Gerakan Pembaharuan ala Saemaul Undong

Museum Saemaul Undong menjadi tonggak sejarah gerakan saemaul sejak tahun 1970an.
Museum Saemaul Undong menjadi tonggak sejarah gerakan Saemaul sejak tahun 1970an. (sumber: dokumentasi lembaga)

Yogyakarta (29/12) – Bagi kebanyakan negara berkembang munculnya sistem ekonomi kapital yang ditandai dengan penguasaan sumber daya nasional oleh negara maju kerap berbuah mengecewakan. Sering kali menempatkan nilai-nilai kesejahteraan masyarakat di nomor dua setelah keuntungan yang lebih besar dinikmati pihak pemodal. Demikian sebaliknya, sistem komunisme tanpa kelas dinilai gagal membuahkan kekayaan.

Korea Selatan dengan semangat Saemaul Undong mengajak negara-negara Asia dan Afrika berani bangkit menciptakan cara-cara strategis melawan pola ekonomi kapitalis dalam pembangunan masyarakat dan negara. Ajakan Korea Selatan bukan tanpa alasan. Sistem ekonomi kapitalis saat ini tengah menggerogoti perekonomian, seperti hadirnya perusahan raksasa Samsung yang menjerat Korea Selatan pada pola ekonomi kapitalisme. Beruntung, Korea Selatan cepat tanggap dengan menyiapkan regulasi guna membendung arus kapitalis.

Pada acara bertajuk 2016 International Saemaul Training Program for the Delegates from 8 Countries di Advanced Center for Korea Studies, Andong, Gyeongsangbuk-Do pada 28 November – 9 Desember 2016 lalu, Korea Selatan mengajak delapan negara penerima manfaat program Saemaul Undong berani menggagas adanya regulasi untuk membendung arus kuat kapitalisme dengan cara membentuk asosiasi kerjasama.

Co–Representative Of Korea Agriculture and Fishery Welfare Forum Joung Myoung Chae memantapkan kepada delapan negara berani melawan kapitalisasi ekonomi karena tidak mengenal adanya kerjasama. Kapitalisme dipandang sekadar menghasilkan persaingan ketat yang akhirnya membuahkan peperangan. Demikian dengan pola komunisme, mendasarkan pada pembagian semua secara merata yang banyak menciptakan kemiskinan.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Saemaul Globalization Foundation (SGF), Gyeongsangbuk-Do, Kyungwoon University Saemaul Academy dengan delapan negara yaitu Indonesia, Vietnam, Kamboja, Iran, Cote d’Ivoire (Pantai Gading), Guatemala, Laos, dan Kirgiztan, menyakinkan, asosiasi kerjasama seperti telah dilakukan Korea membangkitkan keberadaan desa dan negara.

Joung menyatakan asosiasi kerjasama mendorong tidak memberi tempat bagi pihak yang bertujuan kaya sendiri, tetapi kaya secara bersama. Asosiasi didirikan dalam wujud usaha yang dimiliki bersama atau orang banyak. Cara ini juga telah dipraktikkan Inggris dan Jerman yang lebih dikenal dengan istilah cooperativism, yakni menitikberatkan pada ekonomi sosial masyarakat yang utama harus dilindungi.

Penerapan asosiasi kerja sama di Korea Selatan ditandai dengan banyak berdirinya usaha oleh lima orang atau lebih. Hanya dalam kurun waktu empat tahun terakhir asosiasi kerja sama banyak berdiri. Saat ini ada 10 ribu usaha bersama. Inilah yang Joung sebut sebagai spirit Saemaul Undong yang menitikberatkan kerjasama, gotong royong dan semangat kuat untuk bertahan. Apabila sektor produk makanan saja telah dikuasi pihak lain, gejala penjajahan akan terus merambah sektor lain dalam suatu negara.

Kiat melawan sistem ekonomi kapilatalis juga disinggung Direktur National Characters Studies Ho Choi-Sang sebagai narasumber. Ia mengakui Korea Seatan maju karena kapitalisme namun lambat laun regulasi dibangun untuk melindungi pencapaian kesejahteraan rakyatnya.

Selain pentingnya regulasi asosiasi kerjasama Ho yang berpengalaman sebagai peneliti mental rakyat Korea Selatan selama 42 tahun, Ho menyatakan faktor kebiasaan keseharian amat menentukan masa depan masyarakat hendak kaya atau miskin. Ia memparkan penelitiannya bahwa setiap orang bisa kaya atau miskin dapat diamati dari kebiasaan keseharian. Mental sukarelawan perlu ditumbuhkan sebagai gerakan bersama dalam setiap negara. Unuk itulah faktor keberhasilan negara menjadi dapat maju dan kaya utamanya pemimpin negara dan kepala desa harus memiliki mental suka relawan kepada masyarakatnya.

Ho menyatakan mental pemimpin cukup menentukan negara bisa kaya. Hendaknya pemimpin yang baik dapat memotivasi masyarakat untuk bekerja keras, giat dan bersemangat. Jika negara gagal menemukan pemimpin sukarelawan, bekerja keras, giat dan bersemangat, tujuan mencapai kekayaan pastinya akan gagal pula.

Ia mengajak menengok beberapa negara menganut paham komunisme yang tidak menjadikan negara dan masyarakatnya kaya. Ho mencontohkan Rusia dan Korea Utara pada era 1975, Laos, Kamboja, Myanmar, termasuk Filipina 40 tahun silam diamana kekayaannya melebihi Korea Selatan. Tetapi, kini Korea Selatan sepuluh kali lipat lebih kaya dari Filipina.

Sebaliknya, Malaysia menemukan pemimpin yang baik dan mampu menempati peringkat 16 dunia negara kaya karena berteman Singapura. Ho menyebut dua negara tersebut sejak 1982 termasuk mengaplikasikan Saemaul Undong Korea Selatan. Ia berharap negara seperti Indonesia juga dapat menemukan pemimpin yang mempunyai tujuan memajukan masyarakat dan negaranya. Pemimpin Indonesia harus mampu membuat rakyatnya bekerja keras.

Ho mengakui jika musim atau cuaca membawa pengaruh. Cuaca panas dapat berdampak produksi rendah. Korea Selatan sendiri kondisi alamnya buruk tetapi mendorong orang tertarik melakukan penelitian. Maka solusi ditemukan, para petani membuat koperasi agar bisa mengontrol pasokan barang dan permintaan.

Dari pertemuan yang menghadirkan delapan negara penerima manfaat program Saemaul Undong, Korea Selatan berharap peserta kembali turun ke desa dan mulai membantu rakyat menemukan sosok pemimpin yang dapat mengubah mental dan sikap bekerja, punya visi yang kuat menentukan arah pembangunan desanya. Korea Selatan berkomitmen negara mitra program dapat memiliki instruktur lebih banyak dapat menerapkan semangat Saemaul Undong di mana saja. Masyarakat yang mendapat edukasi Saemaul Undong hendaknya merubah sikap menjadi sukarela, dan bekerja untuk masyarakat.

Pada acara tersebut juga turut hadir relawan dari Myanmar, Kim Youngmo, untuk berbagi pengalaman ketika dirinya berada di Pulau Sulawesi. Ia menawarkan ada enam solusi untuk memajukan bidang pertanian di Sulawesi meliputi pemilihan bibit yang bagus, pembuatan pola pertanian terasiring, pengembangan tanaman obat, peremajaan, alat pertanian, pola tunda jual. Terakhir, membangun asosiasi kerjasama yang belum banyak diyakini dapat semakin mendekatkan kesejahteraan masyarakat. (ETG)

Asosiasi Kerja Sama Pelaku Usaha Cegah Kapitalisme Gaya Baru

Kebun bawang di area Green House, menjadi salah satu andalan produksi hasil pertanian di Korea Selatan.
Kebun bawang di area Green House, menjadi salah satu andalan produksi hasil pertanian di Korea Selatan. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (8/12) – Hampir semua negara di dunia dikuasai oleh kapital besar. Bahkan muncul idiom jika dunia global sedang memasuki era kapitalisme baru. Salah satu cirinya ketika para kapitalis besar menguasai kapitalis kecil.

Tak dipungkiri jika kini Korea Selatan menjadi salah satu negara yang paling maju didunia dengan pertumbuhuan ekonomi dan pendapatan nasional yang sangat mengesankan. “Kapitalisme telah membawa kemajuan bagi negara ini,” kata Choi Sang-Ho kepada 52 peserta 2016 International Saemaul Training Program, Kamis (1/12) .

Pada kesempatan yang lain, Joung Myoung Chae, Co-Representative of Korea Agriculture and Fishery Welfare Forum, mengkhawatirkan kondisi negara yang sudah dikuasai oleh kapitalis besar. Sistem kapitalisme baru menyebabkan kesenjangan pendapatan antara penduduk di desa dan di kota. Akibatnya yang kaya makin kaya yang miskin semakin miskin. Dalam pandangan Joung, kini para pemuda desa lebih banyak memilih bekerja di kota, menjadikan para petani di desa tinggal yang tua-tua. Joung mengatakan jika tidak ada regulasi untuk mencegah ini, Korea bukan tidak mungkin akan bangkrut. Bahkan bagi negara-negara berkembang akan sangat sulit untuk mencegah sistem ini yang sudah menggurita.

Joung pun mencontohkan perusahaan internasional Samsung yang merupakan kebanggan Korea Selatan, kini 60 persen sahamnya sudah dikuasai Amerika Serikat (AS). Meskipun mampu meningkatkan pendapatan negara namun lebih banyak keuntungan yang dinikmati AS. Perusahaan-perusahan besar meningkatkan pendapatan dengan menguasai perusahaan-perusahaan kecil di Korea. Akibatnya perusahaan kecil sulit mengubah nasib lantaran sahamnya sudah dikuasai investor.

Begitu pula di bidang pertanian. Benih-benih terbaik petani juga di kuasai oleh perusahaan besar yang ada di AS seperti Monsanto dan Cargill. “Bank Negara Korea saja sebagian besar sahamnya sudah dikuasai asing,” kata Joung pada Senin (5/12).

Kapitalisme model baru yang terus dibiarkan akan menyebabkan perang gaya baru. Menurut Joung, salah satu cara untuk melindungi kondisi sosial ekonomi masyarakat adalah dengan membentuk asosiasi kerjasama pelaku usaha kecil. Sejak digagas empat tahun lalu, Korea Selatan telah mengembangkan lebih dari 10.000 asosiasi. Gagasan pokok dari asosiasi kerjasama pelaku usaha kecil dan menengah bertujuan menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat secara umum agar mampu bertahan di era kapitalis baru. Harapannya, dengan adanya asosiasi tersebut tidak akan ada pengusaha yang kaya sendiri, tetapi kekayaan diraih bersama-sama. Meskipun keuntungan yang diperoleh dari asosiasi tidak terlalu banyak, namun dipercaya akan lebih mampu bertahan dan stabil dalam menghadapi gejolak ekonomi karena tidak ada ketergantungan kepada kapitalis besar atau investor asing.

Pada kesempatan yang lain, 52 peserta pelatihan diajak mengunjungi salah satu asosiasi kerjasama terbaik di Korea Selatan pada Selasa (6/12). Asosiasi kerja sama pelaku usaha tersebut merupakan asosiasi petani yang beranggotakan lebih dari 3000 petani di desa. Asosiasi ini bergerak dalam usaha pembelian gabah petani dan ekspor beras. Beberapa petani yang sempat ditemui mengungkapkan jika keberadaan asosiasi kerja sama bidang usaha ini sangat menguntungkan karena ada jaminan kestabilan harga yang cenderung lebih tinggi. Bahkan produksi beras yang dihasilkan telah menembus pasar ekspor Malaysia, Vietnam dan China. (ES)

Peneliti Korea Selatan: Indonesia Butuh Pemimpin Kuat untuk Ubah Mental Bangsa

Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (Foto: The Korean Times)
Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (sumber foto: The Korean Times)

Gyeongsangbuk-Do (2/12) – Kekayaan merupakan impian dan cita-cita setiap manusia dan negara. Semua orang ingin kaya, tetapi kebanyakan tidak mau mengubah sikap mental dan cara bekerja sehingga tetap miskin.  Ho Choi-Sang adalah doktor dari National Characters Studies yang telah melakukan penelitian watak orang Korea Selatan selama 42 tahun. Ia menceritakan sikap mental orang Korea Selatan pada masa lalu. Selama masa kepemimpinan dua presiden sebelumnya orang Korea Selatan bermalas-malasan. Namun, setelah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee yang juga berasal dari keluarga miskin, sang presiden memotivasi perubahan mental orang Korea Selatan. “Semua orang Korea Selatan berubah menjadi pekerja keras “ tegasnya.

Ho mencontohkan 40 tahun yang lalu Filipina adalah negara yang lebih kaya daripada Korea, tetapi sekarang kondisi Korea Selatan 10 kali lebih kaya dari Filipina. Padahal Filipina sebenarnya mempunyai sumberdaya alam yang melimpah seperti Indonesia. Lain halnya dengan Malaysia yang mempunyai musim seperti Indonesia, namun negara Malaysia sekarang menempati peringkat 16 dunia negara  kaya sejak mengaplikasikan Saemaul Undong pada 1982 silam.

“Indonesia kaya sumber daya alam akan tetapi mengapa tidak maju seperti negara Korea Selatan?” tanya Kepala Desa Tanjungwangi Budi Santoso Idris yang juga merupakan salah satu delegasi dari Indonesia.

Pertanyaan tersebut sejenak menghentikan cerita sang Doktor. Ho yang sudah 30 tahun menjadi dosen ini mengakui hasil pertanian yang melimpah di Indonesia seperti beras, sayur dan buah-buahan. Namun kualitasnya masih perlu ditingkatkan agar harganya tinggi. Proses produksi yang mengolah hasil pertanian untuk menjadi barang yang mempunyai nilai tambah mesti dikembangkan, agar pendapatan masyarakat juga meningkat.

Lebih lanjut, Choi-Sang menjelaskan salah satu faktor penting agar menjadi negara atau desa kaya yaitu pemimpinnya harus mempunyai sikap mental sukarela kepada masyarakatnya. Pemimpin negara harus mempunyai mental yang kuat untuk membuat negara menjadi kaya. Pemimpin yang mampu membantu masyarakatnya untuk bekerja giat dan semangat sangat diperlukan untuk membangun desa atau negara.

“Indonesia saat ini belum mempunyai pemimpin yang dapat mempunyai tujuan yang jelas untuk maju dan belum dapat membuat masyarakatnya lebih giat bekerja,” Kata Ho tentang kondisi Indonesia.

Ho berharap agar para delegasi yang hadir ketika kembali ke tanah airnya mampu memilih pemimpin, termasuk pemimpin desa, yang memiliki misi mengubah sikap mental masyarakatnya, agar  desa mempunyai tujuan kuat dan jelas untuk mengkayakan desanya. (ES)

Saemaul Geumgo, Lembaga Keuangan Mikro ala Korea

Saemaul Geumgo turut mengedukasi dan mengubah mental masyarakat di Korea sejak tahun 1963.
Saemaul Geumgo turut mengedukasi dan mengubah mental masyarakat di Korea sejak tahun 1963.

Gyeongsangbuk-do (1/12) – Bank dan koperasi kredit barangkali sudah sangat tidak asing bagi semua orang. Kedua lembaga keuangan tersebut lebih banyak digunakan untuk menyimpan uang dan mengakses pinjaman. Di Korea Selatan ada lembaga keuangan tingkat desa yang dinamakan Saemaul Geumgo.

Saemaul Geumgo merupakan lembaga keuangan yang mirip dengan bank atau koperasi kredit. Menurut Andi Kim, Manager of International Cooperation Team (Korean Federation of Community Credit Cooperatives), Saemaul Geumgo merupakan Lembaga Keuangan ditingkat desa yang didirikan dari uang kecil warga desa. Saemaul Geumgo berdiri sejak tahun 1963 sebelum Saemaul Undong dicetuskan, hingga sekarang berkembang pesat di negara gingseng ini dan menjadi pendukung kemajuan perekonomian masyarakat.

Berdasarkan data yang disampaikan, telah berdiri 1.335 Saemaul Geumgo, 910 Koperasi Kredit, 1.133 koperasi petani dan sembilan koperasi nelayan per akhir 2015. Berdirinya Saemaul Geumgo bertujuan untuk menggalakkan budaya menabung pada masyarakat, dimana perputaran uangnya dikelola warga desa dan dipergunakan untuk warga desa. Kim menekankan bahwa yang lebih penting adalah mengubah sikap masyarakat untuk mengelola uang dan dipercayai oleh semua masyarakat. Dengan kepercayaanya masyarakat desa yang kaya maupun yang miskin menyisihkan uangnya untuk disimpan di Saemaul Geumgo.

Sebagai penunjang berkembangnya Saemaul Geumgo, pemerintah desa turut menginvestasikan modalnya, sehingga ada pembagian keuntungan yang diterima desa. Dari keuntungan yang diterima desa digunakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan, pengembangan pertanian, membangun rumah dan lainya yang besarnya ditentukan berdasarkan musyawarah warga desa.

Saemaul Geumgo lebih berpihak pada warga desa karena memberikan pinjaman kepada warga dengan bunga jauh lebih rendah daripada bank. “Saemaul Geumgo memberikan pelayanan pinjaman tanpa jaminan dengan bunga 2%, sedangkan bank dengan bunga 6 persen,“ kata Kim.

Lebih lanjut, Kim menjelaskan untuk menjadi anggota Saemaul Geumgo, warga desa harus melalui pelatihan-pelatihan terlebih dahulu, serta apabila akan mengakses pinjaman juga harus melalui pelatihan . Pelatihan ini bertujuan agar anggota mempunyai kesadaran dan pemahaman serta sikap yang baik untuk menabung.

Jin Lee, warga Korea yang menjadi penerjemah bahasa kepada delegasi Indonesia, mengisahkan kehidupan keluarganya yang dahulu miskin, sekarang mempunyai banyak tabungan. Menurutnya, berkat keikutsertaan pada Saemaul Geumgo kondisi perekonomian keluarga mengalami perubahan yang signifikan.

Saemaul Geumgo banyak berkembang pesat  sampai sekarang. Saemaul Geumgo memberikan pendidikan kepada warga desa agar memahami pelayanan dan keuntungan yang diperoleh. Semua warga desa memiliki tabungan berbagai jenis simpanan diantaranya simpanan beras, simpanan anti rokok, simpanan anti alkohol, dan beberapa jenis simpanan lainya. “Pelayananya berbeda dengan bank,” kata Jin Lee. (ES)

Saemaul Undong: Berawal dari Desa, Berkembang ke Kota, Dikenal Dunia

Eko Sujatmo (Fasilitator Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu), Sholeh Anwari Hadi (Kepala Subbidang Penguatan Potensi Masyarakat BPPM DIY), dan Budiman Setyanugraha (Kepala Urusan Perencanaan Desa Ponjong) bersama delegasi dari Guatemala.
Fasilitator Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu Eko Sujatmo, Kepala Subbidang Penguatan Potensi Masyarakat BPPM DIY Sholeh Anwari Hadi, dan  Kepala Urusan Perencanaan Desa Ponjong Budiman Setyanugraha bersama delegasi dari Guatemala. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (30/11) –  Kunci keberhasilan dari gerakan Saemaul Undong adalah dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan adanya kepemimpinan lokal desa. Berkat tiga hal itu, Korea Selatan mampu mengubah diri menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di dunia.

Saemaul Undong adalah cara murni dari Korea Selatan untuk program pengembangan masyarakat yang digagas oleh kemauan politik dari kepemimpinan nasional atas di orde untuk melarikan diri dari kemiskinan yang telah diakui dunia. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan atas Saemaul Undong, ada tiga  faktor penentu keberhasilan dari gerakan ini, yaitu dukungan pemerintah dalam memainkan peran di periode gerakan, masyarakat yang proaktif dalam implementasi gerakan, dan kepemimpinan langsung yang dimulai dari tingkat desa.

President of Korean Saemaul Undong Center So-Jin Kwang menjelaskan Saemaul Undong diaplikasikan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat desa. Pada perkembangannya, Saemaul Undong tidak hanya diterapkan di desa tapi juga menular ke kota, ke sekolah, dan pabrik, sehingga semua masyarakat Korea memiliki kemauan untuk berubah. “Saemaul Undong membuat masyarakat mempunyai mental kerjasama yang sangat efektif,” kata So Jin Kwang kepada 52 peserta 2016 International Saemaul Training Program, Selasa (29/11).

So-Jin Kwan yang pernah menjadi dosen di salah satu universitas di Vietnam menceritakan penerapan semangat kerja sama yang ada di Korea Selatan. “Dahulu kemampuan teknik orang Korea sangat rendah, sehingga produk yang dihasilkan tidak bagus. Akan tetapi setelah Saemaul Undong diterapkan di pabrik-pabrik masa kini, investor asing menjadi percaya pada kualitas produk kami.” Sang Profesor juga mengajak kepada para peserta berkenan mengaplikasikan Saemaul Undong di delapan negara mitra program SGF. “Kita pasti bisa, kita harus melakukan itu, kita harus punya mental tantangan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Former Senior Researcher of Kyungwon University Saemaul Academy Lim Ha-Sung mengatakan keberhasilan itu didorong oleh pengembangan desa yang dimulai dari diri sendiri oleh penduduk Korea. Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan untuk membangun desa hingga negeri.  Masyarakat desa mengembangkan diri dan memikirkan kemajuan desa, walaupun dukungan dari pemerintah yang sangat kecil. Hampir 70 persen penduduk Korea Selatan tinggal di desa. Tidak heran jika gerakan yang dimulai dari desa menjadi cara yang efektif

“Masyarakat desa dituntut untuk mengetahui masalah yang ada di desa, hal apa yang mendesak atau prioritas dilakukan, kemudian semua harus berpartisipasi,” katanya.

Namun, Lim mengakui tidak mudah dalam menggerakan masyarakat desa untuk ikut bersama-sama memikirkan desanya. Apalagi jumlah warga desanya sangat banyak. Saemaul Undong dapat dimulai untuk diri sendiri, maupaun dari komunitas desa yang kecil.

“Ketika masyarakat menemukan masalah dan mencari sendiri solusinya, sehingga akan tercipta masyarakat yang bertanggungjawab,” tutur Lim.

Dari delapan negara, Cote d’Ivoire, Iran, Kirgiztan, Laos, Guatemala masih berstatus calon negara mitra. Kelima negara tersebut sedang dalam tahap penelitian atau kajian untuk menentukan wilayah program. Menurut Lim Ha-Sung, program yang akan dikembangkan di negara mitra harus sudah ditentukan tujuannya agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari akibat tidak ada komitmen dari masyarakat dan pemerintah untuk merawat keberlanjutannya.

So-Jin Kwang dan Lim Ha-Sung mengapresiasi implementasi program di Indonesia yang telah menjadi kantor perwakilan terbesar di luar Korea Selatan. Di Indonesia, SGF memulai program di DIY pada 2015 di Desa Ponjong dan Desa Bleberan di Kabupaten Gunungkidul, serta Desa Sumbermulyo di Kabupaten Bantul. Menggandeng Yayasan Penabulu, SGF mengembangkan Program Desa Lestari Berwawasan Nilai-nilai Gerakan Saemaul. Pada tahun ini SGF Kantor Perwakilan Indonesia memperluas kerjasama dengan Desa Tanjungwangi, Kabupaten Subang. (ES)

Gerakan Saemaul Undong, Bermula dari Kemiskinan Negara

Hong Jong-Kyoung, Duta Besar untuk Hubungan Internasional Propinsi Gyeongsang, mengisahkan sejarah Korea Selatan dan lahirnya Saemaul Undong.
Duta Besar untuk Hubungan Internasional Propinsi Gyeongsang Hong Jong-Kyoung menceritakan sejarah Korea Selatan dan lahirnya Saemaul Undong. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (29/11) Mempunyai pengalaman masa lalu menjadi negara paling miskin di dunia, membuat Korea Selatan mendorong lahirnya gerakan Saeamaul Undong. Gerakan tersebut diciptakan oleh Presiden Park Chung He pada tahun 1970 dan terus berkembang hingga saat ini.

Itulah cerita pembuka yang disampaikan Direktur Saemaul Globalization Foundation (SGF) Lee Ji Ha dalam pembukaan 2016 International Saemaul Training Program, Senin (28/11). Pelatihan yang digagas SGF ini melibatkan 52 orang delegasi dari delapan negara, diselenggarakan di Advanced Center for Korean Studies, Andong, Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan.

Tahun ini, SGF mengundang delegasi dari Indonesia, Vietnam, Kamboja, Iran, Guatemala, Laos, Kirgisztan, dan Cote d’Ivoire (Pantai Gading) untuk mengikuti kegiatan yang digelar sejak 28 November – 9 Desember 2016. Pengembangan bidang pertanian menjadi tema utama dalam kegiatan yang merupakan kerjasama SGF dengan Pemerintah Propinsi Gyeongsang Utara (red. Gyeongsangbuk-do) dan Kyungwoon University Saemaul Academy.

Lee Ji Ha mengisahkan kondisi Korea Selatan 60 tahun yang lalu ketika terbelit kemiskinan. Akhirnya pada 1970 gerakan Saemaul Undong dicetuskan dan diyakini dapat meninggalkan kemiskinan. Kini, berkat Saemaul Undong, Korea Selatan mampu menjadi salah satu negara maju di dunia dan ingin menularkan pengalamannya keluar dari kemiskinan untuk menjadi negara maju.

“Sekarang sudah abad ke-21 tapi masih banyak negara yang belum maju, jika Saemaul Undong dijalankan di negara lain pasti akan maju juga,” ungkap Lee.

Lee Ji Ha berharap para peserta dari delapan negara yang dipilih sebagai mitra program SGF dapat mengaplikasikan hasil pelatihan di negara masing-masing. Pengalaman baru tidak saja lahir dari pemateri pelatihan, melainkan peserta pun dapat saling bertukar ide-ide baik yang kelak dapat diterapkan kepada masyarakat di desanya, termasuk nilai-nilai Saemaul.

Duta Besar untuk Hubungan Internasional Provinsi Gyeongsang Utara Hong Jong-Kyoung memaparkan sejarah berdirinya negara Korea Selatan yang mempunyai kisah kejayaan pada masa kerajaan masa lampau. Kejayaan masa lampau itulah yang menjadi faktor kekuatan untuk membangkitkan desa dan negara. Masing-masing negara mempunyai kejayaan masa lalu seperti Kerajaan Khmer di Kamboja dan Kerajaan Persia di Iran. Hong berpesan agar jangan melupakan sejarah dan budaya. “Kalau dulu pernah jaya, tentu sekarang juga bisa maju,“ tandasnya.

Sebanyak 14 orang delegasi Indonesia merupakan perwakilan dari Desa Sumbermulyo, Desa Ponjong, Desa Tanjungwangi, Yayasan Penabulu, dan Pemerintah Provinsi DIY, serta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. (ES)