Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Terisolir Informasi, Empat Desa di Sulawesi Tenggara Hendak Dirikan Radio Komunitas

FGD dalam rangka pengkajian kebutuhan masyarakat Desa Labuan Bajo, Desa Lasiwa, dan Desa Matalagi untuk pendirian radio komunitas

 

FGD dalam rangka pengkajian kebutuhan masyarakat Desa Labuan Bajo, Desa Lasiwa, dan Desa Matalagi untuk pendirian radio komunitas
FGD dalam rangka pengkajian kebutuhan masyarakat Desa Labuan Bajo, Desa Lasiwa, dan Desa Matalagi untuk pendirian radio komunitas (sumber: dokumentasi lembaga)

Sulawesi Tenggara (10/5) – Salah satu kebutuhan hidup manusia masa kini adalah pemenuhan kebutuhan informasi. Namun tidak demikian bagi daerah-daerah yang jauh dari jangkauan sumber distribusi informasi. Di Sulawesi Tenggara tidak semua wilayah terpapar media massa. Kondisi geografis yang terpencil, rusaknya akses jalan, aliran listrik yang tidak merata, semakin melengkapi terisolirnya masyarakat Desa Andinete dan Desa Lambangi di Kabupaten Konawe Selatan, serta Desa Labuan Bajo dan Desa Bente di Kabupaten Buton Utara.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat keempat desa itu bersepakat untuk menginisiasi pendirian radio komunitas (Rakom). Karena secara tidak disadari rakom sebagai salah satu bentuk dari media massa komunitas akan berperan besar dalam mengikat kohesivitas sosial komunitas setempat dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas sosial dan memungkinkan terwujudnya perubahan sosial. Kelak rakom yang mereka dirikan akan mendukung tata kelola desa yang transparan, akuntabel, dan partisipatif. Rencana pendirian rakom tersebut mendapat sambutan baik dari pemerintah desa di keempat desa.

“Rakom bisa jadi kegiatan positif bagi anak-anak muda supaya mereka tahu tentang apa yang terjadi di desa,” ujar Alimudin, Kepala Desa Bente. Hal senada juga disampaikan oleh M. Tahring, Kepala Desa Lambangi.

Untuk mewujudkan berdirinya rakom di Andinete, Lambangi, Labuan Bajo, dan Bente, Yayasan Idrap bekerjasama dengan Yayasan Penabulu. Sebagai tahap awal, tim fasilitator media Penabulu melakukan pengkajian kebutuhan dan analisis spesifikasi teknis.

“Rakom akan menjadi milik masyarakat, seluruh aktivitas dan pengelolaannya dilakukan secara sukarela oleh masyarakat. Walau demikian, masyarakat desa perlu mendiskusikan siapa saja yang akan diberikan kepercayaan untuk mengelola operasional harian,” jelas Nurul dalam FGD di Desa Bente.

Pendirian rakom di empat desa yang tersebar di Konawe Selatan dan Buton Utara merupakan bagian dari program tata kelola desa yang dilaksanakan Yayasan Idrap. “Harapannya rakom bisa meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa,” tutur Bahaludin, Direktur Idrap. Khusus untuk rakom yang akan berdiri di Desa Labuan Bajo akan berkolaborasi dengan perwakilan masyarakat dari Desa Lasiwa dan Desa Matalagi yang berdekatan lokasinya.

Pendirian radio komunitas yang rencananya akan berbasis isu tata kelola desa, namun sebagai media komunitas masyarakat berhak menentukan konten-konten lokal sesuai dengan karakter masyarakat. Terlebih rakom akan melayani kebutuhan seluruh elemen masyarakat desa. (NP)