Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Berbagi Air, Cara Petani Desa Pengkok Hidup Bersama

 

Pertemuan P3A Tirto Mulyo dalam rangka persiapan Lomba P3A Tingkat Provinsi. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (28/5) – Air sebagai sumber kehidupan bersama. Mayoritas masyarakat petani Desa Pengkok, Patuk, Gunungkidul yang menggantungkan hidup dari bertani cukup hati-hati mengelola ketersediaan air setempat.

Kali Punthuk. Begitu masyarakat Desa Pengkok menyebut kali dengan jalur berkelok-kelok membelah desa enam dusun. Kali inilah menjadi andalan menyuplai jalur irigasi pertanian seluas 115 hektar petani tergabung dalam Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Tirto Mulyo.

Ketua P3A Tirto Mulyo Desa Pengkok Djumono mengatakan jalur perairan ini cukup menantukan nasib 450 petani di delapan blok area tanam sawah. “Kami ingin mengelola air pertanian di sini lebih baik lagi. Tidak hanya dalam merawat jalur perairan tetapi sistem pengelolaannya,” katanya.

Djumono mengaku hujan yang sempat turun dalam beberapa hari di bulan Mei memang sangat menguntungkan petani untuk mencukupi kebutuhan air untuk lahannya. Sehingga diperkirakan tidak ada persoalan ketersediaan dan cadangan air. Berbeda halnya tahun-tahun sebelumnya, hujan menghilang di bulan Maret mengawali musim kemarau memunculkan kegundahan kelompok yang dibentuk tahun 2003 dalam pengelolaan dan pembagian air secara merata.

Desa harus memiliki tata kelola air yang baik agar air benar-benar bisa sampai di lahan yang paling ujung dari jalur perairan. Salah satu cara dilakukan P3A Desa Pengkok adalah pemberlakuan sistem giliran pada saat jelang masa tanam. Pintu saluran dialirkan secara maksimal untuk setiap blok dan bergiliran blok lainnya.

Penjabat Sementara (Pjs.) Kepala Desa Pengkok Slamet mengatakan potensi air untuk pertanian tidak lepas dari potensi sumber daya alam yang dimiliki Desa Pengkok dengan adanya kali atau sungai. Pada perkembangannya, kali berkelok-kelok membelah desa ini memerlukan perhatian masyarakat bersama untuk terus menjaga dan merawat dengan baik.

Melihat kondisi cuaca saat ini yang sulit diprediksi, banyak petani Pengkok yang meyakini masa tanam ketiga (MT3) masih akan aman untuk tanaman padi yang memang termasuk tanaman memerlukan surplus air. Walaupun memang kurang baik apabila dalam satu tahun ada tiga kali masa tanam hanya satu jenis tanaman padi tanpa ada selang jenis palawija.

P3A Desa Pengkok perlu terus meningkatkan peran dan kapasitasnya dalam turut serta mesukseskan produktivitas hasil panen petani. Tak heran, perkumpulan ini juga memiliki orientasi membantu mendorong demi lancarnya pemenuhan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Dari 450 anggota P3A, baru 60 persen yang menjadi anggota aktif dan menyokong kelompok ini bisa berjalan lebih maksimal.

Berkaitan dengan jalur distribusi air pertanian yang dikelola Tirto Mulyo ini terdapat dua arah jalur, yakni jalur ke utara sepanjang dua kilometer dan jalur ke selatan sepanjang 2,5 kilometer. Arah selatan, yakni blok I, II, III, IV dan blok V tahun 2014 lalu telah menyerap kebijakan rehabilitasi pemerintah. Sepanjang 1250 meter mendapatkan rehabilitasi atas ditemukannya kerusakan bagian lantai dan dinding. Sedangkan, rusaknya saluran jalur ke utara yakni blok VI, VII dan blok VIII sepanjang sekitar 800 meter telah diajukan pemerintah untuk mendapatkan program rehab berkelanjutan tahun 2015. Program rehabilitasi jalur air pertanian dinilai cukup penting. Terlebih, ada saluran pertigaan air yang salah satunya jalur buntu memerlukan penanganan bersama agar pemanfaatan air bisa lebih optimal.

P3A Desa Pengkok berharap implementasi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa nanti juga bisa memperhatikan kebutuhan masyarakat petani. UU memberikan implikasi naiknya anggaran desa hendaknya bisa memacu keberadaan organisasi masyarakat seperti P3A sendiri. Selama ini ada keinginan dari kelompok P3A memiliki sekretariat untuk pusat kegiatan ratusan anggotanya. Pengurus P3A telah melirik lokasi tak jauh dari bendungan di Dusun Panjatan bisa menjadi “base camp“.

Pihak Desa Pengkok mendukung langkah kelompok masyarakat yang berencana memanfaatkan sungai untuk menumbuhkan daya tarik pariwisata minat khusus. Wisata minat khusus “Juruk” tengah disiapkan tim pengelola sebagai embrio kelompok sadar wisata yang juga telah diprioritaskan untuk bisa menyerap dana desa untuk menambah beberapa peralatan khusus untuk melayani pengunjung.(*)