Lembaga Kerapu Nasional Jalin Kerja Sama dengan BBI Anambas

Anambas (23/4) – Lembaga Kerapu Nasional (LKN) mengunjungi ke kantor Balai Benih Ikan (BBI) Anambas pada Sabtu (23/4). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka memperkenalkan diri sebagai lembaga swasta yang baru bergerak di bidang pembenihan dan budidaya ikan kerapu. Tidak hanya itu, LKN ingin menjalin kerja sama dengan BBI Anambas.

Sama seperti BBI Anambas, LKN juga melakukan pembenihan kerapu. Hanya saja jenis kerapu yang dibudidayakan berbeda. LKN membudidayakan ikan kerapu jenis sunuk sementara BBI Anambas melakukan pembenihan terhadap ikan kerapu macan. Secara teori dan proses pembenihan yang dilakukan terdapat kesamaan. Perbedaan terletak pada teknis budidaya saja.

Pada kunjungan tersebut, LKN dan BBI Anambas juga melakukan diskusi singkat terkait pengalaman dan pengetahuan terkait pembenihan dan budidaya yang dilakukan. LKN sebagai lembaga baru yang berjalan di bidang pembenihan ikan kerapu masih perlu banyak belajar dan mengambil ilmu pembenihan dari BBI Anambas yang telah lama menjalankan program pembenihan ikan kerapu.

Ketua BBI Anambas Azianto membuka lebar kesempatan, baik belajar maupun kerja sama dengan pihak manapun, termasuk LKN. “Silakan semua kelompok ataupun perorangan yang ingin mulai belajar atau sekadar berdiskusi terkait budidaya ikan kerapu untuk berkunjung ke BBI Anambas. BBI dengan senang hati menyambut semua pihak yang ingin belajar pembenihan,” ucapnya.

Saat ini LKN masih melakukan berbagai percobaan dan inovasi untuk mendapat standar operasional prosedur yang tepat dalam pembenihan, terutama pada kegiatan kultur dan perawatan pakan alami. LKN meminta beberapa sampel alga dan rotifera dari BBI Anambas sebagai pembanding dengan alga dan rotifer yang mereka kembangkan.

BBI Anambas berharap keberadaan LKN dapat saling menguntungkan dan membantu secara rutin, berbagi pengetahuan dan pengalaman pembenihan. Hal serupa juga disampaikan oleh pendiri LKN Lukman Hartono.

“Saya harap BBI Anambas dan LKN dapat bekerja sama daling mendukung untuk kegiatan pembenihan ikan kerapu, baik dari pemeliharaan larva hingga pemeliharaan pakan alami.” Kata Lukman. (AMR)

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu

Balai Benih Ikan (BBI) Anambas menjadi salah satu pemasok bibit ikan kerapu berukuran 12 sentimeter kepada para pembudidaya ikan kerapu di Kepulauan Anambas. Bibit tersebut merupakan hasil pendederan ikan kerapu macan berukuran 5 sentimeter selama kurang lebih 2 bulan hingga ukuran bertambah menjadi 12 sentimeter.

Saat ini penjualan bibit ikan kerapu mengalami kendala. Ikan kerapu milik nelayan budidaya yang telah dibesarkan hingga ukuran siap konsumsi (1 kilogram) banyak yang belum terjual ke pasar. Hal ini disebabkan oleh kedatangan kapal-kapal penampung ikan kerapu dari Hongkong dan Republik Rakyat Tiongkok hanya datang satu kali dalam sebulan di Anambas. Akibatnya, nelayan budidaya ikan kerapu belum memiliki modal untuk membeli bibit kerapu lagi.

“Dua bulan belakangan ini tidak banyak kapal luar negeri yang masuk dan bersandar di Kepulauan Anambas. Setidaknya hanya satu kapal Hongkong yang masuk dalam satu bulan. Hal ini berpengaruh kepada penjualan ikan kerapu di pasar Anambas,” cerita Kepala Bagian Pemasaran Pang Hitam saat forum diskusi bersama pengurus BBI Anambas lainnya pada bulan ini.

Untuk mengatasi kendala itu, Pang Hitam menilai perlu ada strategi yang tepat untuk menjual habis bibit ikan hasil pendederan. Sehingga pendederan trip baru bisa segera dimulai, “BBI Anambas perlu strategi pemasaran baru untuk menggaet pelanggan-pelanggan baru. Sehingga usaha pendederan ini terus berputar,” katanya.

Pang Hitam mengundang pelanggan baru dari pulau lain dengan memanfaatkan jaringan yang ada. Pelanggan baru tersebut merupakan orang-orang yang ingin memulai usaha pembesaran ikan kerapu. Selain itu BBI Anambas mengajak kerjasama dengan penampung yang memiliki banyak anggota untuk mengajak anggotanya membeli bibit ikan kerapu. BBI Anambas memberikan harga khusus kepada nelayan anggota sebagai bentuk kontribusi BBI terhadap masyarakat nelayan.

Manajer Program Pendampingan BBI Anambas dari Desa Lestari Aan Mujibur Rohman berharap benih ikan kerapu hasil pemijahan mandiri BBI Anambas mampu dipasarkan seluas-luasnya. “Dengan dukungan pasar yang baik serta mampu menembus pasar global seperti Hongkong, Malaysia, Singapura, dan negara lainnya, tentu akan memberi dampak baik bagi kesejahteraan masyarakat di Anambas—terutama kelompok nelayan yang aktif dalam usaha budidaya ikan.” Ujar Aan. (AMR)

Kementerian Desa Selenggarakan Bimtek bagi Kader Digital

Yogyakarta (10/4) – Pusat Pengembangan Daya Saing Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi para Kader Digital dari desa lokus program Desa Cerdas. Kegiatan ini berlangsung selama satu minggu, pada Jumat sampai Kamis (8-14/4) di tiga region, yaitu Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Untuk Region Yogyakarta diadakan di Hotel Sagan Heritage.

Co-fasilitator Bimtek Zainal Abidin melihat masih banyak peserta yang belum begitu paham mengenai kondisi desa masing-masing. Menurut Zainal yang juga Duta Digital dari Desa Sidorejo, Situbondo, hal itu disebabkan latar belakang peserta yang beragam.

“Karena latar belakang peserta bermacam-macam. Ada dari perangkat desa dan non-perangkat desa. Terkait pemahaman kondisi desa, perencanaan pembangunan desa, dokumen pembangunan desa, banyak yang belum kenal,” katanya.

Fasilitator dari Perkumpulan Desa Lestari, Nurul Purnamasari mengatakan nantinya Kader Digital akan banyak berinteraksi dengan desa karena nantinya berkantor di desa. Maka, mereka perlu aktif di desa masing-masing.

“Kader Digital akan membaur dengan masyarakat, (Kader Digital) harus tahu banyak hal yang terjadi di desa. (karena) Singgungan Desa Cerdas banyak sekali, tidak harus soal digitalisasi saja. Maka mereka perlu aktif di berbagai aktivitas kemasyarakatan di desa, baik dalam kegiatan maupun proses perencanaan,” terang Nurul pada Bimtek hari ketiga, Minggu (10/4).

Nurul juga mengingatkan pada Kader Digital untuk aware dengan dokumen-dokumen desa karena mereka bisa mengusulkan program desa dan melakukan pengawasan di masa depan. “Kader Digital akan sering berinteraksi dengan desa. Selain mengusulkan kegiatan, Kader Digital perlu ikut proses pengawasan,” katanya.

Kegiatan Bimtek ini diadakan sebagai peningkatan kapasitas Kader Digital dalam rangka pelaksanaan program Desa Cerdas. Kader Digital Zulvina Octyaningsih menilai sejauh ini pelatihan Bimtek berjalan lancar meski di tengah kondisi puasa Ramadhan. Menurutnya, materi yang disampaikan juga bagus dan rinci, serta penyampaian oleh fasilitator cukup baik.

Zulvina berharap ilmu dan wawasan yang telah diperoleh selama Bimtek bisa diimplementasikan dengan baik. “Harapan saya dan Duta Digital bisa melaksanakan program ini dengan baik, memaksimalkan apa yang ada di desa, serta membuat kemajuan-kemajuan yang lebih baik dengan saling bersinergi,” Ujar Zulvina.

Zainal juga berharap Kader Digital memahami kondisi, program, hingga dokumen-dokumen desa. “Kader Digital bisa paham apa yang terjadi di desa, mulai dari penyusunan program desa dalam APBDes, perencanaan di RPJMDes dan RKB, agar kegiatan-kegiatan Desa Cerdas ini bisa dimasukkan ke dalam proses perencanaan pembangunan kemudian dieksekusi hingga berhasil dan sukses.” tutupnya.

Bimtek ini merupakan pembekalan kepada Kader Digital dari 350 desa, yang berasal dari 18 kabupaten, diadakan dua gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan serentak secara luring di Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Sedangkan gelombang kedua dilaksanakan secara daring pada 18-22 April 2022. Kegiatan ini bagian dari implementasi Desa Cerdas tahun pertama. (LA)

Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas

Balai Benih Ikan (BB) Anambas mulai melakukan pemijahan ikan kerapu pada 1-7 April 2022 lalu. Pemijahan dilakukan terhadap ikan kerapu berjenis macan di KJA. Ada beberapa langkah yang harus dilewati selama proses pemijahan; seleksi indukan, mempersiapkan bak media pemeliharaan larva, pemijahan, dan memanen telur.

Sebelum melakukan seleksi, indukan kerapu dibius dengan ethylene glycol monopheyl ether 20 ppm terlebih dahulu agar tidak stress. Seleksi dapat dilakukan setelah tubuh indukan kerapu miring dan tidak meronta saat dipegang.

“Seleksi indukan ini bertujuan untuk mendapat indukan kerapu jantan dan betina yang digabung ke dalam keramba untuk proses pemijahan,” kata Tim Ahli BPBL Batam Beni yang datang untuk mendampingi proses pembenihan di BBI Anambas.

Kepala bagian Produksi BBI Anambas Rio turut me-monitor selama seleksi. “Monitoring indukan kerapu dilakukan pada malam hari karena indukan kerapu berlangsung pada malam hari. Biasanya telur ikan kerapu siap panen mulai bermunculan di dalam keramba pada pagi hari.” Katanya.

Indukan jantan yang lolos seleksi menghasilkan sel sperma berwarna putih pekat. Sementara indukan betina yang siap dipijah telah berisi sel telur di rahimnya. Pada proses seleksi indukan bulan ini, ditemukan satu indukan betina dan tujuh indukan jantan yang siap dimasukkan ke satu keramba untuk melalui proses pemijahan.

Selanjutnya bak pemeliharaan larva dipersiapkan. “Media pemeliharaan perlu dipersiapkan dengan baik dan sempurna untuk mencegah risiko kematian larva akibar error di media pemeliharaan,” jelas Pendamping Lapangan BBI Anambas Budi Utomo.

Pada proses ini, bak diisi air laut sebanyak 60 persen dari volume air yang disaring filterbag. Tujuannya agar algae dan rotifera sebagai pakan larva tidak langsung luber keluar. Aerasi sebagai asupan oksigen utama dipasang sesuai kebutuhan dengan titik stone air diberi jarak sekitar 20 cm dari dasar bak untuk mencegah agar kotoran yang mengendap di dasar bak tidak teraduk selama pemeliharaan berlangsung. Bak inkubasi telur juga perlu disiapkan.

Setelah indukan dan bak pemeliharaan larva siap, indukan jantan dan betina kerapu digabungkan ke jaring baru yang sudah dipasang hapa untuk mengantisipasi telur supaya tidak lepas. Indukan pun menghasilkan telur di hari kedua pemijahan. Jumlah telur terus meningkat di hari keempat dan kelima.

Telur-telur tersebut dimasukan ke bak inkubasi agar dapat menetas menjadi larva. Biasanya larva terbentuk sekitar 18 sampai 22 jam setelah telur menetas. Larva kerapu yang baik akan mengembang di permukaan. Setelahnya larva dipindahkan ke bak pemeliharaan selama 45 hari hingga berukuran tiga sentimeter.

Secara keseluruhan, proses pemijahan ikan kerapu di BBI Anambas sudah sesuai prosedur. Namun larva tidak bertahan lama. Penyebab kematian larva kemungkinan karena kualitas pakan alami yang kurang baik.

BBI Anambas akan selalu mengevaluasi kegagalan serta memberikan inovasi-inovasi terbaru agar pemeliharaan larva berjalan baik. “Harapannya BBI mampu melakukan inovasi pada pemijahan ikan kerapu, baik secara alami maupun hybrid.  Kedepannya BBI akan dikembangkan tidak hanya pada pemijahan indukan kerapu saja, tetapi juga merambah ke jenis ikan lainnya yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Sehingga hal ini menjadi pembelajaran baik bagi masyarakat untuk bersama BBI mengembangkan potensi potensi benih ikan lainnya dengan pemijahan secara mandiri.” Tutup Manajer Program Pendampingan BBI Anambas Aan Mujibur Rohman. (AMR)

BBI Anambas Berhasil Lakukan Pemijahan Mandiri Kerapu Macan

Anambas (6/4) – Balai Benih Ikan (BBI) Anambas berhasil melakukan pemijahan ikan kerapu macan secara mandiri. Sebanyak enam ekor indukan jantan dan enam indukan betina yang terpilih dari seleksi indukan sejak Sabtu (2/4) menghasilkan telur-telur yang berhasil menetas pada Selasa-Rabu (5-6/4).

Idealnya proses pemijahan dilakukan saat masa bulan gelap pada Maret lalu. Namun pada saat itu, kesiapan indukan masih belum maksimal. “Kondisi sperma indukan jantan masih belum matang sedangkan kondisi (indukan) betinanya, ketersedian telur dalam perut masih terlalu muda untuk melalui proses pemijahan,” paparnya.

Melihat kondisi tersebut, maka nelayan BBI Anambas melakukan seleksi indukan pada awal April ini. Indukan terpilih pun dimasukkan ke keramba yang dipantau selama tujuh hari ke depan saat bulan gelap.

Pemantauan hari pertama dan kedua tidak menemukan keberadaan telur di keramba. Memasuki hari ketiga pada Selasa (5/4), ditemukan telur yang berisi. Telur-telur tersebut segera dipanen dengan dipindahkan ke bak inkubasi di hatchery darat. Telur yang diinkubasi berhasil menetas dan menjadi larva D-1. Larva pun dipindahkan ke bak larva BBI Anambas. Pada hari ini, Rabu (6/4) indukan kerapu macan kembali mengeluarkan telur tiga kali lebih banyak dari pemijahan hari pertama.

Hasil telur pemijahan kerapu macan (sumber: dokumentasi lembaga)

Pemijahan kerapu macan ini melalui persiapan yang panjang sejak bulan Februari lalu. Saat itu indukan jantan mendapat treatment jantanisasi menggunakan hormone metyl testosterone. Pemberian hormone dibarengi dengan pemberian pakan rucah dan ikan cumi sebagai pakan sebanyak dua hari sekali serta berbagai vitamin.

“Pemberian hormon agar mendapat beberapa indukan jantan yang siap untuk pemijahan, yang ditandai dengan adanya sperma,” kata Manajer Program Penguatan Kapasitas BBI Anambas dari Perkumpulan Desa Lestari Aan Mujibur Rohman.

Aan menjelaskan indukan betina juga mendapat treatment yang hampir sama seperti treatment indukan jantan. Hanya saja pada indukan betina tidak diberi hormon.

Keberhasilan pemijahan kerapu macan oleh BBI Anambas tidak lepas dari dukungan manajemen kelembagaan internal yang semakin baik melalui pendampingan intensif dari Perkumpulan Desa Lestari bersama Medco E&P Natuna Ltd.

“Harapannya BBI Anambas mampu menjadi sentra pembenihan ikan kerapu dan jenis lainnya di wilayah Anambas sehingga dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Anambas.” Tutup Aan. (LA)

HIVOS Adakan Lokakarya Kolaboratif bagi Koalisi VCA

Kupang (31/3) – Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (HIVOS) menyelenggarakan Lokakarya Kolaboratif: Konsolidasi Narasi dan Strategi Aliansi Program “Suara Aksi Perubahan Iklim Berkeadilan Indonesia atau Voices for Just Climate Action (VCA)” pada Senin sampai Kamis (28-31/3). Kegiatan berlangsung di Hotel NEO Eltari, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Lokakarya ini mengundang empat koalisi; Koalisi SIPIL, Koalisi KOPI, Koalisi Pangan Baik, dan Koalisi ADAPTASI yang berisi 18 organisasi mitra kerja, termasuk Perkumpulan Desa Lestari yang menjadi anggota dari Koalisi ADAPTASI. Program VCA berfokus meningkatkan kapasitas dan pembelajaran bersama, penyadartahuan dan kampanye, serta membangun rekomendasi dan mendorong dialog kebijakan dalam membangun diskursus aksi iklim solutif di tingkat lokal dan nasional, termasuk mendukung terbangunnya ketahanan iklim di masyarakat.

Selain itu kegiatan ini memiliki tujuan, salah satunya membangun kedekatan dan kerekatan antar koalisi dalam aliansi. “Biasanya koalisi itu tidak beraturan. Maka, selama tiga hari ini, kita dapat mengatur arah semua koalisi agar saling paham dan saling mengenal satu sama lain, sehingga terjadi sinkronisasi dan keselarasan, bahkan antar koalisi,” kata Ruby Emir, fasilitator pada kegiatan ini.

Berbagai aktivitas dilakukan selama empat hari lokakarya, diantaranya berbagi narasi perubahan, membangun strategi masing-masing koalisi, mengidentifikasi potensi kampanye bersama, dan merancang serta menyepakati narasi dan platform kampanye bersama.

Lokakarya yang diadakan secara hybrid berjalan lancar. Peserta terlihat aktif berdiskusi untuk menghasilkan beberapa dokumen seperti dokumen pemetaan sumber daya dan kekuatan, dokumen strategi advokasi dan komunikasi, dan dokumen mekanisme kerja bersama.

Dina Soro dari Yayasan PIKUL Koalisi SIPIL cukup antusias dengan lokakarya kali ini. “Sebelumnya, pertemuan awal hanya dihadiri perwakilan satu sampai dua orang per koalisi. Sekarang yang datang lebih banyak, (sehingga) bisa lebih banyak berbagi cerita dan pengalaman terkait kerja-kerja kita yang bisa dikolaborasikan bersama.”

Masing-masing koalisi memetakan rencana capaian implementasi program selama 4 tahun. Berdasarkan pemetaan tersebut ditemukan bahwa setiap koalisi memiliki capaian yang saling beririsan dan memungkinkan untuk saling mendukung. Koalisi ADAPTASI memiliki concern pada tahun pertama mampu melakukan penguatan pengetahuan dan kesadaran kritis komunitas terhadap fenomena dan dampak perubahan iklim. Hingga 2025 Koalisi ADAPTASI mengupayakan advokasi kebijakan daerah dan kebijakan desa di Provinsi NTT, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Rote Ndao. (LA)