Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes

Irena Nuraeni memaparkan alur pengelolaan keuangan BUMDes pada Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes di Kabupaten Kudus melalui Zoom Meeting pada Selasa (4/5). (sumber: dokumentasi lembaga)

Sleman (5/5) – Sebuah badan usaha pasti memerlukan atau bersinggungan dengan keuangan, termasuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Terlebih modal BUMDes berasal dari pihak lain, yaitu desa. Hal itu membuat BUMDes wajib mengelola keuangan dengan baik dan benar.

Melihat kondisi itu, maka BUMDes perlu melakukan penatausahaan dengan membuat Catatan Transaksi Keuangan (CTK). Penatausahaan keuangan merupakan kegiatan pencatatan seluruh transaksi keuangan, baik penerimaan maupun pengeluaran uang dalam satu periode anggaran.

Hal tersebut disampaikan oleh Irena Nuraeni dari Perkumpulan Desa Lestari saat Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes di Kabupaten Kudus secara virtual pada Selasa (4/5). Irena menilai melakukan pentausahaan keuangan sangat diperlukan.

“Penatausahaan yang tegas dan jelas akan meningkatkan efektivitas BUMDes,” katanya.

Ada beberapa prinsip sebagai dasar pengelolaan keuangan BUMDes yang tidak lepas dari prinsip keuangan desa, antara lain transparan, akuntabel, partisipatif, dan tertib dan disiplin anggaran.

Irena menyebut diperlukan idealisme dan komitmen yang tinggi dari pengurus dalam mengelola BUMDes agar penerapan keempat prinsip di atas. Sehingga BUMDes bisa berjalan sesuai dengan perencanaan.“Mengelola keuangan harus dilakukan secara tepat waktu dan tepat guna sesuai kronologi transaksi dan bukti administratif,” ujar Irena.

Pada pelaksanaan penatausahaan keuangan, BUMDes membutuhkan beberapa buku catatan keuangan, yaitu buku catatan kas dan buku pembantu. Selain mencatat transaksi keuangan pada buku catatan, BUMDes juga perlu melakukan pendokumentasian bukti keuangan internal dan eksternal.

Peserta pelatihan dari Desa Rejosari mengaku tidak ada kesulitan. Sekretaris dan bendahara BUMDes di desanya sudah paham dengan cara pengisian CTH. “Alhamdulillah, tinggal improvisasi saja,” katanya.

Lain halnya dengan peserta dari Desa Rejosari, Firman Noor Riyadi dari Desa Karangampel menganggap format CTH yang dikirimkan oleh pihak penyelenggara untuk simulasi penatausahaan sangat membantu meski banyak komponen yang harus diisi dan pengisiannya melalui laptop. “CTH sangat membantu tapi kalau yang terbiasa memakai buku, pasti lebih memilih buku,” ucap Firman.

Adanya pelatihan penatausahaan keuangan yang diselenggarakan oleh Djarum bersama Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari diharapkan bisa membantu BUMDes di beberapa desa di Kabupaten Kudus menjalankan unit usaha yang telah atau hendak dirintis. (LA)

Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes

Mohamad Tamzil menyampaikan materi tentang perencanaan dan penganggaran Modal BUMDes saat Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus melalui Zoom Meeting pada Selasa (27/4). (sumber: dokumentasi lembaga)

Sleman (28/4) – Membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi salah satu cara untuk memajukan desa sehingga berdaya dan mandiri. Meski telah memiliki potensi dan kewenangan yang menjadi prasyarat menuju kemandirian, ada beberapa hal lain yang perlu dipersiapkan untuk mendirikan BUMDes, salah satunya merencanakan keuangan.

Perencanaan keuangan menjadi penentu keberhasilan BUMDes. Sehingga menjadi penting untuk dilakukan oleh pengurus untuk menyusun rencana keuangan supaya BUMDes dapat berjalan dan tidak mengalami kerugian.

“Ketika sudah membuat perencanaan keuangan, BUMDes sudah berjalan 50 persen,” ujar Mohamad Tamzil, narasumber pada Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus secara virtual pada Selasa (27/4).

Lebih lanjut, Tamzil menambahkan perencanaan dan penganggaran modal BUMDes dilakukan di saat yang sama seperti siklus keuangan desa yang meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban. Biasanya saat-saat yang tepat menyusun rencana keuangan pada bulan April hingga Mei.

Merencanakan keuangan BUMDes dapat meyakinkan Pemerintah Desa (Pemdes) dan masyarakat untuk menyertakan modal. Adanya rencana keuangan menciptakan kepercayaan bagi Pemdes dan masyarakat untuk menginvestasikan sejumlah uang di BUMDes terkait.

“Rencana keuangan juga harus mencantumkan rincian pengeluaran dan pemasukan ke dalam satu dokumen. Dengan adanya dokumen itu, memungkinkan BUMDes lebih berkembang karena trust masyarakat terbangun,” jelas Tamzil.

Dalam menyusun rencana keuangan, ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, antara lain kemampuan keuangan desa dan kemampuan penyertaan modal masyarakat dan siklus pengelolaan keuangan desa. Selain itu standar harga barang dan jasa, aset fisik desa, ketersediaan produk, dan harga jual produk masyarakat juga menjadi pertimbangan. Keenam aspek tersebut menjadi penting diperhatikan karena pada dasarnya tujuan mendorong BUMDes untuk mendorong perekonomian desa.

Pada kegiatan pelatihan, peserta tidak hanya mendapat materi melainkan juga melakukan simulasi pengisian dokumen rencana keuangan untuk jenis usaha yang telah dipilih pada pelatihan-pelatihan sebelumnya.

Yusrul Hana, peserta dari Desa Karangampel mengaku agak kelimpungan mengisi form rencana keuangan karena ada banyak komponen yang harus dianalisa. Meski begitu, dirinya mengaku materi tentang rencana keuangan ini sangat membantu.

“Materinya sangat bermanfaat bagi kami. Ini hal baru bagi saya dan pengurus karena kami bergelut di bidang akuntansi. Semuanya sangat membantu menganalisa usaha BUMDes kami di Karangampel,” kata Yusrul. (LA)

Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing

Yudistira Soeherman memberikan contoh merek yang baik pada Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus pada Rabu (21/4). (sumber: dokumentasi lembaga)

Sleman (22/4) – Kemajuan teknologi internet masa kini mempermudah masyarakat melakukan beragam kegiatan di berbagai aspek kehidupan, salah satunya kegiatan ekonomi. Selain praktis, teknologi dan internet juga memberikan beberapa manfaat lain seperti hemat waktu, biaya, cepat, dan jangkauan luas.

Kemudahan yang ditawarkan teknologi internet menjadi peluang besar bagi pelaku usaha, termasuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk melakukan kegiatan jual-beli. Apalagi di tengah situasi yang masih pandemi Covid-19 ini, teknologi dan internet membawa lebih banyak manfaat dan kemudahan bagi masyarakat yang menimbulkan perubahan perilaku.

“Terjadi perubahan perilaku akibat dampak Covid-19 kemudian adanya teknologi internet. Yang tadinya berbelanja konvensional sekarang jadi online. Hal itu mendorong kebiasaan baru masyarakat dalam berbelanja yang lebih praktis,” kata Yudistira Soeherman, narasumber Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus pada Rabu (21/4) secara virtual.

Kegiatan jual-beli secara online membuka peluang pelaku usaha memasarkan produknya lebih luas. Tidak hanya menjangkau satu daerah tetapi bisa ke daerah-daerah lain. Agar dapat memanfaatkan internet untuk memasarkan produk, pelaku usaha harus mengenal ekosistem digital marketing.

Digital marketing adalah kegiatan promosi produk menggunakan media digital dan internet untuk menjangkau konsumen. Digital marketing memberikan beberapa manfaat bagi pelaku usaha, diantaranya produk yang dipromosikan menjangkau konsumen lebih luas, efisiensi biaya promosi, dan meningkatkan omzet penjualan.

Lebih lanjut, Yudistira menjelaskan bahwa dalam digital marketing ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu merek, media sosial, konten, dan toko online.

Merek merupakan sebuah tanda produk atau jasa. Merek yang baik adalah merek yang mudah dibaca, diucapkan, dan tidak asing di telinga, singkat, khas, dan menarik.

Keberadaan media sosial serta jumlah penggunanya yang selalu bertambah menjadi peluang bagi pelaku usaha BUMDes memasarkan produknya. Beberapa keuntungan memanfaatkan media sosial sebagai media sosial antara lain meningkatkan nilai jual produk, hemat biaya dan efektif, dan memperluas dan mengembangkan target pemasaran.

Konten yang informatif dan menarik menjadi penting untuk menghias laman media sosial usaha yang sedang dilakukan. Sehingga calon konsumen atau konsumen yang hendak mencari tahu informasi terkait produk bisa memperoleh informasi dengan jelas.

Membuka toko online juga memungkinkan pelaku usaha BUMDes menjangkau wilayah yang luas sehingga lebih mudah mendapatkan konsumen baru. Adanya toko online juga lebih hemat dari segi waktu dan biaya serta dapat memudahkan interaksi antara penjual dan pembeli.

Usai penyampaian materi, peserta pelatihan dari lima desa mengisi inventarisasi promosi pada form yang telah diberikan oleh pihak panitia. Hasilnya berupa perencanaan promosi dari beberapa produk yang akan atau sedang dikembangkan oleh BUMDes di Kabupaten Kudus.

Pelatihan tentang digital marketing ini disambut antusias oleh para peserta. Perwakilan dari Desa Janggalan mengaku materi ini sangat membantu untuk merintis usaha desa wisata di daerahnya. Harapannya, pelatihan oleh Djarum bersama Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari ini bisa menjadi bekal bagi BUMDes di Kabupaten Kudus untuk menjalankan usahanya. (LA)

Jaga Kelestarian Hutan, Masyarakat Manfaatkan Potensi Desa

Seorang pemuda Desa Rantau Jaya Udik sedang memanen madu (sumber: dokumentasi lembaga)

Lampung (11/4) – Sebanyak 23 desa penyangga yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mempunyai peran penting dalam menjaga kelestarian hutan. Mereka mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan hutan seperti air dan hasil hutan bukan kayu. Namun demi kepentingan ekonomi serta kurangnya kesadaran masyarakat, ada sebagian masyarakat yang melakukan kegiatan ilegal di dalam wilayah hutan seperti menangkap burung dan membuka lahan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat mengancam kelestarian hutan tempat hidup tiga satwa utama yakni badak, gajah dan harimau.

Sebenarnya desa-desa di sekitar wilayah TNWK menyimpan berbagai macam potensi sumber daya alam. Dari sektor pertanian dan perkebunan desa sekitar TNWK dapat menghasilkan singkong, jagung, jahe dan pisang. Hasil pertanian itu pun dijual langsung oleh masyarakat kepada pedagang tanpa melalui proses pengolahan.

Kini, budidaya pertanian dan perkebunan warga mulai terancam dengan hadirnya gajah-gajah liar, babi hutan dan kera ekor panjang yang masuk ke lahan petani. “Yang kami lakukan selama ini hanya bisa mengusir gajah-gajah itu agar kembali masuk hutan,” ungkap Jito, salah seorang warga asal Pulau Jawa yang sudah lama menetap di Desa Rantau Jaya Udik kepada Perkumpulan Desa Lestari.

Jito yang rumahnya berbatasan langsung dengan TNWK membuka usaha budidaya lebah madu. Usaha ternak lebah madu dimulai sejak tahu adanya larangan mengolah lahan di kawasan hutan. Dirinya bersama beberapa pemuda dari dusun lainnya tergabung dalam satu kelompok budidaya madu. Kelompok tersebut mereka jadikan sebagai media belajar dan saling berbagi informasi. Ada dua jenis lebah yang dipelihara yaitu lebah lanceng dan lebah lulut. “Permintaan madu cukup tinggi, seberapapun pasti laku terjual dan kadang kami kekurangan,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Labuhan Ratu VI Prayitno menyadari wilayah desanya yang berada di kawasan TNWK, selain melakukan upaya penyadaran masayarakat, pihaknya terus berupaya keras untuk meningkatkan perekonomian warganya. Upaya yang dilakukan pemerintah desa mulai merintis usaha pariwisata dengan membangun ikon desa, kios desa serta pengembangan produk-produk berbasis potensi desanya. “Kami sering berkunjung ke Jawa, membeli barang-barang agar ditiru warga kami, dan ternyata bisa,” kata Prayitno yang juga Ketua Forum Rembug Desa-desa Penyangga (FRDP).

Ia menambahkan padat karya tunai dana desa digunakan untuk menanam pisang di lahan desa seluas satu hektar. Selain warga mendapatkan upah dari pekerjaan mengolah lahan dan menanam, Prayitno berharap kedepannya dapat menghasilkan secara ekonomi. Nantinya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang akan mengelola unit-unit ekonomi yang mulai dirintis tersebut. “Kami butuh peningkatan kapasitas pengurus BUMDes dalam mengelola keuangan usaha dan administrasi keuangannya,” ujar Prayitno.

Di tempat terpisah, Plt Kepala Balai TNWK Amri mengatakan TNWK telah membangun komitmen dengan 23 desa penyangga guna menjaga kelestarian hutan TNWK. Sebagai wujud dari komitmen itu, Balai TNWK bekerja sama dengan berbagai pihak seperti akademisi dan NGO untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat. Pihaknya mengaku memerlukan dukungan dari berbagai pihak mengingat banyaknya desa dan terbatasnya anggaran. Semakin menguatnya ekonomi masyarakat desa-desa penyangga diharapkan tidak ada lagi warga yang masuk ke hutan. “Masuk ke hutan itu sebenarnya mengancam keselamatan jiwanya dan tentu mengancam keberadaan satwa di dalamnya juga,” tutur Amri kepada Perkumpulan Desa Lestari saat ditemui di Hotel Batiqa Bandar Lampung pada Minggu (11/4).

Menurut Amri, Pemerintah Desa dapat mengalokasikan anggaran dana desanya untuk kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat. Dana Desa tidak hanya dimanfaatkan untuk membangun gorong-gorong dan jalan desa. “Katakanlah yang 70 persen digunakan untuk pembangunan fisik, yang 30 persen dapat digunakan untuk kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (ES)

Cerita Kopi Dari Tabanan

Anggota Kelompok Wanita Tani mengolah kopi menjadi kerupuk (sumber: dokumentasi lembaga)

Saat ini kopi menjadi sajian minuman yang banyak digemari oleh masyarakat—mulai dari pemuda sampai dewasa. Bahkan bagi pecinta kopi wajib hukumnya mencoba berbagai sajian kopi dan jenis yang berbeda.

Pada dasarnya kopi bercita rasa pahit namun memiliki karakter masing-masing. Sebut saja kopi arabika yang manis namun ringan. Sementara kopi robusta memiliki karakter rasa seperti kayu dan karet.

Kopi arabika dan robusta banyak dijumpai di Indonesia, seperti Gayo di Aceh, Tanggamus di Lampung, dan Kintamani, Bali. Namun rupanya kedua jenis kopi itu juga banyak ditemui di Tabanan, Bali.

Kabupaten Tabanan memproduksi 3.803,77 ton kopi arabika dan 12.117,98 ton kopi robusta. Bahkan daerah ini menjadi penyumbang produksi kopi robusta tertinggi di Bali, yaitu 4.557,17 ton. Sentra produksi kopi robusta di Kabupaten Tabanan berada di Kecamatan Pupuan yang memproduksi 81,9 persen dari total produksi kopi di Kabupaten Tabanan.

Kopi robusta dari Tabanan ini memiliki cita rasa tidak terlalu pahit karena tumbuh di atas ketinggian 400-700 mdpl dan berhawa sejuk. Para petani berusaha mencari bibit unggul yang bisa menghasilkan biji kopi sempurna supaya dapat dinikmati oleh masyarakat. Bahkan, kopi robusta dari Kecamatan Pupuan telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Direktorat Merek dan Indikasi Geografis Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham Nomor BRM 3/IG/I/A/2017.

Kopi robusta dari Tabanan memiliki potensi dan peluang untuk bersaing dengan kopi produksi dari daerah lain. Untuk mencapainya, para petani perlu memiliki kesadaran yang kuat untuk menerapkan budidaya, pemanenan, dan pascapanen kopi yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menghasilkan biji kopi robusta yang berkualitas.

Melihat kondisi tersebut, Astra Internasional bersama Perkumpulan Desa Lestari melakukan pendampingan kelompok tani kopi Pupuan dan Selemadeg Barat untuk meningkatkan kemampuan pengolahan, produksi, dan pemasaran melalui program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera (KBA-DS). Program tersebut berjalan dari 2018 hingga 2020. Selama dua tahun, Astra Internasional dan Perkumpulan Desa Lestari mengadakan lima kegiatan yang berfokus pada peningkatan kapasitas petani dan teknik budidaya serta pengolahan dan pemasaran kopi.

Petani kopi dari Kecamatan Pupuan dan Selemadeg Barat mengikuti Sekolah Lapang untuk belajar teknik pemangkasan pasca panen, pemupukan, pengolahan tanah dan pemanenan petik merah. Untuk memastikan ilmu yang diberikan bermanfaat, fasilitator bersama Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Pupuan melakukan pendampingan rutin dan berkala.

Hasilnya kapasitas peserta dalam teknik budidaya pada perawatan tanaman pokok pasca panen meningkat dan membangun kesadaran peserta tentang pentingnya mengelola dan merawat terasering tanah sebagai salah satu cara untuk menghasilkan biji kopi berkualitas.

Selain teknik budidaya, petani kopi juga berhasil mengembangkan produk olahan kopi berupa kerupuk dan stik kopi. “Saya sudah puluhan tahun mengenal dan hidup dari kopi. Tapi baru tahu sekarang kopi bisa dijadikan kerupuk,” kata Prami, salah satu petani kopi dari Kecamatan Pupuan.

BUMDesma Pupuan menggunakan jaringan coffee shop untuk penjualan produk tersebut. Sementara itu KUB Alaska dari Selemadeg Barat memanfaatkan BUMDes dan Perusda Tabanan serta jaringan UMKM Kabupaten Tabanan.

Pemasaran kopi tidak hanya sebatas offline tetapi juga online. Penjualan biji kopi, kerupuk kopi, dan stik kopi bisa melalui berberapa platform, antara lain Instagram (@kba.dsa.tabanan), Facebook (Bumdesma Pupuan), dan situs desasejahteraastra.com.

Petani kopi yang juga tergabung menjadi pengurus BUMDesma Pupuan serta KUB Alaska diajarkan menyusun rencana usaha dan perhitungan untuk biaya pengeluaran satu produk serta menetapkan harga jual produk. Selain itu, mereka juga diajarkan teknik pembukuan keuangan sederhana. Sehingga mereka bisa berproses secara mandiri dan perlahan meningkatkan perekonomian. Beberapa kegiatan pelatihan dari program KBA-DS oleh Astra Internasional dan Perkumpulan Desa Lestari tentu membawa dampak baik bagi petani kopi di Pupuan dan Selemadeg Barat. Bermula dari kapasitas petani yang meningkat, harapannya kualitas kopi juga ikut meningkat. Dengan begitu, kopi robusta dari Kabupaten Tabanan bisa bersaing dengan kopi robusta dari daerah lain dan dinikmati oleh masyarakat. (LA)

Tingkatkan Potensi Desa, Petani Kakao Long Pahangai Antusias Ikuti KBA-DS

Petani kakao Long Pahangai mengikuti pelatihan produksi kakao (sumber: dokumentasi lembaga)

Selama ini daerah penghasil kakao yang terkenal di Indonesia berada di Pulau Sulawesi. Berdasarkan data yang dihimpun databoks Katadata, empat dari sepuluh daerah penghasil kakao terbesar 2018 berada di pulau tersebut, antara lain Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Selebihnya daerah penghasil kakao terbesar tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, dan NTT.

Namun belum banyak masyarakat yang tahu bahwa salah satu wilayah di Pulau Kalimantan memiliki komoditas kakao yang potensial, yaitu di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Terdapat lahan seluas 4.143.100 hektar yang tersebar di delapan kampung di Kecamatan Long Pahangai dengan potensi kakao kering mencapai hampir 250 ribu kilogram per tahun.

Meski begitu hasil produksi kakao belum dapat terserap semua. Ada beberapa kendala yang ditemui seperti akses pasar, sarana transportasi, penanganan budidaya dan pasca panen, dan keterampilan produksi produk olahan kakao yang kurang mendukung.

Samsul Diwil, salah satu petani kakao di Long Pahangai mengaku dirinya menanam kakao asal-asalan. Selama ada tanah, Samsul membuat lubang untuk ditanami kakao. Selain itu, jarak antar tanaman rapat-rapat.

Petani kakao lainnya, Hiroh Lasah, menanam kakao tanpa menerapkan teknik budidaya dan tanpa perawatan. Sehingga hasil panennya dari lahan kebun kakaonya yang seluas dua hektar itu hanya sedikit.

Melihat kondisi tersebut, Astra Internasional bersama Perkumpulan Desa Lestari mengadakan program Kampung Berseri Astra Menuju Desa Sejahtera (KBA-DS) selama 2018-2020. Tujuannya untuk mengembangkan kewirausahaan melalui penguatan kapasitas kelompok usaha dan petani kakao di Kecamatan Long Pahangai. Lima dari sebelas kegiatan yang dilakukan selama program KBA-DS berupa peningkatan teknik budidaya dan pengolahan kakao.

Kelompok tani Kecamatan Long Pahangai mengikuti Pelatihan Budidaya dan Pasca Kakao dan Pengendalian Hama Terpadu. Kegiatan itu bertujuan mengakomodir kebutuhan para petani dan pengalaman dalam budidaya kakao. Beberapa hasil pelatihan diantaranya kapasitas kader petani kakao meningkat dan pengetahuan, keterampilan, rasa percaya diri, profesionalisme, dan hasil produksi kakao meningkat. Selain itu, petani kakao juga bisa membedakan hama, penyakit, dan musuh alami kakao.

“Setelah saya bergabung dengan BPER dan mengikuti pelatihan maupun pendampingan budidaya kakao yang dilakukan oleh Astra dan Desa Lestari bersama teman-teman lainnya, banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan,” ucap Samsul yang juga menjabat sebagai manajer BPER.

Petani kakao serta BPER Suwan Keliman diajarkan mengoperasikan mesin produksi bubuk dan lemak kakao. Tujuannya supaya mesin yang merupakan bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Mahakam Ulu tersebut bisa aktif dan memberikan manfaat bagi petani kakao.

Pelatihan yang diadakan pada 25 September 2018 lalu berhasil menambah wawasan petani bahwa kakao bisa diolah menjadi bubuk dan lemak kakao. Sebelumnya mereka hanya menjual kakao dalam bentuk biji saja. Selain itu petani jadi tahu bahwa harga kakao bisa jauh lebih mahal karena kualitas kakao meningkat.

Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kakao, sebanyak 25 kelompok tani dampingan KBA-DSA mendapat pendampingan rutin pada tahap budidaya dan pengendalian hama terpadu. Praktik dilakukan rutin setiap dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Tujuannya supaya para petani bisa mengubah pola kegiatan budidaya kakao dari sistem “tanam tunggu” dan menerapkan Good Agriculture Practice (GAP). Dengan begitu, kuantitas hasil panen kakao meningkat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kualitas kakao menerapkan standar kadar fermentasi di atas 70 persen, kadar air di bawah 10 persen, dan kadar sampah di bawah 4 persen.

Para petani kakao turut belajar menciptakan produk turunan baru dari kakao, yaitu coklat bubuk siap minum. BPER menjalin kerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Long Pahangai (HIMALOPA) untuk memasarkan produk di Samarinda dan Perkumpulan Desa Lestari untuk pemasaran di Yogyakarta.

“Saya semangat untuk mengembangkan kakao di Long Pahangai semakin tinggi,” kata Hiroh, setelah mengikuti program KBA-DS.

Adanya pemberdayaan kampung dari program KBA-DS oleh Astra Internasional dan Perkumpulan Desa Lestari diharapkan bisa meningkatkan kualitas, kuantitas, serta memperluas pemasaran produksi kakao di Long Pahangai, Mahakam Ulu. Sehingga kakao produksi dari daerah tersebut bisa dikenal oleh masyarakat. Dengan begitu, kakao dapat memberikan manfaat lebih besar lagi bagi petani kakao di Long Pahangai. (LA)

Potensi Kakao dari Tepian Indonesia

Petani kakao Long Pahangai menggunakan mesin untuk mengolah biji kakao (sumber: dokumentasi lembaga)

Mahakam Ulu (9/9) – Kabupaten Mahakam Ulu adalah daerah yang berada di tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Memiliki luas 15.314,40 kilometer persegi, kabupaten ini termasuk dalam wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) karena berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia.

Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat ini memiliki potensi komoditas berupa kakao yang melimpah. Berdasarkan delapan kampung produktif di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu, tercatat ada 4.143.100 meter persegi lahan kakao.

Namun rupanya masyarakat belum memperhatikan proses budidaya dengan baik, termasuk proses pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Selain itu, model pengelolaan pasca panen masih tradisonal menggunakan peralatan sederhana secara manual. Faktor-faktor itulah yang membuat produktivitas biji kakao menjadi kurang optimal.

Melihat kondisi tersebut, PT Astra Internasional Tbk bersama Perkumpulan Desa Lestari mengadakan Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera (KBA-DS) di Kabupaten Mahakam Ulu. Tujuannya untuk memberdayakan kampung melalui kemitraan dengan dunia usaha, mengentaskan kemiskinan, dan memberikan nilai tambah yang mampu meningkatkan keuntungan bagi pendapatan masyarakat.

Sebanyak 941 petani dari 27 kelompok tani menjadi masyarakat terpapar program yang berjalan mulai 2018 hingga 2020. Kegiatan program berfokus di Kecamatan Long Pahangai dengan menyasar 13 kampung. Delapan kampung produktif yang menjadi sasaran antara lain Long Pahangai I, Long Pahangai II, Lirung Ubing, Naha Aruq, Datah Naha, Long Isun, Long Lunuk, dan Long Tuyoq.

Selama dua tahun, tim dari Perkumpulan Desa Lestari menyelenggarakan beberapa kegiatan penguatan kapasitas kelompok masyarakat secara bertahap, diantaranya Pelatihan Teknis Budidaya dan Pasca Kakao dan Pengendalian Hama Terpadu, Peningkatan Standar Kuantitas dan Kualitas Komoditas Kakao, dan Fasilitasi Pembentukan Gapoktan sebagai Pengelola Mesin Produksi Coklat.

Program KBA-DS berhasil mengembangkan komoditas kakao sebagai komoditas unggulan di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu. Selain itu, kreativitas masyarakat semakin terasah dalam menciptakan inovasi. Masyarakat Long Pahangai menjadi berdaya menghadapi persaingan pasar dan tuntutan pasar, khusunya pada komoditas kakao.

Salah satu petani kakao Samsu Diwil mengatakan pengetahuannya bertambah setelah mengikuti program tersebut. “Setelah saya bergabung dengan BPER dan mengikuti pelatihan maupun pendampingan budidaya kakao yang dilakukan oleh Astra dan Desa Lestari bersama teman-teman petani lainnya, banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan,” ungkap Samsu.

Selain itu, Samsu mengaku keikutsertaannya pada program KBA-DS turut meningkatkan produksi kakao kebunnya. Pada 2017, dirinya hanya bisa menghasilkan lima kilogram kakao per bulan. Tiga tahun kemudian, produksi kakaonya meningkat lima kali lipat menjadi 25 kilogram per bulan. (LA)

Menggali Potensi Kopi dan Bambu Tabah di Tabanan

Petani kopi mengikuti pelatihan pengembangan produk olahan kopi (sumber: dokumentasi lembaga)

Tabanan (9/9) – Kabupaten Tabanan terletak di sebelah barat daya Pulau Bali. Memiliki wilayah seluas 839,33 kilometer persegi, kabupaten ini terdiri dari 10 kecamatan yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian.

Daerah utara Kabupaten Tabanan merupakan pegunungan dengan ketinggian maksimal 2.276 mdpl di puncak Gunung Batukaru. Sementara itu, daerah selatan adalah pesisir pantai atau dataran rendah.

Keragaman topografi inilah yang membuat Kabupaten Tabanan ditumbuhi berbagai komoditas pertanian dan perkebunan seperti padi, kakao, kopi, dan bambu. Kecamatan Pupuan dan Selemadeg Barat adalah dua dari 10 kecamatan dengan komoditas kopi dan bambu.

Kecamatan Pupuan menjadi penyumbang produksi kopi robusta di Kabupaten Tabanan, yaitu sebesar 23.732,87 ton atau 81,9 persen. Kopi robusta dari daerah ini pun juga telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografi dari Direktorat Merek dan Indikasi Geografi Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Nomor BRM 3/I/IG/I/A/2017.

Tidak hanya itu, bambu tabah sudah terdaftar sebagai varietas tanaman lokal yang dilindungi di Indonesia. Bambu jenis ini juga mengandung nutrisi dan renyah.

Meski begitu, para petani belum menyadari nilai ekonomis bambu tabah. Pemilik kebun pun juga belum memahami cara budidaya bamboo tabah dengan baik. Hal itu disebabkan karena mereka belum melihat bambu tabah sebagai komoditas penting.

Melihat kondisi tersebut, PT Astra Internasional Tbk dan Perkumpulan Desa Lestari mengadakan Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera (KBA-DS) di Kecamatan Pupuhan dan Selemadeg Barat, Tabanan, Bali.

Program KBA-DS yang diselenggarakan sejak 2018 hingga 2020 ini diikuti oleh 811 petani dari 25 desa dari kedua kecamatan tersebut. Selama dua tahun, petani kopi dan bambu tabah mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan yang bertujuan memberdayakan kampung, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan benefit bagi pendapatan masyarakat dengan memberi nilai tambah.

Astra bersama Perkumpulan Desa Lestari mengembangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang dikelola oleh Koperasi Tunas Bambu Lestari, BUMDesma Pupuan, Kelompok Tani (Subak Abian), dan KUB. Bersama organisasi-organisasi tersebut, Astra dan Perkumpulan Desa Lestari sebagai fasilitator mengadakan berbagai kegiatan pelatihan sebagai usaha memberdayakan masyarakat dalam mengolah kopi dan bambu tabah.

Beberapa kegiatan pelatihan yang dilakukan antara lain Peningkatan Kualitas Produksi dan Pengemasan Rebung Bambu Tabah, Pengembangan Produk Olahan Rebung Bambu Tabah, Pengembangan Produk Olahan Kopi, dan Sekolah Lapang untuk Petani Kopi.

Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera di Tabanan, Bali berhasil memberdayakan masyarakat desa di sektor perkebunan kopi dan bambu. Prami, salah satu petani kopi, mulanya menjual kopi hasil panennya langsung ke pengepul dengan kualitas buah asalan. Sejak mengikuti program KBA-DS, Prami bisa membat produk olahan berbahan dasar kopi seperti kerupuk, stik, biskuit, dan es krim.

“Saya sudah puluhan tahun mengenal dan hidup dari kopi. Tapi baru tahu sekarang kopi bisa dijadikan kerupuk,” katanya.

Griswara, petani bambu tabah, mengaku merasakan manfaat dari program KBA-DS. Griswara menjual rebungnya tiap dua hari sekali. “Bisa menambah pendapatan di saat komoditas tidak begitu ada hasilnya,” ujar Griswara.

Hasil panen rebungnya pun juga meningkat apabila Griswara menjualnya ke koperasi. Apabila harga jual di pasar tradisional paling tinggi Rp2.500 per batang, maka rebung Griswara berkualitas grade A dihargai Rp3.000 per batang. (LA)

Akses Terbuka bagi Warga Penyandang Disabilitas di Sidamulih dan Bangunsari

Saepul Latif, penyandang disabilitas di Desa Bangunsari dan penerima manfaat program PALUMA Nusantara, mengandalkan budidaya bonsai sebagai sumber perekonomian keluarganya. (sumber: dokumentasi lembaga)

Ciamis (21/10) – Warga desa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam proses perencanaan dan pembangunan desa.  Desa Sidamulih dan Desa Bangunsari di Ciamis mulai membuka diri untuk memberikan akses bagi para penyandang disabilitas ikut aktif terlibat dalam musyawarah desa. Warga penyandang disabilitas sudah turut menentukan masa depan desa.

Kehadiran Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas hingga sekarang belum terlalu signifikan dirasakan oleh warga desa penyandang disabilitas, termasuk dalam lingkup kemasyarakatan perdesaan. Selama ini belum banyak warga penyandang disabilitas yang dilibatkan pada proses perencanaan dan pembangunan desa dalam kerangka pemberdayaan. Kebijakan dan pembangunan bagi penyandang disabilitas cenderung berbasis belas kasihan dan kurang memberdayakan.

Sekretaris Desa Sidamulih Ahen Heryanto menuturkan berdasar data Desa Sidamulih ada 80 orang warga penyandang disabilitas dengan berbagai jenis. Meskipun saat ini belum ada regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah desa namun beberapa warga penyadang disabilitas sudah diundang dan hadir dalam musyawarah desa. Tidak semua warga disabilitas mau hadir memenuhi undangan kegiatan di Desa, tapi setidaknya sebagian dari seluruh warga penyandang disabiltas terlibat.

“Kadang bagi mereka yang tidak bisa datang sendiri karena hambatan berjalan, ada relawan yang siap menjemput,” ujar Ahen yang juga sebagai Plt. Kepala Desa Sidamulih.

Ahen menambahkan pembentukan relawan-relawan yang ada difasilitasi oleh PALUMA Nusantara melalui program Membangun Ketangguhan Indonesia: Memadukan Inklusi, Manajemen Risiko dalam Pembangunan Pedesaan. Program yang sudah berjalan selama kurang lebih satu tahun ini memberikan pelatihan dan pendampingan usaha bagi warga penyandang disabilitas.

“Saat ini sedang dirintis usaha kerajinan bambu dan perikanan bagi kelompok penyadang disabilitas, yang nantinya akan menjadi unit usahanya BUMDes,” katanya.

Sekretaris Desa Bangunsari Nurcholis mengatakan ada warga penyandang disabilitas Desa Bangunsari yang menjadi anggota tim penyusun RPJM Desa. Harapannya selain memberikan akses, mereka akan lebih mengetahui kebutuhannya dan dapat diwujudkan melalui program-progam desa.

“Pemerintah Desa Bangunsari siap menganggarkan dari APBDesa untuk memberdayakan usaha-usaha penyandang disabilitas,” ucap Nurcholis.

Salah satu penyandang disabilitas tuna daksa di Desa Bangunsari Saepul Latif mengaku senang mendapat perhatian dari Pemerintah Desa.  Dirinya berharap pembangunan fisik yang ada di desa juga ramah bagi penyandang disabilitas. Terlebih kehadiran pendampingan dari PALUMA Nusantara yang menguatkan keberpihakan kepada warga penyandang disabilitas.  

“Dengan sering diundang ke desa untuk ikut musyawarah desa, kami merasa lebih diperhatikan,“ kata Saepul yang saat ini merintis usaha bonsai.

Hal senada disampaikan Herdi, penyandang disabilitas dari Desa Sidamulih yang mengaku kini lebih diperhatikan oleh Pemerintah Desa. Dirinya jadi lebih percaya diri untuk berbaur dengan warga masyarakat lainnya ketika berkumpul di balai desa. “Saya jadi banyak teman dan saudara,” ucap Herdi. (ES)

Mengenal Si Raos, Produk Unggulan BUMDes Seneng Usaha dari Bangunsari

Beras hasil produksi Kelompok Tani Dusun Kubangpari menjadi produk unggulan BUMDes “Seneng Usaha” Desa Bangunsari Ciamis (sumber: dokumentasi lembaga)

Ciamis (20/10) – Uji coba usaha BUMDes Seneng Usaha Desa Bangunsari mulai membuahkan hasil. BUMDes yang awalnya hanya bergerak di unit usaha LKM kini telah menghasilkan produk unggulan berupa nasi liwet “Si Raos”.

Berkembangnya BUMDes Seneng Usaha tak lepas pendampingan dan pelatihan yang dilakukan oleh PALUMA Nusantara melalui program Membangun Ketangguhan di Indonesia: Memadukan Iklusi, Manajemen Resiko dalam Pengembangan Ekonomi Pedesaan. Program tersebut diawali dari pembentukan Kelompok Tani Organik di Dusun Kubangpari hingga pendampingan pengemasan produk yang dihasilkan kelompok.

Ketua BUMDes Seneng Usaha Sohidin mengatakan sejak program dimulai awal tahun lalu sampai saat ini, Kelompok Tani Organik sudah berhasil panen padi perlakuan organik sebanyak dua kali.  Hasil  panen yang dijual oleh Kelompok Tani Organik dibeli oleh BUMDes untuk diolah menjadi nasi liwet. Nasi liwet olahan BUMDes dikemas dengan bermacam varian rasa dan diberi merek Si Raos, kemudian dipasarkan melalui forum-forum pameran di tingkat kecamatan, kabupaten hingga tingkat provinsi.

“Nasi liwet Si Raos ini unggulan BUMDes Bangunsari. Namun kami juga sedang mengemas produk lain seperti sale pisang dan telur asin hasil olahan kelompok usaha masyarakat desa,” kata Sohidin.

Sohidin mengungkapkan jika BUMDes menjamin harga beras perlakuan organik dari Kelompok Tani tidak akan terpengaruh dengan naik turunnya harga pasar, sebab Si Raos memiliki segmen pasar tersendiri. Melalui cara tersebut pendapatan petani di Desa Bangunsari akan semakin bertambah. Namun, petani harus tetap menerapkan pertanian organik sesuai dengan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) yang telah disepakati dalam kelompok. Selain nasinya pulen, Si Raos praktis karena dikemas dengan bumbu dan variasi rasa.

“Inilah keunggulan Si Raos, selain berasnya organik juga belum ada di tempat lain,” tandas Sohidin.

Salah satu anggota Kelompok Tani Zaenurrohman menceritakan bahwa 11 orang anggota kelompok memulai budidaya padi dengan perlakuan organik di lahan sawah milik anggota. Guna menjaga kualitas padi, kelompok tersebut menetapkan SOP bersama untuk diterapkan oleh semua anggota. Zaenurrohman maupun anggota kelompok taninya mengaku senang karena hasil padinya dibeli dengan harga tinggi, sehingga pendapatannya meningkat.

“Dulu kalau gabah yang bukan organik paling tinggi harganya 5 ribu rupiah per kilo. Sekarang dengan beralih ke organik dibeli BUMDes dengan harga Rp7 ribu ,” kata Zaenurrohman.

Sekretaris Desa Bangunsari Nurcholis menyatakan Pemerintah Desa Bangunsari siap menambah modal bagi BUMDes melalui APBDes. Setiap tahun anggaran untuk penguatan modal semakin meningkat. Apalagi setelah melihat keberhasilan awal BUMDes Seneng Usaha mampu menciptakan produk unggulan. Hal ini juga sejalan dengan program unggulan Kementerian Desa yaitu satu desa satu produk unggulan.

“Untuk anggaran pemberdayaan, khususnya penguatan ekonomi kami akan aggarkan lebih besar lagi,” kata Nurcholis. 

 Pemerintah Desa berharap agar muncul produk-produk unggulan lainnya agar semakin meningkatkan pendapatan warga dengan mengoptimalkan potensi yang ada. (ES)