Geliat Usaha Wisata BUMDes Wonorekso Lewat Pasar Sarwono

Desa tidak lagi menjadi daerah yang ditinggalkan oleh warganya. Desa tidak lagi menjadi daerah yang dianggap tertinggal dan tidak menarik. Desa saat ini menjadi tujuan masyarakat untuk berwisata. Suasana alam yang sejuk dengan banyak pepohonan yang rindang, budaya lokal, dan kuliner yang khas menjadi daya tarik desa untuk dikunjungi oleh masyarakat.

Desa Wonosoco di Kabupaten Kudus memiliki semuanya, suasana alam dengan banyak pohon rindang dan sumber mata air alami serta kuliner tradisional seperti Botok Petet, Botok Yuyu, Lempok Dudoh, dan Wedang Coro tersedia di desa ini. Budaya lokal yang masih terjaga di desa ini adalah Wayang Klitik dan Kirab Budaya Resik Sendang.

Sejak tahun 2009 Wonosoco telah dikenal sebagai desa wisata. Sayangnya aspek yang ditawarkan untuk menjadi destinasi wisata baru pemandian sumber mata air alami dan bumi perkemahan. Kuliner tradisional, panorama alam, dan budaya belum menjadi komoditas wisata di desa ini. Kurangnya variasi destinasi membuat wisatawan yang berkunjung cenderung hanya satu kali datang. Wisata sumber mata air alami hanya ramai di saat musim libur panjang, sedangkan hari-hari biasa jarang sekali wisatawan yang berkunjung sehingga terkadang pendapatan yang masuk tidak mampu menutup biaya operasional.

Tidak ada peningkatan kunjungan wisatawan sejak 2009 hingga 2021, membuat pengurus BUMDes Wonorekso memutar otak untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung. Pada awal 2022, BUMDes mulai terjun dalam pengelolaan wisata. Bekal penyertaan modal dari desa sebesar Rp 15 juta dan 3 unit ATV milik desa.  BUMDes didampingi oleh Perkumpulan Desa Lestari mulai berinovasi untuk mengembangkan wisata di desanya. Pokdarwis yang telah mengelola wisata sejak lama digandeng oleh BUMDes untuk bersama-sama mengembangkan destinasi baru.

Modal uang yang telah diterima dialokasikan untuk membuat jalur ATV dan penambahan destinasi wisata hutan jati. Penambahan destinasi sedikit menambah pendapatan wisata. Namun sayangnya penambahan pendapatan masih belum sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan dari penyewaan ATV habis digunakan untuk servis dan biaya operasional ATV. Selain itu adanya penambahan destinasi dan ATV juga belum berdampak signifikan terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.

Tak tinggal diam, pengurus BUMDes kembali merancang penambah destinasi baru untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan pendapatan. Melalui proses analisis yang panjang, diperoleh kesimpulan bahwa kecenderungan wisatawan dari kabupaten Kudus dan sekitarnya adalah untuk menikmati kuliner. Melalui proses analisis tersebut BUMDes merancang wisata kuliner yang berbeda dengan yang ada disekitarnya. Rancangan tersebut menghasilkan inovasi baru di wisata Desa Wonosoco berupa pasar kuliner tradisional khas yang diberi nama Sarwono. Pasar kuliner tradisional ditempatkan di bawah hutan jati yang rindang dengan iringan musik tradisional dari Desa Wonosoco.

Pasar Sarwono dilaksanakan setiap hari Minggu Legi atau selapan sekali dalam hitungan Kalender Jawa dan empat puluh hari sekali dalam penanggalan nasional, dimulai dari jam 07.00-10.000. Guna menambah nuansa tradisional transaksi jual beli di Sarwono menggunakan koin kayu yang telah disediakan oleh BUMDes. Satu keping koin dihargai Rp2 ribu.

Kuliner yang dijajakan di Sarwono adalah kuliner tradisional, mulai dari kacang rebus, pecel dan krupuk sermier, sego karak dan peyek teri hingga wedang coro dan es lidah buaya. Seluruh makan diasajikan menggunakan daun Jati dan daun Pisang. Tujuannya untuk meningkatkan nuansa tradisional dan mengurangi sampah plastik di desa. Makanan dan minuman dijual dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari 2-5 keping koin.

Pengunjung meramaikan Pasar Sarwono (sumber: dokumentasi lembaga)

Untuk berkunjung ke Pasar Sarwono wisatawan hanya perlu membeli tiket masuk dan parkir sebesar Rp5 ribu. Pengunjung sudah mendapat fasilitas spot selfie, kolam pemandian mata air alami, dan jalan-jalan di bawah hutan jati yang rindang secara gratis.

Semenjak adanya Pasar Sarwono, jumlah wisatawan yang berkunjung ke desa Wonosoco meningkat pesat dengan rata-rata jumlah wisatawan yang berkunjung ke pasar Sarwono mencapai 800-900 orang. Saat ini wisatawan yang berkunjung bukan hanya dari sekitar desa, melainkan juga berasal dari kabupaten lain di sekitar Kudus.

BUMDes juga meningkatkan produktivitas warga melalui kerjasama dengan ibu rumah tangga untuk berjualan makanan dan minuman di Pasar Sarwono. BUMDes melibatkan warga desa lainnya untuk berperan dalam penyelenggaran Sarwono, mulai dari penjaga parkir, pengelola koin hingga keamanan. “Setiap kegiatan Pasar Sarwono kami melibatkan 10-15 orang sebagai pekerja lepas untuk membantu menjaga loket tiket, penataan parkir dan bantu menjaga wahana,” kata Aslori, Direktur BUMDes.

Adanya pasar Sarwono menjadi berkah tersendiri bagi warga Desa Wonosoco. Pasar Sarwono secara langsung menambah pendapatan mereka. Selain berdampak pada pendapatan warga, Pasar Sarwono juga menjadi wadah warga Desa Wonosoco untuk memperkenalkan produk lokal dan hasil pertanian warga.

Melihat antusias pengunjung yang semakin tinggi, pengurus BUMDes berupaya untuk terus menambah fasilitas wisata dan meningkatkan kenyamanan wisatawan. “Kedepannya kami akan menambah jadwal Pasar Sarwono menjadi lebih sering, satu bulan sekali kemungkinan,” kata Tri Budi Wahono Sekretaris BUMDes yang juga berperan sebagai koordinator Pasar Sarwono. (NS)