Desa Cerdas

Kondisi desa terhadap akses teknologi masih belum setara dengan akses di wilayah perkotaan. Sehingga kemampuan masyarakat untuk mengembangkan layanan dasar, ekonomi lokal, serta akses ke lapangan kurang solutif dan inovatif.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama Perkumpulan Desa Lestari sebagai salah satu mitra strategis berkolaborasi melaksanakan program Desa Cerdas. Tujuannya agar transformasi pemanfaatan teknologi digital dalam upaya mendorong peningkatan kualitas layanan dasar serta pembangunan desa berbasis pemberdayaan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan dapat terwujud.

Ada enam pilar Desa Cerdas yang mendukung capaian SDG’s Desa: Mobilitas Cerdas, Tata Kelola Cerdas, Masyarakat Cerdas, Lingkungan Cerdas, Hidup Cerdas, dan Ekonomi Cerdas. Untuk mencapai enam pilar itu, desa-desa di 18 kabupaten di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali akan didampingi oleh Duta Digital dan kader-kader digital. Dengan begitu, masyarakat desa akan mampu mengidentifikasi berbagai solusi yang inovatif untuk mengembangkan layanan dasar, pengembangan ekonomi lokal, akses ke lapanagna kerja lebih baik, serta pemanfaatan teknologi lainnya; membuka peluang untuk dapat melakukan kolaborasi langsung dengan berbagai pihak, serta membuka akses masyarakat sehingga mendorong peluang kesetaraan dan akses antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Program Desa Cerdas berjalan sejak September 2021 hingga September 2024. Selama tiga tahun, Kementerian Desa bersama Perkumpulan Desa Lestari dan mitra strategis lainnya berkomitmen memberikan pelatihan dan bimbingan teknis bagi Duta Digital serta mendukung kegiatan lainnya.

Membangun Pemijahan Kerapu yang Berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Anambas Melalui Pendampingan Balai Benih Ikan dan Kelompok Nelayan Anambas

Berdasarkan data BPS, produksi ikan kerapu Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 113.368 ton, yang terdiri dari 13.464 ton hasil budidaya dan 99.904 ton hasil tangkapan. Ekspor ikan kerapu di tahun yang sama mencapai US$ 19,8 juta dengan volume 2.552 ton dengan persentase sejumlah 90% dikirim ke Hongkong. Rata-rata berat badan ikan kerapu per ekor yang di ekspor antara 500-800 gram.

Pengembangan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kepulauan Anambas menemukan beberapa permasalahan, antara lain: (1) Pengetahuan, keterampilan, dan sikap pembudidaya/nelayan yang masih rendah sehingga budidaya menjadi kurang maksimal, (2) kesadaran pengorganisasian nelayan/pembudidaya rendah dan manajemen pengelolaan kelompok lemah, dan (3) ketersediaan input produksi yang meliputi induk, benih, pakan, teknologi, dan sarana prasarana penunjang produksi yang masih terbatas.

Melihat potensi dan situasi tersebut, Medco E&P Natuna Ltd bersama Perkumpulan Desa Lestari menginisiasi sebuah program, yaitu Membangun Pemijahan Kerapu yang Berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Anambas Melalui Pendampingan Balai Benih Ikan dan Kelompok Nelayan Anambas.

Pada tahun pertama, program ini bertujuan untuk menyiapkan dan mengoptimalisasi proses pemijahan yang sudah ada; menyiapkan, mencatat, dan mengoptimalkan asset milik balai pemijahan; dan menyiapkan calon organisasi pengelola balai yang professional serta mampu berorientasi pada bisnis model pemijahan yang berkelanjutan.