Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

KWT Ponjong Budidayakan Sayuran Secara Verticulture

kurangi-pengeluaran-rumah-tangga-kwt-ponjong-manfaatkan-pekarangan-untuk-budidaya-sayuran-secara-verticulture1
Kelompok Wanita Tani Ponjong mengikuti pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan dengan budidaya veltikultura (sumber: dokumentasi lembaga)

Ponjong (8/8) – Yayasan Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation bersama Pemerintah Desa Ponjong mengadakan Pelatihan Pemanfaatan Lahan Pekarangan dengan Budidaya Verticulture bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Ponjong. Pelatihan yang diikuti oleh 22 orang pengurus KWT dan 23 pengurus Kelompok Tani (Poktan) dilaksanakan di pekarangan Ketua Gapoktan Desa Ponjong Suhardi pada Senin (8/8).

Pelatihan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi mental masyarakat yang cenderung konsumtif semakin menghilangkan kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan lahan pekarangan. Banyak lahan pekarangan yang seharusnya menjadi pemasok utama kebutuhan pangan rumah tangga seakan justru kurang dimanfaatkan dengan baik.

Tak terkecuali para perempuan petani Desa Ponjong yang tergabung dalam KWT yang tersebar di sebelas dusun. Meskipun sudah tergabung dalam kelompok tetapi mereka belum membuat kegiatan yang produktif. Arisan masih menjadi primadona rutinitas para perempuan desa. Justru kegiatan berkumpul mereka dimanfaatkan para pedagang dari luar desa untuk menjajakan dagangan kebutuhan konsumsi rumahtangga seperti sayuran dan sembako.

Saparti, salah satu pegiat KWT, mengatakan KWT merupakan elemen masyarakat desa yang sangat strategis dalam memberdayakan perempuan-perempuan desa. Salah satunya dengan menanam tanaman pangan kebutuhan sehari-hari di sekitar pekarangan rumah. Saparti yang juga menjabat sebagai Dukuh Serut ini mencontohkan kegiatanya yang sudah menanam kurang lebih 400 aneka tanaman dalam polybag. Ia juga menuturkan, media tanam yang digunakan berupa barang-barang bekas seperti plastik bekas bungkus minyak, karung beras dan lain-lain.

”Saya dan anggota KWT sudah mulai menanam cabe, terong dan jahe menggunakan plastik bungkus minyak goreng.” katanya dengan penuh semangat.

Narasumber pelatihan Budi Kuncoro menjelaskan tujuan utama menanam sayuran di pekarangan adalah untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga. Apabila ada kelebihan hasil bisa dijual. Disamping itu, kebutuhan pangan yang sehat juga sangat penting, karena dengan menanam sendiri masyarakat bisa menjaga agar tanaman yang dihasilkan sebisa mungkin menghindari penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia.

”Kalau kita beli sayur di pasar kita tidak tahu apakah sayur tersebut bebas pestisida kimia, apalagi barang itu dari luar daerah belum tentu itu sayur sehat,” ujar Budi.

Eko Sujatmo, staf pemberdayaan masyarakat dari Yayasan Penabulu, juga mengajak peserta untuk membuat demplot tanaman sayuran dengan budidaya verticulture di masing-masing KWT. Eko berharap para peserta yang diwakilkan dapat menularkan pengetahuan dan semangatnya kepada para anggota di dusun masing-masing.

”Saya bersama Mas Heru PPL akan menemani ibu-ibu semua dalam kegiatan kelompok, akan tetapi kami juga berharap ibu-ibu juga semangat dalam kegiatan selanjutnya,” tutupnya diakhir kegiatan pelatihan. (ES)