Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Desa Pengkok, Kawan Baru “Desa Lestari”

Balai Desa Pengkok (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (7/5) – Pengkok merupakan desa yang berada di sisi selatan Kecamatan Patuk. Desa Pengkok terdiri dari enam dusun dengan total jumlah penduduk 3.029 jiwa. Desa wisata Pengkok memiliki wisata unggulan Jurug Gede, Watu Ireng, dan Jembatan Gantung Sungai Oya.

Wilayah ini memiliki pemandangan alam yang khas pedesaan. Sebagai salah satu Rintisan Desa Wisata yang ada di Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul akan terus tumbuh dan berkembang lebih baik. Jurug Gede menjadi salah satu icon wisata rafting di Gunungkidul dan menjadi salah satu tempat latihan Tim SAR. Pengelolaan obyek wisata berbasis masyarakat diyakini dapat mendorong peningkatan kesejahteraan Desa Pengkok, walaupun selama ini pengelolaannya masih dilakukan kelompok sadar wisata.

Sebenarnya Desa Pengkok memiliki banyak potensi yang dapat diberdayakan. Tanaman bambu tumbuh subur di Dusun Srumbung, kemudian diawetkan di Dusun Pengkok. Hasil pengawetan bambu khas Pengkok sudah banyak peminatnya dari luar Gunungkidul. Pemasaran bambu awetan hingga Kebumen dan Bandung. Sayangnya kelompok pengelola usaha bambu awetan belum mampu memproduksi menjadi barang siap pakai (furniture) yang memiliki nilai jual tinggi.

Anak-anak Desa Pengkok sepulang sekolah (sumber: dokumentasi lembaga)

Pada persiapan pelaksanaan regulasi desa yang baru, Pemerintah Desa Pengkok merasa belum mendapatkan informasi yang komprehensif tentang penerapan aturan baru dan belum tersosialisasikan pada lembaga-lembaga dan masyarakat. Di sisi lain, desa perlu menyadari jika pemetaan aset menjadi hal yang sangat penting mengingat seluruh regulasi tentang desa mengharapkan adanya partisipasi masyarakat. Ada banyak kebutuhan mendesak untuk penyelenggaraan tata pemerintahan desa seperti sosialisasi regulasi desa yang melibatkan perangkat desa, pengurus lembaga-lembaga desa, dan masyarakat.

“Yang paling dibutuhkan sistem pembukuan, karena sekarang laporan dituntut lebih detail,” ujar Yani, Sekretaris Desa Pengkok.

Rupanya bukan hanya sistem pembukuan dan keuangan yang menjadi hal penting untuk ditindaklanjuti oleh Desa Pengkok. Potensi kebudayaan yang masih terjaga, pariwisata, hasil alam khas desa merupakan beberapa pijakan yang dapat dikembangkan untuk kemajuan desa. Karena pada saat perencanaan pembangunan (Musrenbangdes), masyarakat telah bersepakat untuk mengutamakan pembangunan nonfisik (penguatan kapasitas, pelatihan, dan lain-lain).

“Jika kapasitas masyarakat kuat, maka pembangunan fisik akan mampu diupayakan secara mandiri,” tutur Slamet, Pjs. Kepala Desa Pengkok. (*)