Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas

Robiatul Adawiyah memaparkan materi tentang panduan menyusun silabus. (sumber: dokumentasi lembaga)

Bogor (11/10) – Pusat Pengembangan Daya Saing Desa, Daerah Tertinggal Transmigrasi BPIDDTT Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengadakan Workshop Penyusunan Modul Tata Kelola Desa Cerdas. Sebanyak tiga belas orang dari berbagai stakeholder mengikuti kegiatan ini di Horison Icon Hotel Bogor, Jawa Barat.

Workshop ini merupakan kegiatan lanjutan dari program Desa Cerdas oleh Kementerian Desa yang bekerja sama dengan beberapa organisasi sebagai mitra. Penyusunan modul pada tahapan awal bertujuan untuk menyusun materi peningkatan kapasitas Duta Digital, Kader Digital, dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital.

Menurut Dosen Tetap Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Robiatul Adawiyah, koneksi internet menjadi penting untuk mengaplikasikan program Desa Cerdas. Hal ini dia sampaikan saat pemberian materi tentang Panduan Menyusun Silabus pada Senin (11/10). “Kalau digital yang paling penting koneksi internet di desa. Sebagus apapun modul yang disusun, kalau lokasi desa tidak terjangkau jaringan internet akan menjadi kendala,” kata Robiatul.

Modul sebagai panduan pelaksanaan program Desa Cerdas perlu dibuat sebagai pendekatan pelatihan yang menghubungkan hard skill dan soft skill dalam materi pembelajaran. Lebih lanjut, Robiatul mengatakan bahwa pelatihan yang selaras antara hasil pembelajaran dan metode penyajian yang sesuai dengan keragaman peserta pelatihan.

Ada empat judul modul yang telah direncanakan sebagai panduan menjalankan program Desa Cerdas, salah satunya Pemanfaatan Sumber Pendapatan Desa untuk Desa Cerdas. Pada penyusunan modul tersebut, Kementerian Desa dibantu oleh dua mitra Desa Cerdas, yaitu Yayasan Penabulu dan Perkumpulan Desa Lestari.

Sebelumnya, Yayasan Penabulu dan Perkumpulan Desa Lestari telah menyusun beberapa modul. Deputi Direktur Badan Pelaksana Riset Institut Yayasan Penabulu Setyo Dwi Herwanto berpendapat bahwa konten modul jauh lebih penting daripada bentuk dan sebutannya. “Apapun bentuknya, yang penting modul bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas duta digital dan kader digital,” kata Setyo.

Sementara Direktur Perkumpulan Desa Lestari Nurul Purnamasari menekankan pada modul yang berkelanjutan. “Dari pengamatan saya, bahwa apapun namanya itu (re: modul) tidak berhenti untuk menjadi bahan pelatihan tetapi panduan panjang untuk Desa Cerdas. Sehingga bisa dipakai kapan saja, dan bisa dipakai desa-desa yang belum menjadi lokus Desa Cerdas,” ucapnya.

Koordinator Pengembangan Teknologi Tepat Guna Pusat Pengembangan Daya Saing Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Kementerian Desa Sumarwoto berharap penyusunan modul bisa mewakili pilar-pilar Desa Cerdas yang meliputi mobilitas cerdas, tata kelola cerdas, ekonomi cerdas, masyarakat cerdas, hidup cerdas, dan lingkungan cerdas.

“Harapannya enam pilar Desa Cerdas bisa setidaknya terwakili dengan penyusunan modul,” kata Sumarwoto. (LA)