Skip to content

Program Lalu

Asistensi Teknis Aktivasi BUMDes
Pendampingan Teknis 28 BUMDes Kabupaten Kudus
Pendampingan Teknis 42 BUMDes Kabupaten Kudus

Program Berjalan

Enhancing climate and gender just community resilience in Indonesia through building models of climate-smart agriculture, civil society consolidation, and digital safety for women and girls
Development of Integrated Landscape Management (ILM) Plan in Aceh Province (Lot I)
Action Plan Development for Sustainable Coffee Commodities in Mandailing Natal (Lot III)

Action Plan Development for Sustainable Coffee Commodities in Mandailing Natal (Lot III)

Kopi menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia yang secara global produktivitasnya menduduki posisi keempat setelah Brazil, Colombia, dan Vietnam. Pada tahun 2020, International Coffee Organization pernah memprediksi terjadinya peningkatan produksi kopi Indonesia hingga mencapai 5,8%. Namun perkebunan kopi juga memiliki tantangan khusus dalam menghadapi perubahan iklim dan deforestasi. Dampak perubahan iklim menyerang pada kuantitas dan kualitas kopi, serta menyebabkan semakin minimnya wilayah iklim yang cocok di Indonesia untuk budidaya kopi.

Mandailing Natal di Provinsi Sumatera Utara dengan ketinggian 900–1.500 mdpl di kawasan Bukit Barisan dan berbatasan langsung dengan Sumatera Barat, memiliki curah hujan tinggi, suhu sejuk, serta tanah vulkanik yang subur. Keunggulan ini menjadikan Mandailing Natal sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Indonesia, dengan varietas kopi seperti Sigarar Utang, Kartika, Ateng, dan Godang. Kopi Mandailing atau Mandheling Coffee dikenal secara global karena cita rasanya yang khas: tingkat keasaman rendah hingga sedang, aroma fruity dan floral, serta aftertaste yang bersih dan tahan lama.

Dukungan ekosistem hutan, termasuk kawasan Taman Nasional Batang Gadis, turut menjaga keberlanjutan kualitas biji kopi Mandailing. Menurut data BPS Kabupaten Mandailing Natal (2024) menunjukkan fluktuasi produksi kopi dari 2.555 ton pada 2020, mencapai puncaknya 4.736 ton pada 2022, lalu menurun menjadi 2.894 ton pada 2023, dan kembali naik menjadi 3.525 ton pada 2024. Luas lahan panen juga meningkat dari 2.963 ha (2022) menjadi 4.579 ha (2024), yang menunjukkan potensi ekspansi areal budidaya. Kombinasi antara keunggulan ekologis dan tren peningkatan lahan tanam ini mempertegas posisi Mandailing Natal sebagai lumbung kopi berkualitas tinggi.

Kendati demikian, pengembangan komoditas kopi di Mandailing Natal menghadapi beberapa tantangan kompleks dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan tata kelola yang saling berkaitan. Praktik pertanian tradisional yang masih jauh dari pola agroforestri dan pertanian hijau berkontribusi menjadi penyebab deforestasi yang meluas, terutama di area yang mempunyai beragam keanekaragaman hayati—termasuk Mandailing Natal. Meningkatnya laju deforestasi mengakibatkan ekosistem terganggu, kerusakan habitat, hingga terancamnya spesies endemik. Selain itu, praktik ini berkontribusi terhadap rendahnya penyerapan karbon. Semakin banyak karbon yang lepas, semakin tinggi risiko akibat perubahan iklim seperti pola cuaca tak tentu, kekeringan, dan banjir.

Petani kecil sebagai mayoritas tenaga kerja pertanian—termasuk kopi—di Indonesia sering kekurangan sumber daya finansial dalam praktik berkelanjutan. Keterbatasan sumber daya finansial mempengaruhi pola pertanian organik dan agroforestri yang belum berjalan maksimal karena memerlukan banyak biaya, sementara para petani masih kesulitan mengakses bantuan keuangan dan teknis untuk mengadopsi praktik pertanian yang berkelanjutan. Sementara itu, integrasi rantai nilai dan akses pasar premium yang buruk membuat para petani menerima harga rendah dari penjualan hasil panen.

Kebijakan-kebijakan yang ada belum cukup mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Kebijakan-kebijakan tersebut tidak memberikan standar operasional prosedur penegakan hukum dan pemberian insentif untuk memastikan kepatuhan. Kolaborasi antara petani kopi, OMS, sektor swasta, dan pemerintah yang terbatas sering kali memecah upaya pengembangan rantai nilai yang berkelanjutan. Akibatnya intervensi tidak efektif dan terputus di tengah jalan.

Sebagai bagian dari upaya mendukung tujuan dan pendekatan program FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration), pengembangan dan implementasi Rencana Aksi Strategis untuk Komoditas Berkelanjutan khususnya kopi di Mandailing Natal menjadi langkah krusial dalam mengatasi tantangan tersebut. Rencana ini bertujuan untuk mendorong sistem produksi yang ramah lingkungan, memperkuat akses petani ke pasar dan dukungan teknis, serta memastikan integrasi konservasi keanekaragaman hayati dan restorasi ekosistem dalam lanskap produksi.