Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Keterlibatan SGF Korea Selatan dalam Penuntasan Permasalahan Air di Desa Bleberan Playen Gunungkidul

sumber: dokumentasi lembaga

Gunungkidul (26/5) – Saemaul Globalization Foundation (SGF) bersama Yayasan Penabulu melakukan program pemberdayaan masyarakat desa di Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul.

Program tersebut menargetkan masyarakat supaya dapat menuntaskan persoalan air untuk kebutuhan di sektor pertanian. Warga Desa Bleberan pun berharap kehadiran SGF dan Yayasan Penabulu bisa benar-benat membawa manfaat bagi masyarakat setempat.

“Menuntaskan persoalan air untuk menenuhi kebutuhan pertanian menjadi harapan kami dengan hadirnya Korea di Bleberan ini,” kata perwakilan Taruna Tani Ubet Manunggal Bleberan Edi Supatmo dalam rapat dan koordinasi terbatas evaluasi program SGF Desa Bleberan di Wonosari pada Selasa (17/5).

Alasan tersebut cukup kuat di hadapan beberapa pihak terkait seperti volunteer SGF, Yayasan Penabulu selaku mitra pelaksaan program SGF Bleberan, Pemerintah Desa Bleberan, perwakilan Kelompok Wanita Tani (KWT), perwakilan Kelompok Tani (Poktan) dan PKK.

Menurut Edi, kedatangan SGF bukan tidak memiliki fokus target yang hendak dicapai melalui program pemberdayaan desa hingga 2020 mendatang. Selain menyasar pada pemberdayaan perempuan, sektor pertanian menjadi prioritas program Saemaul Undong, masyarakat sangat membutuhkan keterlibatan SGF untuk mengatasi permasalahan air yang menjadi kunci utama di beberapa pedukuhan di Bleberan.

“Saya benar-benar menaruh harapan pada Korea Selatan agar programnya nyata bisa dirasakan masyarakat petani, yakni air untuk pertanian. Bagi kami omong kosong bicara pertanian di Gunungkidul tanpa pemenuhan kebutuhan air,” ujarnya memastikan ada banyak lokasi menyimpan sumber air yang potensial untuk penerapan teknologi pengangkatan air bawah tanah.

Senada dengan Edi, Camat Playen Suharto juga memandang perlu ada fokus program agar lebih berjalan efektif. Suharto yang kini juga menjabat Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejahtera Bleberan banyak memberikan masukan program SGF khususnya sektor pertanian dan kebutuhan air. Suharto mengatakan BUMDes Bleberan di salah satu unitnya mengelola Pengelolaan Air Bersih (PAB) telah berjalan sehat manajemen. Kini pihaknya membutuhkan peran berbagai pihak termasuk SGF untuk membantu cita-cita mewujudkan alih teknologi pengangkatan air yang selama ini mengandalkan alat genset dengan bahan bakar solar ke energi listrik yang dipastikan akan menekan biaya operasional.

“Kami sudah kaji rencana itu dan mendapat kendala setelah konsultasi dengan pihak PLN. Karena alih teknologi ini konon membutuhkan biaya Rp600 juta. Nah, syukur ada teknologi dari Korea dapat diterapkan di Bleberan ini agar program lebih punya manfaat jangka panjang,” kata Suharto.

Menanggapi keluhan tersebut, Pelaksana Program SGF Bleberan dari Yayasan Penabulu Sri Purwani menyatakan ada beberapa fokus perhatian Korea Selatan untuk Bleberan, khususnya sektor pertanian dan perempuan. Hanya saja, implementasi program pada tahun pertama berjalan belum menyentuh pada program bersifat fisik, tetapi pembangunan manusia.

Menurutnya, program pembangunan manusia amat penting untuk mendasari berbagai program lain seperti fisik. Terlebih banyak desa di Gunungkidul yang mendapatkan bantuan fisik tetapi dalam pengelolaan menyebabkan gagal dan tidak tercapainya manfaat bagi desa dan mayarakat setempat. Maka Sri Purwani berharap implementasi program SGF Korea di Bleberan harus didasari kesiapan kemampuan masyarakat dan regulasi tata kelola desa yang baik.

Ia berjanji persoalan air untuk pemenuhan pertanian Bleberan akan terwujud dalam empat tahun kedepan sejalan tahap demi tahap program berjalan menyasar semua lini desa. “Pembangunan pertanian didalamnya ada sarana produksi (saprodi) dan industri kreatif untuk mengoptimalkan potensi 11 dusun serta penguatan peran perempuan menjadi target program disasarkan pada tercapainya kesejahteraan masyarakat Desa Bleberan ini,” kata Sri.

Kedepan, lanjut Sri, dibutuhkan tim desa yang terdiri dari tokoh masyarakat dan kader penggerak desa untuk turut merancang, mengawal dan menempatkan program SGF di Bleberan agar mengena dan tepat sasaran untuk kemajuan desa. Pemberdayaan pertanian dan perempuan di Desa Bleberan akan serius yakni menyentuh peningkatan keterampilan kader perempuan dalam pengolahan hasil produksi pertanian melalui kegiatan pelatihan rencananya akan dilaksakan 24-25 Mei 2016 mendatang.

“Banyak yang masih perlu dioptimalkan dalam mengolah hasil pertanian lokal seperti bahan pangan pisang, dan ragam lainnya untuk ditangkap pelaku UMKM kalangan perempuan desa,” pungkasnya.

Tidak Gegabah

Kepala Desa Bleberan Supraptono menambahkan perihal kebutuhan air pertanian di desanya perlu mendapat solusi. Hanya saja, perlu kajian matang untuk mewujudkannya. Supraptono menilai tidak sedikit program pemerintah dalam pembangunan sumur ladang justru berujung mangkrak. Tak hanya itu, teknologi juga membutuhkan biaya operasional besar justru membebani desa dan hasilnya tidak seimbang antara biaya besar dengan pendapatan. Jika dipaksakan justru membuat Kolaps.

“Tapi memang harus ada solusi persoalan air untuk pertanian karena tuntutan target kenaikan produktivitas tiap tahun di tengah desa memiliki sumber keuangan yang jelas dari pelaksanaan UU Desa,” kata mantan Dukuh Peron menutup pembicaraan. (ETG)