Bimtek Duta Digital, Langkah Awal Wujudkan Desa Cerdas yang Berkelanjutan

Jakarta (15/12) – Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Duta Digital terpilih Tahun 2021. Sebanyak 48 peserta dari 18 kabupaten di Indonesia serta 10 peserta dari PPJF, PPDSM, P3MD Kementerian Desa dan Balai Latihan Masyarakat (BLM) mengikuti kegiatan ini selama tujuh hari pada Selasa hingga Senin (14-20/12) di REDTOP Hotel & Convention Center, Jakarta.

Kegiatan Bimtek diselenggarakan dalam rangka melaksanakan kegiatan Desa Cerdas (Smart Village). Selain itu, juga sebagai bekal kepada Duta Digital melaksanakan tugas dan tanggung jawab di wilayah desa di kabupaten masing-masing.

Menurut Dahri Iskandar, Duta Digital dari Kabupaten Kampar, duta merupakan sosok yang dianggap cerdas dan terdepan. Hal itu dia sampaikan kepada Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar hadir pada Rabu (15/12) malam.

Abdul Halim Iskandar yang biasa disapa Gus Menteri mengatakan 48 Duta Digital nantinya akan bertugas di lima desa di kabupaten masing-masing. Dirinya mengingatkan supaya para duta untuk berkomitmen meningkatkan kesejahteraan desa. “Duta Digital tetap ingat bahwa tujuan program pembangunan desa tetaplah untuk kesejahteraan warga,” katanya.

Gus Menteri juga menekankan pelaksanaan Desa Cerdas tidak berhenti sampai program tersebut selesai, melainkan berkelanjutan. “Jangan sampai ketika program selesai, kecerdasannya hilang. Itu jangan sampai terjadi. Saya berharap disiapkan betul sehingga (Desa Cerdas) bisa berjalan sampai kapanpun,” ujar Gus Menteri.

Untuk mencapai Desa Cerdas yang berkelanjutan, para peserta Bimtek belajar dan melakukan diskusi terkait konsep Desa Cerdas, Tata Kelola Pemerintahan Desa, Pilar Desa Cerdas, dan Desain Berbasis Pengguna. Selain itu Duta Digital juga melakukan praktik fasilitasi Desa Cerdas.

Perkumpulan Desa Lestari sebagai salah satu mitra turut memfasilitasi para peserta Bimtek. Nurul Purnamasari dan Eko Sujatmo sebagai fasilitator memberikan materi serta memulai diskusi tentang Tata Kelola Pemerintahan Desa dalam hubungannya dengan Desa Cerdas.

Ni Putu Khrinia Suandari, peserta Bimtek dari Balai Latihan Masyarakat Denpasar, mengaku sangat terkesan dengan fasilitator dan materi-materi yang disajikan pada rangkaian Bimtek ini.

“Sejauh ini sudah berjalan dengan baik. Dari segi pengisi dan materi. Dan, keren-keren banget buat saya. Itu beyond expectation saya. Saya tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan pemateri semenyenangkan ini,” kata Nia.

Nia berharap teman-teman peserta Bimtek, terutama Duta Digital, memiliki komitmen untuk mewujudkan pembangunan desa melalui program Desa Cerdas. Terlebih, menurutnya, sebagian besar Duta Digital telah memiliki pengalaman terjun ke masyarakat sebelumnya. Sehingga besar harapan Nia bisa menerapkan materi, diskusi, dan praktik yang dilakukan pada Bimtek di lapangan dan berkelanjutan.

“Teman-teman bisa mengaplikasikan apa yang didapat sekarang, mempraktikannya nanti ketika memang sudah terjun ke lapangan. Jadi memang terwujudnya Desa Cerdas ini sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya ingin semuanya berjalan sustainable.” Tutup Nia. (LA)

Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas

Bogor (11/10) – Pusat Pengembangan Daya Saing Desa, Daerah Tertinggal Transmigrasi BPIDDTT Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengadakan Workshop Penyusunan Modul Tata Kelola Desa Cerdas. Sebanyak tiga belas orang dari berbagai stakeholder mengikuti kegiatan ini di Horison Icon Hotel Bogor, Jawa Barat.

Workshop ini merupakan kegiatan lanjutan dari program Desa Cerdas oleh Kementerian Desa yang bekerja sama dengan beberapa organisasi sebagai mitra. Penyusunan modul pada tahapan awal bertujuan untuk menyusun materi peningkatan kapasitas Duta Digital, Kader Digital, dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital.

Menurut Dosen Tetap Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Robiatul Adawiyah, koneksi internet menjadi penting untuk mengaplikasikan program Desa Cerdas. Hal ini dia sampaikan saat pemberian materi tentang Panduan Menyusun Silabus pada Senin (11/10). “Kalau digital yang paling penting koneksi internet di desa. Sebagus apapun modul yang disusun, kalau lokasi desa tidak terjangkau jaringan internet akan menjadi kendala,” kata Robiatul.

Modul sebagai panduan pelaksanaan program Desa Cerdas perlu dibuat sebagai pendekatan pelatihan yang menghubungkan hard skill dan soft skill dalam materi pembelajaran. Lebih lanjut, Robiatul mengatakan bahwa pelatihan yang selaras antara hasil pembelajaran dan metode penyajian yang sesuai dengan keragaman peserta pelatihan.

Ada empat judul modul yang telah direncanakan sebagai panduan menjalankan program Desa Cerdas, salah satunya Pemanfaatan Sumber Pendapatan Desa untuk Desa Cerdas. Pada penyusunan modul tersebut, Kementerian Desa dibantu oleh dua mitra Desa Cerdas, yaitu Yayasan Penabulu dan Perkumpulan Desa Lestari.

Sebelumnya, Yayasan Penabulu dan Perkumpulan Desa Lestari telah menyusun beberapa modul. Deputi Direktur Badan Pelaksana Riset Institut Yayasan Penabulu Setyo Dwi Herwanto berpendapat bahwa konten modul jauh lebih penting daripada bentuk dan sebutannya. “Apapun bentuknya, yang penting modul bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas duta digital dan kader digital,” kata Setyo.

Sementara Direktur Perkumpulan Desa Lestari Nurul Purnamasari menekankan pada modul yang berkelanjutan. “Dari pengamatan saya, bahwa apapun namanya itu (re: modul) tidak berhenti untuk menjadi bahan pelatihan tetapi panduan panjang untuk Desa Cerdas. Sehingga bisa dipakai kapan saja, dan bisa dipakai desa-desa yang belum menjadi lokus Desa Cerdas,” ucapnya.

Koordinator Pengembangan Teknologi Tepat Guna Pusat Pengembangan Daya Saing Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Kementerian Desa Sumarwoto berharap penyusunan modul bisa mewakili pilar-pilar Desa Cerdas yang meliputi mobilitas cerdas, tata kelola cerdas, ekonomi cerdas, masyarakat cerdas, hidup cerdas, dan lingkungan cerdas.

“Harapannya enam pilar Desa Cerdas bisa setidaknya terwakili dengan penyusunan modul,” kata Sumarwoto. (LA)

Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas

Bogor (22-23/9) – Sebanyak 40 orang mengikuti Workshop Jejaring Kemitraan Desa Cerdas. Kegiatan tersebut diselenggarakan hari pada Rabu-Kamis, 22-23 September 2021 di Bigland Sentul Hotel & Convention, Bogor, Jawa Barat oleh Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Desa Cerdas merupakan salah satu program Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang mendukung pemanfaatan teknologi secara efektif dalam pengembangan solusi prioritas pengembangan desa di Indonesia. Ada lima kegiatan pada program Desa Cerdas, antara lain Jejaring Desa Cerdas, Duta Digital, Peningkatan Kapasitas, Pengembangan Ruang Komunitas Digital, dan Monitoring dan Evaluasi.

Menurut Koordinator Kreativitas dan Inovasi Kementerian Desa Berlian Anugraheni, dukungan dan kerja kolaborasi penting untuk dilakukan. “Untuk mendukung implementasi Desa Cerdas atau Smart Village, diperlukan dukungan dan kerja kolaborasi antar para pihak yang konsen pada pengembangan teknologi informasi dan desa,” kata Berlian.

Menyikapi hal ini, Kementerian Desa mengundang beberapa organisasi untuk menjadi mitra. Organisasi-organisasi mitra tersebut yaitu Yayasan Penabulu, Perkumpulan Desa Lestari, Kolla Education, dan Semut Nusantara.

Workshop yang berlangsung selama dua hari ini diawali dengan pemaparan dan diskusi terkait ruang lingkup kerja sama masing-masing mitra beserta diskusi terkait sumber daya eksisting yang bisa diimplementasikan selama program Desa Cerdas berlangsung. Keempatnya berfokus pada pemanfaatan platform digital dan penyusunan modul untuk mendukung peningkatan kapasitas masyarakat desa.

“Kita berharap dengan adanya platform ini akan lebih luas wawasan dari masyarakat desa. Tidak hanya di lingkungan saja tetapi juga antar lingkungan lain yang setema,” ungkap Setyo Dwi Herwanto, Deputi Direktur Badan Pelaksana Riset Institut Yayasan Penabulu, saat menjelaskan terkait platform digital yang telah menjadi sumber daya eksisting organisasi tersebut.

Pada kegiatan hari kedua, workshop dilaksanakan secara hybrid. Beberapa pemateri dan undangan hadir secara virtual melalui Zoom Meeting. Materi pertama tentang peningkatan kapasitas pelayanan digital pemerintahan oleh Koordinator Pelayanan Aplikasi Informatika Pemerintah Daerah Kementerian Komunikasi dan Informatika Hasyim Gautama secara offline.

Tranformasi digital pada pemerintahan bertujuan untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif, efisien, komunikatif, dan meningkatkan kinerja birokrasi melalui inovasi dan adopsi teknologi informasi yang terintegrasi. Tranformasi digital ini meliputi transformasi pada pelayanan publik, manajemen birokrasi yang efisien, dan efiisensi kebijakan publik.

Hasyim menekankan jangan sampai adanya pelayanan digital menyusahkan pengguna, yang kemudian dikonsepkan sebagai citizen centric. “Konsep citizen centric itu sangat penting agar layanan publik bisa diakses oleh masyarakat dengan mudah,” ucapnya.

Selain Hasyim, turut hadir beberapa pembicara yang menyampaikan materi secara daring, diantaranya Koordinator Penyelenggara Penelitian di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Peralatan dan Penyelenggara Informatika Riza Azmi, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pos dan Informatika Balitbang SDM Hedi Idris, dan Koordinator Literasi Digital Rizki Ameliah.

Usai penyampaian materi, peserta tampak aktif mengajukan pertanyaan pada pemateri. Pertanyaan yang disampaikan seputar smart village dan skema stimulant untuk local champion hingga duta digital. Pada sesi terakhir, para mitra menandatangi surat perjanjian kerja sama program Desa Cerdas. Kerja sama ini diharapkan bisa mendukung pemanfaatan teknologi digital di desa-desa di Indonesia. (LA)