Penyusunan Baseline Amplifying Voice for Just Climate Action

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari lebih dari 1.190 pulau kecil dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 5.700 kilo meter dan luas laut mencapai lebih dari 15 juta hektar. Letak tersebut membuat Provinsi NTT yang kaya akan potensi sumber daya pesisir dan laut, diantaranya perikanan, rumput laut, garam, dan potensi mutiara. Masyarakat setempat juga memiliki keunikan budaya dan tradisi lokal.

Meski begitu daerah Provinsi NTT rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim yang semakin terjadi membuka peluang potensi bahaya yang semakin tinggi. Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan memberi dampak pada tingginya tingkat kegagalan panen masyarakat yang berakibat langkanya sumber pangan masyarakat lokal. Terjadinya banjir dan gelombang kuat telah merusak habitat pesisir yang memiliki peran penting dalam penyediaan jasa ekosistem, sumber daya perikanan pesisir, serta kawasan budidaya rumput laut serta cuaca ekstrim yang membuat para nelayan di sepanjang pesisir kesulitan untuk melaut.

Koalisi Adaptasi didukung oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Hivos-Indonesia) menginisiasi program Amplifying Voices for Just Climate Actions guna berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim. Koalisi Adaptasi terdiri dari Yayasan Penabulu sebagai lead koalisi dengan anggota Perkumpulan Yapeka, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi (KPI), Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisipliner IPB (CTSS IPB), Perkumpulan Konsil LSM Indonesia (Konsil LSM), Perkumpulan Desa Lestari, Perkumpulan Sinergantara, Yayasan Koordinasi Pengkajian dan Pengelolaan Sumber Daya (Koppesda), Yayasan Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (Barakat).

Program ini bertujuan mengembangkan model kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menunjukkan posisi strategis, peran dan pengaruh kelompok/Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) lokal yang terhubung dengan jaringan OMS nasional untuk memastikan transisi iklim yang adil, inklusif, efektif dan berkelanjutan di semua tingkat pembangunan.

Pada program ini, Perkumpulan Desa Lestari sebagai salah satu anggota koalisi melakukan penyusunan baseline untuk memetakan situasi awal kondisi di lapangan dengan menghimpun temuan data secara kualitatif dan kuantitatif berkaitan dengan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dan kebutuhan apa yang dapat dilakukan dalam konteks adaptasi dan mitigasi atas perubahan iklim yang terjadi. Penyusunan baseline difokuskan pada pemetaan kebijakan, peran, dan aktor kunci secara hirarki dari pemerintah di tingkat provinsi hingga pemerintah desa. Cakupan responden tingkat provinsi yaitu Provinsi NTT, sementara cakupan pengambilan responden di level kabupaten menyasar pada 3 daerah: Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sumba Timur, dan Kabupaten Lembata.

Penyusunan baseline dilakukan selama kurang lebih dua bulan, mulai Februari hingga April 2022. Output atau luaran dari aktivitas ini berupa dokumen kajian penyusunan baseline yang secara substantif memuat peta kerentanan iklim serta konsep adaptasi dan mitigasi yang dilakukan oleh OMS dan pemerintah yang dapat ditinjau dari aspek kebijakan, ketersediaan forum-forum dalam merespon perkembangan situasi perubahan iklim yang terjadi, usaha-usaha masyarakat yang berkembang secara adaptif terhadap perubahan iklim, peran serta pengaruh media serta aktor-aktor lokal yang muncul sebagai pembawa suara yang dapat memperkuat aksi iklim.

Pemetaan Potensi Mata Pencaharian Alternatif Masyarakat Sekitar Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR)

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) merupakan kawasan pelestarian alam seluas 181.090 hektar. Wilayah TNBBBR terbagi menjadi dua, yaitu 70.500 hektar di Provinsi Kalimantan Barat dan 110.590 hektar di Provinsi Kalimantan Tengah. Taman Nasional tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi sekaligus menjadi kawasan perlindungan flora dan fauna seperti Bunga Raflesia, Kuau Kerdil Kalimantan, Katak Capacuya, dan Burung Enggang.

Terdapat masyarakat yang hidup dan bertempat tinggal di sekitar Taman Nasional. Mereka mempunyai ragam adat budaya dalam aspek peradaban—termasuk pemenuhan kehidupan sehari-hari. Mayoritas mata pencaharian penduduk di daerah sekitar (daerah penyangga) Taman Nasional yaitu bertani ladang. Mereka juga memiliki pendapatan tambahan dari pemanfaatan kayu di hutan, pemanfataan HHBK, pertambangan emas, jasa transportasi, dan perdagangan.

Persepsi masyarakat daerah penyangga terhadap keberadaan Taman Nasional dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya alam disekitarnya. Secara langsung ketersediaan sumber daya alam itu mempunyai pla hubungan dengan sumber mata pencaharian masyarakat.

Permasalahan muncul ketika mayoritas masyarakat di daerah penyangga tidak memahami apapun tentang status, peraturan atau kebijakan yang mengikat pada kawasan hutan. Selain itu tata batas antara wilayah Taman Nasional dengan desa penyangga yang belum jelas. Hal ini pun menjadi peluang gangguan bagi Taman Nasional, seperti perambahan, penebangan luar, dan perburuan yang masih terjadi di kawasan TNBBBR. Gangguan-gangguan yang terjadi berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan.

Yayasan ASRI (Alam Sehat Lestari) bersama Perkumpulan Desa Lestari menginisasi program pemetaan potensi mata pencaharian masyarakat penyangga Taman Nasional Bukit Bakat Bukit Raya (TNBBBR) berbasis sumber daya desa yang berkelanjutan. Tujuannya untuk menyediakan pilihan mata pencaharian alternative guna menekan laju deforestasi dan degradasi kawasan TNBBBR.

Program ini berjalan sejak 30 November hingga 31 Desember 2021. Selama satu bulan, Yayasan ASRI dan Perkumpulan Desa Lestari memetakan mata pencaharian masyarakat desa penyangga, mengidentifikasi potensi sumber daya alam sebagai mata pencaharian alternative masyarakat, serta melakukan identifikasi peraturan pendukung dalam menunjang mata pencaharian masyarakat menggunakan beberapa metode, antara lain focus group discussion (FGD), wawancara, dan observasi lapangan. Pemetaan ini dilakukan di dua desa di Kecamatan Menukung, Melawi, Kalimantan Barat: Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring.

Program ini menghasilkan berbagai dokumen pemetaan mata pencaharian, diantaranya data jenis dan jumlah usaha yang dilakukan oleh masyarakat desa penyangga, data jumlah usaha yang berhasil dan usaha yang gagal dari seluruh jumlah usaha yang pernah dikerjakan oleh masyarakat di kedua desa, dan data sumber bahan baku yang diperlukan dalam mengelola usaha yang dilakukan oleh masyarakat di kedua desa tersebut.

Pendampingan BUMDes Kabupaten Kudus

PT Djarum Tbk melalui Lokadata bersama Perkumpulan Desa Lestari telah bekerja sama selama tiga tahun untuk mendorong berdirinya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di desa-desa Kabupaten Kudus. Kedua lembaga tersebut berkomitmen memberikan kontribusi dalam hal membentuk, mengembangkan, dan merevitalisasi BUMDEs agar pertumbuhan ekonomi desa merata.

Sebelumnya, Beritagar (sebelum menjadi Lokadata) dan Perkumpulan Desa Lestari melakukan pelatihan bagi 16 BUMDes secara luring pada 2019. Pelatihan kedua dilakukan pada semester I tahun 2021 secara daring terhadap enam desa. Selanjutnya pelatihan ketiga di semester II tahun 2021 telah terselenggara pada November lalu.

Pasca pelatihan dua semester pada 2021, Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari sebagai pelaksana lapangan menindaklanjuti kegiatan tersebut dengan memilih empat desa untuk mendapat pendampingan mendirikan serta mengembangkan BUMDes. Keempat desa itu antara lain Desa Karangampel, Desa Janggalan, Desa Jati Kulon, dan Desa Gulang.

Pendampingan dilakukan sejak Oktober 2021 hingga Maret 2022. Tim pelaksana program melakukan berbagai kegiatan ke keempat desa, seperti pendampingan kelembagaan, pendampingan penyusunan laporan keuangan dan pertanggungjawaban, dan pendampingan penyusunan rencana usaha dan analisis kelayakan usaha.

Kegiatan-kegiatan pendampingan yang telah dilakukan berhasil meraih beberapa capaian, diantaranya verifikasi nama dan menyusun berbagai dokumen: draft Perdes AD, draft Perkades ART, draft BA Musdes, program kerja, pembukuan, proposal, analisis kelayakan usaha, hingga pertanggungjawaban.

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelola BUMDes Kudus Semester II

Berdasarkan data yang dihimpun, dari 123 desa di Kabupaten Kudus baru 45 BUMDes yang berdiri. Rinciannya 41 Bumdes berstatus dasar dan 4 lainnya BUMDes berstatus tumbuh. Padahal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi telah menetapkan prioritas penggunaan dana desa setiap tahun untuk membentuk, mengembangkan, dan revitalisasi BUMDes. Hal itu sebagai upaya pemulihan ekonomi nasional sesuai kewenangan desa setelah terdampak pandemic Covid-19.

PT Djarum Tbk melalui Lokadata telah melakukan tiga tahun kerja sama dengan Perkumpulan Desa Lestari untuk mendorong pendirian BUMDes di Kabupaten Kudus sebagai wilayah operasional usaha PT Djarum. Pada November 2021, Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelola BUMDes Kudus Semester II.

Pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman dasar bagi Kepala Desa, Pengurus, BUMDes, dan Tim Pendirian BUMDes berdasarkan PP Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa; memberikan pemahaman dan keterampulan teknis bagi pengurus BUMDes dan persiapan pendirian BUMDes terkait aspek pendirian dan perencanaan BUMDes; dan memberikan motivasi serta inspirasi agar muncul berbagai ide usaha.

Kegiatan ini merupakan pelatihan pertama yang dilakukan secara offline atau tatap muka sejak pandemi Covid-19 merebak pada awal 2020. Sebelumnya, Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari telah mengadakan pelatihan serupa secara daring melalui Zoom Meetings pada Maret – Mei 2021. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelola BUMDes Kudus Semester II dilakukan sebanyak enam pertemuan setiap hari Sabtu dan Minggu pada 13-28 November 2021 di Wisma Karyawan Djarum Kudus. Peserta sebanyak 84 orang dari 14 desa di Kabupaten Kudus.

Pada pelatihan ini menghasilkan pemeringkatan BUMDes berdasarkan hasil pelatihan melalui perhitungan kumulatif dengan memperhatikan beberapa indikator, diantaranya: hasil asesmen, proses pelatihan, hasil kegiatan pemetaan dan pemilihan jenis usaha, dan perencanaan usaha melalui mapping SWOT dan BMC.

Responsible and Sustainable Palm Oil Plantation in Indonesia

Berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, produksi minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia mencapai 47 juta ton pada 2019—yang menjadikan Indonesia negara produsen minyak sawit terbesar di dunia. Angka tersebut merupakan kontribusi produksi dari perkebunan kelapa sawit industri dan petani kelapa sawit mandiri.

Sayangnya kualitas produk hasil perkebunan kelapa sawit mandiri cenderung tidak sebaik petani yang bermitra dengan perusahaan. Sehingga menyebabkan ketimpangan antarpetani kelapa sawit. Para petani mandiri membutuhkan wadah dan system yang mampu membantu perbaikan kualitas produk serta akses pasar sebagai upaya peningkatan kesejahteraan. Pemerintah desa menjadi salah satu pihak yang memiliki wewenang pengelolaan dilematika perkebunan kelapa sawit di desa.

Penabulu Foundation bersama Perkumpulan Desa Lestari pun menginisiasi sebuah program, yaitu Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan (RESBOUND) di tiga desa model dari dua kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu Kecamatan Semitau dan Kecamatan Suhaid. Tujuannya untuk memperkuat dialog kemitraan multi-pemangku kepentingan yang tersedia untuk berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan pedesaan yang layak bagi petani kecil dan pekerja di perkebunan kelapa sawit besar.

Selama lima bulan, kedua kecamatan tersebut mengikui berbagai kegiatan seperti penyusunan tools asesmen rantai nilai komoditas kelapa sawit, pengambilan data, dan pengembangan sistem.

Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID) menjadi salah satu alat bantu yang ditawarkan bagi perangkat desa. SAID juga dapat mendukung pengambilan keputusan perangkat desa sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan desa.

Luaran yang diharapkan pada program ini adalah adanya Peta Rantai Pasok dan Rantai Nilai Komoditas Kelapa Sawit di desa model; kapasitas pemerintah desa dan kelompok petani kelapa sawit mandiri mengenai system data desa terintegrasi meningkat; dan adanya Purwarupa Sistem Data Informasi di desa model.

Yogyakarta Leadership and Enterpreneurship for Youth 2020

Menurut prediksi dari Badan Pusat Stastistik Nasional, tahun 2020 – 2024 merupakan “tahun emas” karena Indonesia akan mendapatkan jumlah tenaga kerja produktif yang sangat melimpah. Pada 2019, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia mencapai 183,36 juta orang. Situasi ini membuat kaum muda Indonesia harus berusaha kerjas mencari lapangan kerja. Di sisi lain, pemerintah dituntut untuk menyediakan lapangan kerja yang berkualitas bagi angkatan kerja berusia muda ini.

 

Pada 2018, pemerintah Kabupaten Kulon Progo mencatat jumlah lulusan Sekolah Menengah Atas adalah 2,226, sekitar 31% (690 orang) lulusan SMA tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi/Universitas. Artinya, lulusan SMA di Kabupaten Kulon Progo tersebut memutuskan bekerja. Dengan keterbatasan pendidikan, kaum muda di Kabupaten Kulon Progo juga dihadapkan dengan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang akan beroperasi pada bulan April 2019 dan pengembangan kawasan bandara metropolitan NYIA. Keberadaan NIYA merupakan tantangan sekaligus peluang baru yang belum disadari sepenuhnya olehi kaum muda di Kabupaten Kulon Progo.

JUMP! Foundation bersama Perkumpulan Desa Lestari mengadakan program Yogyakarta Leadership and Enterpreneurship for Youth 2020 yang bertujuan mendorong keterlibatan kaum muda dalam pembangunan desa. Berlokasi di Desa Pagerharjo dan Hargomulyo, Kulon Progo, program tersebut memiliki dua kegiatan berkelanjutan, yaitu Pelatihan Kepemimpinan dan Kewirausahaan bagi Kaum Muda Desa dan Pendampingan 2 kelompok kaum muda dalam mengembangkan inisiasi kewirausahaan selama Februari 2020 – 31 Januari 2021.

 

Setelah program selesai, anggota karang taruna di dua desa sebagai sasaran program dapat membuka usaha pengolahan gula kelapa dan mengembangkan rest area di kawasan lintas provinsi DIY – Jawa Tengah jalur Kulon Progo sisi utara.

Penguatan Kapasitas Pengelolaan Potensi Desa

UU Desa telah memberi mandat bahwa Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Beritagar (PT Djarum Tbk) bersama Yayasan Penabulu melalui Unit Perkumpulan Desa Lestari berkolaborasi mengembangkan BUMDes di beberapa desa yang menjadi mitra program PT Djarum Tbk di Kabupaten Kudus. Tujuannya agar gagasan usaha berkembang secara formal sesuai mandat UU Desa.

Program yang berjalan selama 5 (lima) bulan (Maret – Juli 2019) ini menyasar Perangkat Desa, Pengelola BUMDes, dan Pendamping Profesional Desa di Kabupaten Kudus. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain Kajian Kebutuhan Program, Semiloka Membangun Ekonomi Perdesaan, Pelatihan Pemetaan Potensi Desa dan Penyusunan Rencana Usaha BUMDes, dan Pelatihan Pengelolaan Keuangan BUMDes.

Program Penguatan Kapasitas Pengelolaan Potensi Desa ini menghasilkan peta kebutuhan metode dan materi pelatihan penguatan kapasitas BUMDes yang diikuti peningkatan pemahaman Perangkat Desa dan Pengelola BUMDes pada tata kelola organisasi BUMDes dan keterampilan penyusunan rencana usaha dan pelaporan keuangan BUMDes

Kampung Berseri Astra Menuju Desa Sejahtera Periode II

Kecamatan Long Pahangai di Mahakam Ulu memiliki potensi kopi namun kemampuan SDM dalam melakukan penanaman, pengolahan, dan produksi masih kurang dan kondisi geografis.

Tidak hanya di Long Pahangai, Kecamatan Pupuan di Tabanan dan Selemadeg Barat juga memiliki potensi komoditas yang sama tetapi jangkauan pasar yang belum luas menjadi masalah utama.

Melihat potensi yang ada di Long Pahangai, Mahakam Ulu dan Pupuan & Selemadeg Barat di Tabanan, ESR Division of PT Astra International Tbk meneruskan program Kampung Berseri Astra Menuju Desa Sejahtera di dua kabupaten tersebut. Tujuannya untuk mengembangkan komoditas unggulan berbasis kawasan; memberdayakan petani kopi di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu dan petani kopi di Kecamatan Pupuan dan Selemadeg Barat (Kabupaten Tabanan) untuk meningkatkan kualitas budidaya komoditas dan memperluas akses pasar.

Bersama Perkumpulan Desa Lestari, ESR Division of PT Astra International Tbk menyelenggarakan berbagai macam kegiatan selama satu tahun (22 Agustus 2019 – 21 Agustus 2020) untuk mengembangkan budidaya, pascapanen kopi hingga produksi produk turunannya. Selain itu, petani kopi sebagai sasaran program juga diajari bagaimana mengelola manajemen bisnis dan keuangannya.

Setelah program berakhir, jumlah konsumen komoditas kopi meningkat yang diikuti adanya kreasi produk turunan dari komoditas unggulan desa. Selain itu BUMDes Bersama di Kecamatan Pupuan terbentuk.

Pengembangan Dokumen Pembelajaran Program “Membangun Ketangguhan Indonesia”

Perkumpulan Paluma Nusantara merupakan implementor program “Membangun Ketangguhan di Indonesia”. Program tersebut berfokus memadukan inklusi dan manajemen risiko pada masyarakat perdesaan di Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Ciamis. Program Membangun Ketangguhan di Indonesia merupakan salah satu fokus kepedulian Perkumpulan Paluma Nusantara kepada kelompok difabel yang selama ini kurang mendapat perhatian dan ruang dalam pembangunan desa.

 

Untuk menjalankan program itu, Perkumpulan Paluma Nusantara bekerja sama dengan Perkumpulan Desa Lestari. Selama 16 bulan (Mei 2018 – Agustus 2019), kedua organisasi tersebut membuat dokumentasi pembelajaran berupa Buku Petikan Pembelajaran dan Film Dokumenter Program di Desa Rejosari dan Katongan di Kabupaten Gunungkidul serta Desa Sidamulih dan Bangunsari di Kabupaten Ciamis.

Dokumentasi buku dan film tersebut dibuat sebagai strategi untuk melihat proses, capaian hasil, dan strategi keberlanjutan di empat desa sasaran. Selain menyusun Buku Petikan Pembelajaran dan pembuatan Video Dokumenter, perangkat desa sebagai salah satu peserta sasaran mengikuti workshop Membangun Ketangguhan Indonesia: Memadukan Inklusi dan Manajemen Risiko dalam Pembangunan Perdesaan pada Agustus 2019 yang melibatkan pemangku kepentingan di tingkat desa, kabupaten, dan nasional.

Kampung Berseri Astra Menuju Desa Sejahtera Periode I

Kecamatan Long Pahangai di Mahakam Ulu memiliki potensi kakao namun kemampuan SDM dalam melakukan penanaman, pengolahan, dan produksi masih kurang dan kondisi geografis.
Tidak hanya di Long Pahangai, Kecamatan Pupuan di Tabanan memiliki potensi bambu tabah. Namun jangkauan pasar yang belum luas menjadi masalah utama.

Melihat potensi yang ada di Long Pahangai, Mahakam Ulu dan Pupuan di Tabanan, ESR Division of PT Astra International Tbk melalui program Kampung Berseri Astra Menuju Desa Sejahtera mendorong pengembangan komoditas unggulan berbasis kawasan; memberdayakan petani kakao di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu) dan petani bambu tabah di Kecamatan Pupuan (Kabupaten Tabanan) untuk meningkatkan kualitas budidaya komoditas dan memperluas akses pasar.

Bersama Perkumpulan Desa Lestari, ESR Division of PT Astra International Tbk menyelenggarakan berbagai macam kegiatan selama satu tahun (1 April 2018 – 30 Maret 2019) untuk mengembangkan budidaya, pascapanen kakao dan bamboo tabah hingga produksi produk turunan kakao dan bambu tabah. Selain itu, petani kakao dan petani bamboo tabah sebagai sasaran program juga diajari bagaimana mengelola manajemen bisnis dan keuangannya.

Setelah program berakhir, kelembagaan kelompok pengelola usaha berbasis komoditas unggulan kakao di Long Pahangai dan bambu tabah di Kecamatan Pupuan menguat. Produk unggulan desa dan inovasi tepat guna pun juga turut berkembang.