Djarum Foundation (Beritagar)

PT Djarum merupakan induk dari Djarum Group, yaitu perusahaan rokok terbesar keempat di Indonesia. Selain bisnis rokok, Djarum Group memiliki unit bisnis lain seperti bank (BCA), elektronik (Polytron), perkebunan (HPI Argo), e-commerce (Blibli.com), agen perjalanan travel (Tiket.com), media komunikasi (Mola TV), makanan dan minuman (Yuzu, Permen Fox’s, dan Crunch), produk susu (MilkLife), kopi (Delizio Caffino dan Kopi Tubruk Gadjah), dan media (Lokadata, sebelumnya bernama Beritagar).

Djarum Foundation sebagai organisasi nirlaba bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempertahankan kelestarian sumber daya alam sebagai upaya memajukan Indonesia melalui Bakti Sosial Djarum Foundation. Salah satunya yaitu meningkatkan pembangunan desa di sekitar kantor pusat PT Djarum di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Peningkatan pembangunan desa yang dilakukan melalui pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mengembangkan perekonomian desa. Pendirian BUMDes dipilih karena sejalan dengan Peraturan Menteri Desa PDTT (Permendes) Nomor 4 Tahun 2015 tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Potensi sumber daya desa merupakan modal dalam mengembangkan BUMDes. Potensi-potensi itu perlu dioptimalkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat melalui kelembagaan usaha yang bermanfaat bagi pihak-pihak terkait.

Beritagar (sekarang bernama Lokadata) dan Perkumpulan Desa Lestari berkolaborasi melakukan rangkaian kegiatan penguatan kapasitas Pengelola BUMDes dan Pendamping Profesional Desa Kabupaten Kudus sebagai upaya pengembangan potensi beberapa desa. Tujuannya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat di desa-desa penerima manfaat program dengan meningkatkan pemahaman tentang potensi pembangunan ekonomi desa; meningkatkan kapasitas pengelola BUMDes terkait identifikasi potensi usaha, pemilihan jenis usaha, dan menyusun dokumen perencanaan unit usaha BUMDes; dan meningkatkan kapasitas pengelola BUMDes dalam mengimplementasikan visi, misi, dan program BUMDes secara berkelanjutan berbasis studi kasus keberhasilan BUMDes lain.

Sebanyak 16 desa menjadi lokasi sasaran dengan masing-masing desa diikuti oleh lima orang. Desa sasaran meliputi antara lain Desa Rahtawu, Desa Garung Lor, Desa Glagah Kulon, Desa Megawon, Desa Terban, Desa Jati Kulon, Desa Lambangan, Desa Karangworo, Desa Wonosuco, Desa Kauman, Desa Ploso, Desa Sidomulyo, Desa Colo, Desa Nganguk, Desa Berugenjang, dan Desa Mijen, yang merupakan benefisieris program.

Ada dua kegiatan besar yang dilakukan dalam kolaborasi ini, yaitu asesmen pada desa mitra program untuk melakukan analisis kebutuhan peningkatan kapasitas dan pendekatan dalam pengembangan usaha BUMDes dan Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi desa mitra program berdasarkan kebutuhan hasil dan asesmen.

Peningkatan kapasitas pengelola BUMDes dan Pendamping Profesional dilakukan melalui seminar dan pelatihan sebanyak tiga seri. Seri pertama berjudul Semiloka Mengungkit Inovasi dan Potensi Desa untuk Membangun Ekonomi Perdesaan memberikan pemahaman tentang potensi pembangunan ekonomi desa melalui BUMDes. Pelatihan seri kedua bertujuan agar pengelola BUMDes paham menyusun rencana usaha dengan tahap identifikasi potensi desa, mengenal rantai nilai bisnis, melakukan analisis dalam menentukan produk usaha dengan SWOT, penyusunan BMC (Business Model Canvas) serta menyusun perencanaan bisnis yang disertai dengan simulasi dan proyeksi modal BUMDes. Pada pelatihan seri terakhir, peserta dilatih mengelola BUMDes agar mampu merancang usaha BUMDes sebagai tindak lanjut praktis dari keikutsertaan para peserta pelatihan—dalam hal ini mengimplementasikan visi, misi, dan program BUMDes.

Kedua kegiatan besar itu menghasilkan beberapa capaian, antara lain Dokumen Hasil Asesmen kebutuhan peningkatan kapasitas dan pendekatan pengembangan usaha BUMDes, pemahaman pemerintah desa akan potensi pembangunan ekonomi desa melalui BUMDes bagi pemerintah desa dan pengelola BUMDes, dan kemampuan pengelola BUMDes melakukan identifikasi potensi desa dan pemilihan jenis usaha BUMDes berbasis identifikasi potensi. Selain itu, pengelola BUMDes mampu menyusun dokumen perencanaan unit usaha BUMDes, dan visi, misi, program, dan kegiatan BUMDes sebagai upaya keberlanjutan kelembagaan BUMDes.

Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas

Bogor (22-23/9) – Sebanyak 40 orang mengikuti Workshop Jejaring Kemitraan Desa Cerdas. Kegiatan tersebut diselenggarakan hari pada Rabu-Kamis, 22-23 September 2021 di Bigland Sentul Hotel & Convention, Bogor, Jawa Barat oleh Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Desa Cerdas merupakan salah satu program Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang mendukung pemanfaatan teknologi secara efektif dalam pengembangan solusi prioritas pengembangan desa di Indonesia. Ada lima kegiatan pada program Desa Cerdas, antara lain Jejaring Desa Cerdas, Duta Digital, Peningkatan Kapasitas, Pengembangan Ruang Komunitas Digital, dan Monitoring dan Evaluasi.

Menurut Koordinator Kreativitas dan Inovasi Kementerian Desa Berlian Anugraheni, dukungan dan kerja kolaborasi penting untuk dilakukan. “Untuk mendukung implementasi Desa Cerdas atau Smart Village, diperlukan dukungan dan kerja kolaborasi antar para pihak yang konsen pada pengembangan teknologi informasi dan desa,” kata Berlian.

Menyikapi hal ini, Kementerian Desa mengundang beberapa organisasi untuk menjadi mitra. Organisasi-organisasi mitra tersebut yaitu Yayasan Penabulu, Perkumpulan Desa Lestari, Kolla Education, dan Semut Nusantara.

Workshop yang berlangsung selama dua hari ini diawali dengan pemaparan dan diskusi terkait ruang lingkup kerja sama masing-masing mitra beserta diskusi terkait sumber daya eksisting yang bisa diimplementasikan selama program Desa Cerdas berlangsung. Keempatnya berfokus pada pemanfaatan platform digital dan penyusunan modul untuk mendukung peningkatan kapasitas masyarakat desa.

“Kita berharap dengan adanya platform ini akan lebih luas wawasan dari masyarakat desa. Tidak hanya di lingkungan saja tetapi juga antar lingkungan lain yang setema,” ungkap Setyo Dwi Herwanto, Deputi Direktur Badan Pelaksana Riset Institut Yayasan Penabulu, saat menjelaskan terkait platform digital yang telah menjadi sumber daya eksisting organisasi tersebut.

Pada kegiatan hari kedua, workshop dilaksanakan secara hybrid. Beberapa pemateri dan undangan hadir secara virtual melalui Zoom Meeting. Materi pertama tentang peningkatan kapasitas pelayanan digital pemerintahan oleh Koordinator Pelayanan Aplikasi Informatika Pemerintah Daerah Kementerian Komunikasi dan Informatika Hasyim Gautama secara offline.

Tranformasi digital pada pemerintahan bertujuan untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif, efisien, komunikatif, dan meningkatkan kinerja birokrasi melalui inovasi dan adopsi teknologi informasi yang terintegrasi. Tranformasi digital ini meliputi transformasi pada pelayanan publik, manajemen birokrasi yang efisien, dan efiisensi kebijakan publik.

Hasyim menekankan jangan sampai adanya pelayanan digital menyusahkan pengguna, yang kemudian dikonsepkan sebagai citizen centric. “Konsep citizen centric itu sangat penting agar layanan publik bisa diakses oleh masyarakat dengan mudah,” ucapnya.

Selain Hasyim, turut hadir beberapa pembicara yang menyampaikan materi secara daring, diantaranya Koordinator Penyelenggara Penelitian di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Peralatan dan Penyelenggara Informatika Riza Azmi, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pos dan Informatika Balitbang SDM Hedi Idris, dan Koordinator Literasi Digital Rizki Ameliah.

Usai penyampaian materi, peserta tampak aktif mengajukan pertanyaan pada pemateri. Pertanyaan yang disampaikan seputar smart village dan skema stimulant untuk local champion hingga duta digital. Pada sesi terakhir, para mitra menandatangi surat perjanjian kerja sama program Desa Cerdas. Kerja sama ini diharapkan bisa mendukung pemanfaatan teknologi digital di desa-desa di Indonesia. (LA)