Skip to content

Liputan

Pemutakhiran Data Desa Masih Perlu Ditingkatkan
20 June 2022
[SIARAN PERS] Dana Abadi LSM: Menciptakan Lingkungan Pendukung untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi Lokal
01 June 2022
Perkumpulan Desa Lestari Membuka Rekrutmen Staf Baru
24 May 2022

Cerita Perubahan

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu
23 April 2022
Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas
10 April 2022
Desa Lestari dan Lokadata Dampingi 4 BUMDes di Kudus
21 February 2022

Hibrida Ancam Eksistensi Jagung Lokal di Lamaholot

Direktur LSM Barakat Benediktus Bedil saat jumpa pers bersama LSM Desa Lestari di Lewoleba, NTT pada Rabu (23/3) (sumber: mediaindonesia.com)

EKSISTENSI jagung titi, pangan lokal khas Lamaholot (wilayah yang terdiri atas pulau Lembata, Solor, Adonara, Larantuka dan Alor), terancam punah.

Pasalnya, pengembangan jagung jenis hibrida yang semakin masif oleh pemerintah, menggerus eksistensi pangan lokal dari bahan jagung (pulut, nama jagung lokal biasa disebut).

“Kita harus perangi jagung hibrida ini. Saya menduga Hibrida adalah kebijakan pro kapitalis. Kondisi ini diperparah juga dengan pemakaian Pupuk dan pestisida. Banyak tanaman akan hilang,” ujar Direktur LSM Barakat, Benediktus Bedil, Rabu (23/3/2022) di Lewoleba.

Ia menandaskan, pemerintah, eksekutif maupun legislatif hanya memiliki project oriented yang juga mengancam kearifan lokal.

“Dulu kita tidak mengenal stunting. Orang Lamaholot perawakannya tinggi besar. Tetapi generasi sekarang banyak kena stunting. Ini pengaruh pola makan yang bergeser,” ungkap Benediktus Bedil.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk memerangi penggunaan bibit hibrida dengan cara apapun.

“Pola tanam, konsumsi dan kehidupan yang menjadi warisan nenek moyang harus dikembalikan,” ujar Benediktus Bedil.

Sementara itu, Kor Sakeng, aktivis LSM lainnya, menandaskan, ada pola sentralistik benih tanaman pangan yang digerakkan kaum kapitalis yang didukung oleh Pemerintah.

“Ada perbedaan kerangka  berpikir antara mengembalikan pola konsumsi warisan nenek moyang, berbeda dengan kerangka berpikir kaum kapitalis. Praktek sentralistik benih tanaman pangan ini harus segera diakhiri,” ujar Kor Sakeng. (OL-13)

Penulis Artikel: Alexander P. Taum
Diterbitkan oleh Media Indonesia pada Rabu, 23 Maret 2022 dengan tautan asli https://m.mediaindonesia.com/nusantara/480126/hibrida-ancam-eksistensi-jagung-lokal-di-lamaholot