Mengenal Peran dan Urgensi Data dalam Pembangunan Desa

Jakarta (22/12) – Sekretariat Lokadaya menyelenggarakan webinar bertajuk Ungkit Desa Lewat Data secara daring pada Selasa (22/12). Sekitar 52 partisipan hadir pada ruang materi dan diskusi Zoom Meeting. Acara ini dimulai pada pukul 14.00 WIB.

Berangkat dari beberapa permasalahan seperti pemberian bantuan dan penanganan Covid-19 pada masyarakat desa yang tidak tepat sasaran karena kekurangan dan akurasi data yang minim, webinar ini bertujuan untuk membantu melihat peran data dalam pembangunan desa.

Nurul Purnamasari dari Perkumpulan Desa Lestari sebagai narasumber pertama mengatakan bahwa data menjadi isu krusial pada pembangunan desa. Data yang tidak ter-update menyebabkan perencanaan desa lebih banyak menjurus dengan “katanya”. Sehingga pembangunan desa pun menjadi tidak maksimal dan tepat guna.

Maka membangun data serta pembaruannya yang dilakukan secara rutin dan berkala menjadi penting sebagai dasar pengambilan keputusan perangkat desa dalam merencanakan pembangunan desa ke depan. “Mengapa kita mendorong data? Untuk membuat perencanaan di awal tahun depan,” kata Nurul.

Nurul juga menekankan soal transparansi dan akurasi pengambilan keputusan desa dalam kaitannya dengan data berbasis digital. “Ketika sudah masuk ke dunia digital, apapun keputusan di desa, para warga desa yang merantau ke luar daerah desa tersebut juga bisa mengetahui situasi, kondisi, serta perkembangan desa,” tambahnya.

Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah mind-set masyarakat desa tentang data yang rumit. Yudistira Soeherman, narasumber lain dari Perkumpulan Desa Lestari, mengatakan data tidak selalu soal membangun sistem yang rumit.

“Banyak sekali yang terjebak dengan pemikiran bahwa data itu sistem IT. Kita harus memberikan pemahaman kepada desa bahwa data bukan melulu soal membangun sistem. Bahkan mengoperasikan excel itu jadi bagian dari produksi data,” kata Yudistira.

Eko Sujatmo dari Perkumpulan Desa Lestari sebagai narasumber ketiga pada webinar ini menyebutkan bahwa desa memiliki kedaulatan atas data. Menurutnya, desa harus punya kemampuan sendiri untuk mengambil, mengelola, dan memanfaatkan data.

“Ketika desa punya kedaulatan data, maka desa punya posisi tawar,” ucap Eko.

Usai pemberian materi, beberapa peserta menyampaikan pertanyaan seputar kedaulatan data hingga menggiring data agar bisa digunakan oleh desa. Diskusi pun semakin aktif ketika membahas keterkaitan data dengan mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa.

Webinar Ungkit Desa Lewat Data mendapat respon positif dari partisipan. Adanya webinar ini diharapkan mampu memberikan wawasan serta kesadaran tentang pentingnya data bagi desa dalam pembangunan yang tepat menuju desa mandiri. (LA)

Bimtek Duta Digital, Langkah Awal Wujudkan Desa Cerdas yang Berkelanjutan

Jakarta (15/12) – Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Duta Digital terpilih Tahun 2021. Sebanyak 48 peserta dari 18 kabupaten di Indonesia serta 10 peserta dari PPJF, PPDSM, P3MD Kementerian Desa dan Balai Latihan Masyarakat (BLM) mengikuti kegiatan ini selama tujuh hari pada Selasa hingga Senin (14-20/12) di REDTOP Hotel & Convention Center, Jakarta.

Kegiatan Bimtek diselenggarakan dalam rangka melaksanakan kegiatan Desa Cerdas (Smart Village). Selain itu, juga sebagai bekal kepada Duta Digital melaksanakan tugas dan tanggung jawab di wilayah desa di kabupaten masing-masing.

Menurut Dahri Iskandar, Duta Digital dari Kabupaten Kampar, duta merupakan sosok yang dianggap cerdas dan terdepan. Hal itu dia sampaikan kepada Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar hadir pada Rabu (15/12) malam.

Abdul Halim Iskandar yang biasa disapa Gus Menteri mengatakan 48 Duta Digital nantinya akan bertugas di lima desa di kabupaten masing-masing. Dirinya mengingatkan supaya para duta untuk berkomitmen meningkatkan kesejahteraan desa. “Duta Digital tetap ingat bahwa tujuan program pembangunan desa tetaplah untuk kesejahteraan warga,” katanya.

Gus Menteri juga menekankan pelaksanaan Desa Cerdas tidak berhenti sampai program tersebut selesai, melainkan berkelanjutan. “Jangan sampai ketika program selesai, kecerdasannya hilang. Itu jangan sampai terjadi. Saya berharap disiapkan betul sehingga (Desa Cerdas) bisa berjalan sampai kapanpun,” ujar Gus Menteri.

Untuk mencapai Desa Cerdas yang berkelanjutan, para peserta Bimtek belajar dan melakukan diskusi terkait konsep Desa Cerdas, Tata Kelola Pemerintahan Desa, Pilar Desa Cerdas, dan Desain Berbasis Pengguna. Selain itu Duta Digital juga melakukan praktik fasilitasi Desa Cerdas.

Perkumpulan Desa Lestari sebagai salah satu mitra turut memfasilitasi para peserta Bimtek. Nurul Purnamasari dan Eko Sujatmo sebagai fasilitator memberikan materi serta memulai diskusi tentang Tata Kelola Pemerintahan Desa dalam hubungannya dengan Desa Cerdas.

Ni Putu Khrinia Suandari, peserta Bimtek dari Balai Latihan Masyarakat Denpasar, mengaku sangat terkesan dengan fasilitator dan materi-materi yang disajikan pada rangkaian Bimtek ini.

“Sejauh ini sudah berjalan dengan baik. Dari segi pengisi dan materi. Dan, keren-keren banget buat saya. Itu beyond expectation saya. Saya tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan pemateri semenyenangkan ini,” kata Nia.

Nia berharap teman-teman peserta Bimtek, terutama Duta Digital, memiliki komitmen untuk mewujudkan pembangunan desa melalui program Desa Cerdas. Terlebih, menurutnya, sebagian besar Duta Digital telah memiliki pengalaman terjun ke masyarakat sebelumnya. Sehingga besar harapan Nia bisa menerapkan materi, diskusi, dan praktik yang dilakukan pada Bimtek di lapangan dan berkelanjutan.

“Teman-teman bisa mengaplikasikan apa yang didapat sekarang, mempraktikannya nanti ketika memang sudah terjun ke lapangan. Jadi memang terwujudnya Desa Cerdas ini sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya ingin semuanya berjalan sustainable.” Tutup Nia. (LA)

Pelatihan BUMDes Kudus Tingkatkan Kapasitas Pengelola

Pelatihan peningkatan dan penguatan kapasitas BUMDes oleh Djarum Foundation telah dilakukan sejak 2019. Per akhir 2021, Djarum Foundation memberikan pelatihan kepada 32 desa di Kabupaten Kudus selama tiga tahun terakhir bersama Perkumpulan Desa Lestari dan Lokadata.

Penyelenggaraan berbagai pelatihan ini dilatarbelakangi potensi sumber daya yang ada di desa-desa Kudus. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Perkumpulan Desa Lestari dan Lokadata, ada 45 BUMDes yang berdiri di Kabupaten Kudus dengan rincian 41 BUMDes berstatus dasar selebihnya BUMDes berstatus tumbuh. Kondisi desa-desa tersebut membutuhkan peningkatan kapasitas.

“Pelatihan ini dirancang untuk membekali para peserta pelatihan yang notabene adalah tim perumus atau tim persiapan pendirian BUMDes dan para pengurus BUMDes agar mampu mendirikan BUMDes serta memiliki rencana usaha yang direncanakan secara matang,” kata Koordinator Program Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelola BUMDes Kudus Semester II Tahun 2021 Eko Sujatmo.

Sebelum melakukan pelatihan semester ini, Eko bersama tim dari Perkumpulan Desa Lestari dan Lokadata melakukan asesmen kepada 14 desa yang berhasil lolos seleksi administrasi. Mayoritas desa berencana mendirikan usaha pengelolaan sampah dan air bersih, selebihnya pengelolaan wisata desa.

Kendati demikian tantangan pun tidak bisa dihindari. “Rendahnya kapasitas sumber daya manusia dan pengurus yang kurang fokus karena memiliki pekerjaan lain. Selain itu dukungan modal dari desa masih fokus pada penanganan Covid-19,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, mengadakan pelatihan penguatan kapasitas pengelolaan BUMDes menjadi penting. Sejak pelatihan daring pada April-Mei lalu, Perkumpulan Desa Lestari dan Lokadata sudah berkeinginan mengadakan pelatihan secara tatap muka karena membawa lebih banyak benefit, diantaranya komunikasi lebih efektif, ketersediaan waktu lebih longgar, minim distraksi informasi, dan mampu membangun hubungan emosional antara fasilitator dan peserta.

Pelatihan yang diadakan secara tatap muka di bulan November ini menjadi momentum yang sangat tepat karena desa-desa akan mendirikan dan mengembangkan BUMDes. Selama enam hari, para peserta mengikuti pelatihan di Wisma Karyawan Djarum Kudus. Peserta nampak’ antusias pada pelatihan kali ini. “Meskipun dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu, mereka bisa mengikuti (kegiatan) tepat waktu,” kata Eko.

Eko juga mengatakan mereka ingin pendampingan sebagai lanjutan dari pelatihan. Bahkan beberapa desa sudah merencanakan pelatihan yang akan dilakukan oleh desa sendiri karena merasa belum cukup sehingga memerlukan materi tambahan.

Usai pelatihan, peserta mulai melakukan sosialisasi, pembuatan SK Tim Perumus dan menyelesaikan rencana bisnisnya. Selanjutnya tim Perkumpulan Desa Lestari dan Lokadata melakukan penilaian terhadap 14 desa peserta. Nantinya akan dipilih minimal empat desa untuk mengikuti pendampingan yang dimulai pada Januari 2022.

Vice Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation Achmad Budiharto berharap pelatihan peningkatan kapasitas pengelola BUMDes ini bisa meningkatkan skill dan kapasitas dalam menjalankan dan mengembangkan unit usaha di masing-masing desa. “Agar ekonomi desa makin maju dan sejahtera dengan berkembangnya usaha BUMDes.” kata Budi.