Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Durian Ngasemayu, Berharap Masa Depannya Semakin Ayu

 

Gerbang utama menuju Gogor Park, lokasi Festival Durian yang dihelat setiap tahun pada musim panen durian. (sumber: dokumentasi lembaga)

Ketika musim durian datang, pesta durian menjadi salah satu identitas desa yang berada di gerbang pintu masuk utama Kabupaten Gunungkidul dari Yogyakarta. Festival durian yang bertempat di kawasan perkebunan durian atau “Gogor Park” selalu sukses menyedot pengunjung dari berbagai luar daerah. Kontan, nama Gogor Park dan  Festival Durian di Desa Salam pun makin dikenal sekaligus menjadi potensi yang turut memperkuat destinasi pariwisata DIY.

Pendamping Lapangan Desa Lestari menyempatkan berkunjung ke Ngasemayu untuk melihat secara mendalam aktivitas tanam durian. Kualitas durian saat panen kelak menentukan keberlangsungan dan keberhasilan Festival Durian tahun mendatang. Kepala Dusun Ngasemayu Tri Harnowo mengatakan jika tanaman durian memang menjadi salah satu produk unggulan tanaman buah produktif dalam usaha pemanfaatan pekarangan rumah sekitar 250 KK di Padukuhan Ngasemayu.

Cerita tentang durian Ngasemayu yang memang sulit hidup di desa lain ini tidak hanya penanamannya yang dirintis 10 atau 20 tahun terakhir. Tri bercerita menanam buah durian sudah dilakukan sejak nenek moyang mereka untuk mengisi lahan kosong pekarangan di sekitar rumah tinggal.

“Saat itu memang belum segencar dan banyak diburu para penggemar durian,” ujar Tri. “Tapi lambat laun durian punya nilai ekonomi, banyak warga menangkap peluang ini dan akhirnya menyediakan lahan khusus untuk menanam tanaman durian,”

Rata-rata tiap kepala keluarga di Ngasemayu minimal memiliki lima pohon durian di pekarangan rumahnya. Maka tidak mengherankan jika musim durian datang dusun yang terletak di jalur utama jalan Gunungkidul dipadati pemburu durian, untuk sekedar menikmati buahnya hingga menikmati objek-objek wisata Gunungkidul.

Musim durian berarti terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Setiap pohon durian yang sudah besar dan produktif tidak hanya menghasilkan 20, 50, atau 70 buah, melainkan bisa mencapai diatas 100 buah dengan kisaran harga termurah Rp 20.000 per butir.

“Kalau tiap kepala keluarga punya 10 pohon yang semuanya produksi diatas 100 buah setiap musim ya tinggal mengalikan saja kan,” ujar Tri. Dia mengaku beruntung menanam durian dengan hasil jutaan rupiah setiap panen raya. Dari perhitungan sederhana saja sudah dapat terbayang penghasilan warga Dusun Ngasemayu saat musim durian tiba.

Tri mengandaikan produktivitas tanaman durian Ngasemayu “terurus” dengan lebih baik, durian bisa menjadi sumber pendapatan kedua warganya setelah mengandalkan hidup dari bertani dan wiraswasta lainnya. Tri menilai warganya perlu mendapatkan pelatihan budidaya dan pemeliharaan tanaman durian dengan baik, agar dipastikan hasilnya lebih memuaskan dari sekarang. Sebab, selama ini penanaman durian di Ngasemayu ini masih dilakukan secara otodidak.

Dukuh Ngasemayu dan Pendamping Lapangan Desa Lestari berdiskusi santai tentang masa depan durian sebagai ciri khas Desa Salam. Setidaknya untuk dapat melestarikan durian agar menjadi identitas Ngasemayu dibutuhkan peran aktif Kepala Dusun dan warga dusun untuk lebih menggagas gerakan bersama menanam tanaman durian sebagai bagian dari investasi ekonomi jangka panjang. Minimal 5 sampai 10 tanaman durian atau dua kali lipat dari jumlah tanaman produktif yang ada saat ini hendaknya mulai dipersiapkan untuk menjaga keberlanjutan pestaka durian yang sudah salah satu identitas melekat tidak hanya bagi Dusun Ngasemayu, tapi juga Desa Salam.

Angan-angan Dusun Ngasemayu sebagai pusat durian ini semakin mantap dengan adanya kolaborasi dengan beberapa tim perintis kampung wisata Gogor Park. Pengelola Gogor Park memiliki agenda tahunan Festival Durian yang rencananya akan terus dipertahankan setiap musim. Kegiatan tersebut sembari menjadi ajang promosi potensi wisata Gogor Park, pariwisata minat khusus jelajah alam. Ada beberapa titik potensi lokasi wisata di Ngasemayu yang dapat dikembangkan menjadi penyangga pariwisata DIY.

Tri mengakui jika masih perlu banyak langkah dalam mempromosikan Gogor Park sebagai destinasi wisata pendukung di Patuk ini. Salah satunya, sinkronisasi kebijakan pengelolaan Gogor Park yang didominasi anak-anak muda Ngasemayu dengan arah kebijakan pembangunan Desa Salam. Angin baik berhembus dari berlakunya UU Desa memberikan kewenangan penuh bagi tiap desa untuk menata, mengelola, hingga membangun desa sesuai potensi sumber daya alam dan kebutuhan manusianya.

Kawasan Gogor Park memerlukan perhatian beberapa pihak termasuk warga masyarakat sekitar dalam membuatan jalur kunjungan yang lebih memadai. “Tentu ini butuh keterlibatan desa dan pemerintah agar gagasan anak-anak muda dusun kami bisa lebih tercapai,” tambah Ngadijo, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Salam saat ditemui terpisah.

Menurut Ngadijo warga masyarakat Ngasemayu perlu terlibat aktif dalam penyelenggaraan pemerintah desa dengan wajah barunya. Berlakunya UU Desa diikuti peningkatan sumber keuangan desa sebenarnya cukup memungkinkan dapat diakses masyarakat untuk meningkatkan pariwisata desa seperti Gogor Park. Selain memperbaiki pengelolaan dan promosi Gogor Park, Pemerintah Desa Salam baru saja melegalkan keberadaan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk lebih memantapkan gerakan pembangunan pariwisata Desa Salam.

“Kami perlu mengupayakan peningkatan kapasitas dan tata kelola kelompok yang sudah diberi SK ini,” pungkasnya.

Nasib Gogor Park dimulai dari sekarang atau hanya menjadi angan-angan. Tentu menjadi pilihan dalam pembangunan Desa Salam ke depan. (ETG)