebagai entrepreneur,” ucap Hamid.

Nurul berbagi pengalaman Perkumpulan Desa Lestari selama melakukan kolaborasi dengan CSR perusahaan sebagai salah satu kegiatan filantropi antara NGO dengan perusahaan. Nurul mengaku beberapa kolaborasi yang telah dilakukan berawal dari komunikasi personal yang diformalkan menjadi komunikasi antar lembaga.

“Ketika semuanya berawal dari komunikasi personal, ada beberapa kawan dari perusahaan yang kemudian mengecek dari website. Sehingga publikasi menjadi penting untuk bisa mendapat energi dari perusahaan,” jelasnya.

Perkumpulan Desa Lestari melakukan refleksi untuk menjaga keberlanjutan kolaborasi, diantaranya nilai organisasi, kebutuhan komunitas, dan tujuan CSR perusahaan yang sinkron; komunitas atau masyarakat adalah subjek sementara PDL dan CSR perusahaan adalah mitra komunitas dalam mencapai tujuan; publikasi kegiatan dan cerita perubahan program; dan menjaga komunikasi antar lembaga secara formal dan informal.

Usai pemaparan materi, Sri Purwani selaku moderator membuka sesi tanya jawab. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan terutama tentang strategi berleasi dengan perusahaan dalam mendukung pembangunan ekonomi desa dan prioritas pembangunan desa.

Acara Webinar Menggalang Sumber Daya dan Kemitraan untuk Membangun Desa mendapat respon positif para peserta. Tidak sedikit pertanyaan dari mereka yang berkembang menjadi diskusi interaktif dalam fitur chat room maupun secara langsung kepada narasumber. Peserta berharap topik-topik tentang pemberdayaan desa dapat menjadi bahasan dalam webinar selanjutnya. (LA)