Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Membangun Indonesia dari Desa

 

Peserta Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa Partisipatif. (sumber: dokumentasi lembaga)

Yogyakarta (10/12) – Sebanyak 65 orang mengikuti Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa Partisipatif pada 4-6 Desember 2015. Kegiatan tersebut diadakan oleh Saemaul Globalization Foundation (SGF) dan Yayasan Penabulu.

Peserta pelatihan berasal dari unsur perangkat desa, pegiat kelompok tani, pengurus dan kader PKK, dan pendamping lapangan dari tiga desa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketiga desa tersebut antara lain Desa Sumbermulyo, Bantul; Desa Ponjong dan Bleberan, Gunungkidul.

Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa Partisipatif bertujuan mendorong masyarakat aktif dan partisipatif dalam perencanaan pembangunan. Menjelang akhir tahun anggaran, desa akan memulai alur perencanaan pembangunan yang dimulai dengan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), khususnya bagi desa-desa yang baru saja mengadakan pemilihan kepala desa.

Perwakilan masing-masing desa bersama Penabulu dan SGF menyusun perencanaan program dan kerja sama untuk periode tahun pertama, yang akan ditindaklanjuti dalam kegiatan-kegiatan di tingkat desa.

Staf Ahli Kementerian Desa dan PDTT Agus Asmana bersama tim dari Yayasan Penabulu Budi Susilo dan Sri Purwani memfasilitasi pelatihan dengan berbagai materi dan metode. Tim Penabulu menyampaikan materi mengenai alur penyusunan RPJMDes dan Peraturan Desa (Perdes), sedangkan Agus Asmana berfokus pada materi pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pelatihan berlangsung secara dinamis dengan diskusi dan tanya jawab antar peserta maupun peserta dengan fasilitator. Walau sesi pelatihan berlangsung panjang, tidak tampak kelelahan di wajah mereka selama tiga hari kegiatan.

“Pertemuan ini menjadi sangat penting, karena masyarakat bisa langsung berdiskusi secara terbuka, menyampaikan usul kepada pemegang kebijakan desa dan lembaga pendamping. Terlebih kegiatannya tidak berlangsung di desa, sehingga masyarakat merasa suaranya lebih diperhatikan oleh banyak pihak. Saya berharap ke depan masih ada kegiatan-kegiatan yang dikhususkan untuk kelompok-kelompok muda agar mau membangun desanya,” ujar Edi Padmo, petani muda dari Desa Bleberan.

Kader PKK Desa Sumbermulyo Titik Maryati memaparkan usulan perdes tentang peran desa mengatasi kenakalan remaja. (sumber: dokumentasi lembaga)

Masyarakat desa sangat berperan menciptakan kondisi kehidupan desa. Kini mulai banyak kegiatan dan pertemuan yang melibatkan masyarakat. Harapannya sudah sangat jelas yaitu pro-aktifnya masyarakat desa pada pembangunan, baik fisik maupun non fisik. Walau nyatanya masih ada banyak masyarakat yang merasa suaranya tidak berguna. Seperti yang diungkapkan Supiyem, anggota BPD Ponjong.

“Pertemuan sudah banyak. Setiap pertemuan masyarakat diminta ngomong usulnya gimana, nyatanya cuma diam saja tapi nggerundel di belakang,” ungkapnya.

Suara masyarakat walaupun sedikit dan sederhana namun kini menjadi penting memberi sumbangsih dalam pembangunan. Kesadaran dan keberanian bicara di tengah forum memang masih harus dibiasakan. Maka dalam pelatihan tersebut ketika sesi paparan hasil diskusi, peserta harus bergantian dan mengutamakan peserta yang memiliki kecenderungan pasif dalam pertemuan-pertemuan di desa. Karena Indonesia membutuhkan masyarakat yang aktif dan partisipatif membangun desa. (NP)