Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Desa Antusias Sambut Program Penguatan Kapasitas SDM

 

Relawan Senior SGF Indonesia Office untuk wilayah Gunungkidul, Choi Hu Jun, mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Bleberan dan Ponjong.
Relawan Senior SGF Indonesia Office untuk wilayah Gunungkidul Choi Hu Jun (tengah). (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (23/2) – Salah satu bidikan program Korea Selatan melalui Saemaul Globalization Foundation (SGF) Indonesia Office dan Yayasan Penabulu di Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul tidak lain adalah demokratisasi desa dan penguatan masyarakat sipil. Program tahun pertama telah dilaksanakan dengan berbagai fasilitas penyelenggaraan kepelatihan guna meningkatkan kapasitas masyarakat sipil dan semakin optimalisasi peran lembaga desa, seperti Karang Taruna, PKK, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di desa-desa mitra program SGF dan Penabulu.

SGF sebagai lembaga dari Korea Selatan melihat ketiga lembaga desa tersebut menjadi organisasi masyarakat sipil paling strategis untuk mendorong masyarakat sipil desa lebih aktif dalam partisipasi penyelenggaraan pemerintahan. “Penguatan masyarakat sipil pada tahun pertama program pembangunan kapasitas dan sumber daya manusia. Program menyasar bentuk fasilitasi kepelatihan,” kata Manajer Program Desa Lestari Yayasan Penabulu Sri Purwani usai mengisi pelatihan untuk pegiat PKK dan kelompok perempuan Desa Ponjong pada Selasa (23/2).

Aktivis pemberdayaan desa yang akrab disapa Ani ini menyatakan tiga desa sasaran program SGF di Indonesia yakni Desa Ponjong Kecamatan Ponjong, Desa Bleberan Kecamatan Playen Gunungkidul, dan Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, cukup antusias menyambut kegiatan pelatihan yang rata-rata telah memasuki kegiatan ketiga di tahan empat bulan pertama.

Ada perubahan perilaku masyarakat desa yang cukup menarik pada setiap kegiatan kepelatihan yang dilaksakan tim Penabulu dan SGF, baik bersama maupun di masing-masing desa. Pelaksanaan kegiatan pelatihan terlihat lebih fokus dan peserta tidak ada yang meninggalkan kegiatan sebelum berakhir. “Budaya disiplin ini yang memang diharapkan lembaga Korea dapat diterapkan masyarakat desa di Indonesia. Selain disiplin, jujur dan kerja keras sejalan semangat Saemaul Undong yang diberikan,” ujarnya.

Ani menambahkan program tahun pertama SGF dan Penabulu memang secara khusus membangun karakter masyarakat desa. Masyarakat sipil desa disiapkan sebagai pribadi yang selalu siap berpartisipasi aktif dalam perencanaan kebijakan desa, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban. Menurutnya, masyarakat sipil desa juga didorong melek akan peran dan fungsi wadah organisasi yang diikuti sebagai kelembagaan yang turut menentukan perubahan desa kedepan lebih baik. Penabulu secara khusus mendorong lembaga desa tidak sekadar hidup menjadi pelengkap atau formalitas pemerintah desa, tetapi secara aktif menjadi mitra pembangunan pemerintah desa.

Antusias masyarakat mitra program SGF terlihat juga dari kemampuan pemerintah desa menyikapi padatnya kegiatan. Desa yang tengah menyelenggarakan agenda pemerintahan dari pelaksanaan UU nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, juga sedang melaksanakan program kemitraan yang hampir setiap bulan dilakukan SGF dan Penabulu atas kerjasama dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat baik di DIY dan tingkat kabupaten. Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, menyikapi padatnya kegiatan dengan membetuk kelompok kerja atau tim kerja melibatkan tokoh masyarakat. Tim atau kelompok kerja terdiri dari perwakilan dari lembaga desa, tokoh masyarakat dan perangkat desa sebagai implementator program SGF dan Penabulu.

“Kami juga memiliki harapan kepala desa bisa terbentuk kelompok kerja ini agar pemerintah desa tidak terbeban menjalankan dua sumber kegiatan pembangunan ini,” kata Taufik Ari Wibowo selaku kepala urusan perencanaan Desa Bleberan ditemui terpisah.

Senada dengan Taufik, aktivis desa dan pegiat Taruna Tani Ubet Manunggal Edi Supatmo menilai keberadaan tim atau kepanitiaan secara khusus perlu segera dibentuk oleh Kades Supraptono untuk meringankan beban dan tugas desa. “Salah satu tujuan tim ini juga sebagai optimalisasi program SGF di desa kami. Kami berharap kades merespon masukan ini,” ujar Edi.

Perubahan yang sama juga terlihat di Desa Ponjong yang tengah menyelenggarakan kegiatan untuk tiga hari kedepan bersama Penabulu dan SGF. “Kami mendorong masyarakat sipil bisa melek perencanaan desa, akses program dan anggaran, serta terbangun kesadaran untuk terlibat mewarnai dinamika pemerintah desa,” pungkas EkoSujatmo, Staf Pemberdayaan Desa Lestari di Ponjong.

Relawan Senior SGF Indonesia Office untuk wilayah Gunungkidul Choi Hu Jun mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Bleberan dan Ponjong. Menurutnya, masyarakat desa harus terus berbenah melalui implementasi dari materi-materi kepelatihan yang sudah diberikan. Hal itu, imbuh Choi, agar secara cepat masyarakat sipil turut berperan aktif dalam menentukan kesejahteraan bersama. (ETG)