Kuala Sugihan, Penghasil Terasi yang Tak Tersebut

Sekretaris Desa Kuala Sugihan Sofyan memaparkan unit usaha yang akan dikembangkan melalui BUM Desa untuk memfasilitasi warga desa yang menjadi produsen terasi. (sumber: dokumentasi lembaga) 

Palembang (30/9) – Sebagian orang menganggap sambal kurang lezat bila tidak ada terasi. Sedikit terasi yang dicampurkan dalam ulekan cabai akan menambah nikmat sepiring nasi hangat dan lauk seperti tempe dan tahu.

Kuala Sugihan merupakan salah satu tempat penghasil terasi. Namun tak banyak yang tahu jika terasi yang beredar di Palembang dan Bangka berasal dari tempat itu. 

Desa Kuala Sugihan berada di ujung Sumatera Selatan bagian timur laut, berbatasan langsung dengan Pulau Bangka. Merupakan salah satu desa di Kabupaten Banyuasin, Kuala Sugihan berlimpah hasil laut. Tak heran bila nelayan adalah mata pencaharian utama penduduk yang sebagian besar adalah pendatang dari Bugis. Selain dijual, Hasil tangkapan dari laut diolah menjadi kerupuk dan terasi.

Sayangnya, kerupuk dan terasi yang dibuat oleh keluarga-keluarga nelayan itu tak pernah dikenal sebagai produk Kuala Sugihan. Kerupuk dan terasi dibeli oleh tengkulak kemudian diberi label oleh pembelinya.

Desa Kuala Sugihan menjadi satu dari 36 desa peserta Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi Desa-Desa Kawasan Restorasi Gambut Region Sumatera yang diselenggarakan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). BRG bekerjasama dengan Yayasan Penabulu dan Desa Lestari  memfasilitasi proses pelatihan yang diselenggarakan pada 25-30 September 2017 di Hotel Emilia Palembang.

“Sepertinya hanya terasi, tetapi itulah potensi Kuala Sugihan, yang mungkin bisa jadi usaha yang dikelola BUMDes,” ujar , Dinamisator BRG Wilayah Sumatera Selatan Dede Shineba.

Sekretaris Desa Kuala Sugihan Sofyan menyatakan selain membuat produk, masyarakat desanya juga memerlukan cara mengembangkan produk supaya memiliki nilai jual tinggi.

“Selama ini kami selalu dilatih membuat produk, padahal yang kami butuhkan cara untuk mengembangkan produk bernilai jual tinggi dan cara membuka pasar. (Kuala) Sugihan tetap akan mengusahakan terasi. Nah, di sini kami jadi lebih jelas kira-kira apa yang bisa dilakukan kalau kelak punya BUM Desa,” ujarnya.

Sofyan dan salah satu tokoh masyarakat Kuala Sugihan Usman mengaku terasi dari Kuala Sugihan sudah cukup dikenal oleh pembeli-pembeli besar karena harganya yang murah dan dibeli secara curah.

“Terasi ukuran 250 gram yang dibeli dari warga kami Rp 20-25 ribu, mereka beri kemasan dan dikasih merk, dijual di pasar jadi Rp 40 ribu. Kami pikir BUM Desa harus bisa membantu menyediakan kemasan yang baik, supaya harga jual (terasi) lebih tinggi dan pendapatan masyarakat meningkat,” ucap Sofyan.

Setiap desa memiliki keunikan dan potensi yang dapat dikembangkan menjadi usaha desa meski mereka saling bertetangga. Kuala Sugihan yang berdekatan dengan Desa Gilirang pun menemukan potensi yang berbeda untuk didalami dalam perencanaan usaha. Jika Kuala Sugihan menetapkan BUMDes-nya akan memfasilitasi warga yang menjadi produsen terasi, Gilirang yang kaya dengan kelapa memilih pengolahan kopra sebagai unit usaha BUMDes. Demikian halnya dengan desa-desa lain yang secara serius melihat lebih dalam potensi desa yang unik dan bernilai jual.

Selama pelatihan, perangkat desa, tokoh masyarakat, anggota BPD, maupun pengelola BUMDes dari Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan berbaur untuk berbagi cerita, pengalaman, dan saling belajar cara mengelola BUM Desa. Menggunakan metode appreciative inquiry, para fasilitator mengajak para peserta untuk melihat hal-hal positif yang ada di desanya sebagai potensi untuk dikembangkan dan dikelola melalui BUMDes untuk kemudian menjadi penggerak ekonomi desa. (NP)