Skip to content

Liputan

Pemutakhiran Data Desa Masih Perlu Ditingkatkan
20 June 2022
[SIARAN PERS] Dana Abadi LSM: Menciptakan Lingkungan Pendukung untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi Lokal
01 June 2022
Perkumpulan Desa Lestari Membuka Rekrutmen Staf Baru
24 May 2022

Cerita Perubahan

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu
23 April 2022
Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas
10 April 2022
Desa Lestari dan Lokadata Dampingi 4 BUMDes di Kudus
21 February 2022

Pengelolaan Organisasi di Desa DIY dalam Peningkatan Ekonomi Desa

Perangkat desa dan pengelola kelompok usaha desa mengikuti Bimbingan Teknis dan Supervisi Pengembangan Usaha Ekonomi Desa yang diselenggarakan oleh Kemendes PDTT dan BPPM DIY. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (17/12) – Kementerian Desa PDTT bersama Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Supervisi Pengembangan Usaha Ekonomi Desa se-DIY pada 15-17 Desember 2015. Kegiatan ini melibatkan perangkat desa, pengelola BUMDes, dan pengurus lembaga-lembaga desa untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya desa memiliki kegiatan ekonomi produktif yang terorganisir.

Kegiatan ini bertujuan mendukung pengembangan usaha ekonomi desa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepala Subbidang Penguatan Potensi Masyarakat Bambang Riyadi Eka Putra mengatakan desa memiliki peluang besar untuk mengembangkan perekonomian.

“Peluang desa untuk mengembangkan perekonomian sangat besar. Bahkan untuk mendirikan badan usaha milik desa (BUMDes) pun bisa memanfaatkan dana desa. Sayangnya, selama ini masyarakat jalan sendiri-sendiri, sehingga kemanfaatannya tidak dirasakan oleh seluruh warga desa,” ujarnya.

Kegiatan difasilitasi oleh fasilitator dari Kemendes PDTT, Penabulu, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Gunungkidul, dan Pendiri BUMDes “Sejahtera” Bleberan.

Koordinator Media dan Pengelolaan Pengetahuan Desa Lestari Nurul Purnamasari menyampaikan paparan tentang peran organisasi desa dalam penguatan ekonomi desa. “Masing-masing desa punya potensi, sayangnya kemauan untuk mengembangkan potensi tersebut masih rendah. Kelompok-kelompok usaha belum mengidentifikasi rantai distribusi, sehingga ketika produknya tidak laku kegiatan produksinya berhenti dan kelompoknya bubar,” kata Nurul.

Pernyataan Nurul ini dikuatkan oleh para peserta bahwa sebenarnya ada banyak pelatihan keterampilan dan pendampingan yang diterima kelompok-kelompok masyarakat dan lembaga desa. Namun seusai program tidak ada tindak lanjutnya karena  promosi dan pemasarannya tidak jelas. Maka kelompok-kelompok yang ada di desa sudah harus mulai memperjelas pembagian peran dan tugas agar keberlangsungan organisasi berjangka panjang.

Pengelola BUMDes Sumbermulyo Mandiri dari Desal Sumbermulyo, Bantul Heny Nursanti memberikan pandangannya terhadap kegiatan Bimtek dan Supervisi yang diselenggarakan BPPM.

“Kegiatan seperti ini sangat sering diadakan sepanjang tahun, tapi hampir tidak memberi solusi karena seusai kegiatan tidak ada rencana tindak lanjut yang bisa jadi ukuran keberhasilan peserta mengikuti bimtek atau pelatihan. Selain itu, harusnya alokasi waktu pemaparan materi tentang penguatan organisasi tidak cukup satu sesi. Karena peserta membutuhkan diskusi dan pengalaman-pengalaman dari tiap desa,” ungkapnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Suwarti dari Desa Giritirto, Purwosari dan Lekta Manuri dari Desa Sumberharjo, Prambanan yang ditemui di sela-sela waktu istirahat. Pendeknya waktu paparan materi tiap narasumber seringkali kurang memberi kesempatan peserta berdiskusi di tiap-tiap sesi. (NP)