Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas

Koordinator Pelayanan Aplikasi Informatika Pemerintah Daerah Kementerian Komunikasi dan Informatika Hasyim Gautama (kiri) dan Peneliti Pusat Pengembangan Daya Saing Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Mujianto (kanan). (sumber: dokumentasi lembaga)

Bogor (22-23/9) – Sebanyak 40 orang mengikuti Workshop Jejaring Kemitraan Desa Cerdas. Kegiatan tersebut diselenggarakan hari pada Rabu-Kamis, 22-23 September 2021 di Bigland Sentul Hotel & Convention, Bogor, Jawa Barat oleh Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Desa Cerdas merupakan salah satu program Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang mendukung pemanfaatan teknologi secara efektif dalam pengembangan solusi prioritas pengembangan desa di Indonesia. Ada lima kegiatan pada program Desa Cerdas, antara lain Jejaring Desa Cerdas, Duta Digital, Peningkatan Kapasitas, Pengembangan Ruang Komunitas Digital, dan Monitoring dan Evaluasi.

Menurut Koordinator Kreativitas dan Inovasi Kementerian Desa Berlian Anugraheni, dukungan dan kerja kolaborasi penting untuk dilakukan. “Untuk mendukung implementasi Desa Cerdas atau Smart Village, diperlukan dukungan dan kerja kolaborasi antar para pihak yang konsen pada pengembangan teknologi informasi dan desa,” kata Berlian.

Menyikapi hal ini, Kementerian Desa mengundang beberapa organisasi untuk menjadi mitra. Organisasi-organisasi mitra tersebut yaitu Yayasan Penabulu, Perkumpulan Desa Lestari, Kolla Education, dan Semut Nusantara.

Workshop yang berlangsung selama dua hari ini diawali dengan pemaparan dan diskusi terkait ruang lingkup kerja sama masing-masing mitra beserta diskusi terkait sumber daya eksisting yang bisa diimplementasikan selama program Desa Cerdas berlangsung. Keempatnya berfokus pada pemanfaatan platform digital dan penyusunan modul untuk mendukung peningkatan kapasitas masyarakat desa.

“Kita berharap dengan adanya platform ini akan lebih luas wawasan dari masyarakat desa. Tidak hanya di lingkungan saja tetapi juga antar lingkungan lain yang setema,” ungkap Setyo Dwi Herwanto, Deputi Direktur Badan Pelaksana Riset Institut Yayasan Penabulu, saat menjelaskan terkait platform digital yang telah menjadi sumber daya eksisting organisasi tersebut.

Pada kegiatan hari kedua, workshop dilaksanakan secara hybrid. Beberapa pemateri dan undangan hadir secara virtual melalui Zoom Meeting. Materi pertama tentang peningkatan kapasitas pelayanan digital pemerintahan oleh Koordinator Pelayanan Aplikasi Informatika Pemerintah Daerah Kementerian Komunikasi dan Informatika Hasyim Gautama secara offline.

Tranformasi digital pada pemerintahan bertujuan untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif, efisien, komunikatif, dan meningkatkan kinerja birokrasi melalui inovasi dan adopsi teknologi informasi yang terintegrasi. Tranformasi digital ini meliputi transformasi pada pelayanan publik, manajemen birokrasi yang efisien, dan efiisensi kebijakan publik.

Hasyim menekankan jangan sampai adanya pelayanan digital menyusahkan pengguna, yang kemudian dikonsepkan sebagai citizen centric. “Konsep citizen centric itu sangat penting agar layanan publik bisa diakses oleh masyarakat dengan mudah,” ucapnya.

Selain Hasyim, turut hadir beberapa pembicara yang menyampaikan materi secara daring, diantaranya Koordinator Penyelenggara Penelitian di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Peralatan dan Penyelenggara Informatika Riza Azmi, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pos dan Informatika Balitbang SDM Hedi Idris, dan Koordinator Literasi Digital Rizki Ameliah.

Usai penyampaian materi, peserta tampak aktif mengajukan pertanyaan pada pemateri. Pertanyaan yang disampaikan seputar smart village dan skema stimulant untuk local champion hingga duta digital. Pada sesi terakhir, para mitra menandatangi surat perjanjian kerja sama program Desa Cerdas. Kerja sama ini diharapkan bisa mendukung pemanfaatan teknologi digital di desa-desa di Indonesia. (LA)