Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Sistem Tanam Jajar Legowo Diharapkan Tingkatkan Hasil Padi di Ponjong

Petani di Desa Ponjong sedang menanam padi dengan sistem tanam jajar legowo di lahan sawah milik salah satu peserta (sumber: dokumentasi lembaga)

Ponjong (10/8) – Hamparan sawah yang luas didukung sumber daya air yang melimpah menjadikan masyarakat Desa Ponjong mempertahankan budaya pertaniannya yang sudah turun temurun hingga kini. Meskipun demikian, permasalahan banyak menghadang di depan mata. Beberapa diantaranya adalah, alih fungsi lahan, penurunan hasil produksi pertanian, kurangnya inovasi dan pengetahuan petani menjadi permasalahan yang hingga saat ini belum ada solusinya. Cara bertani yang monoton, kurangnya akses informasi teknologi budidaya jelas akan memicu penurunan mutu dan kuantitas produksinya.

Untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam upaya meningkatkan hasil budidaya padi sawah, Yayasan Penabulu bekerjasama dengan Saemaul Globalization Fondation dan Pemerintah Desa Ponjong menggelar pelatihan Pembuatan Demplot Padi Sawah yang diikuti sedikitnya 40 orang petani. Pelatihan dipusatkandi kediaman Ketua Gapoktan Desa Ponjong Suhardi berlangsung selama dua hari pada 8-9 Agustus 2016.

Pelatihan yang menghadirkan narasumber Heru Prasetya, Penyuluh Pertanian Desa Ponjong ini mengedepankan pada sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah sistem tanam jajar legowo (TAJARWO) dikombinasikan dengan tanaman sayuran kacang panjang di pematang/galengan sawah. Heru menjelaskan pendekatan sistem tanam jajar legowo dapat menambah populasi tanaman di pinggiran sehingga hasil padinya akan meningkat.

“Sistem tanam dengan metode jajar legowo ini adalah pendekatan teknologi, kalau jarak tanam ditentukan menurut tingkat kesuburan tanah dan varietas padi yang ditanam, jadi tidak baku,” katanya.

Heru mengajak para peserta praktik langsung menanam padi dengan sistem tanam jajar legowo ini di lahan sawah milik Sugiyo, salah satu peserta yang juga petani dari Dusun Karang Ijo Wetan. Lahan sawah tanah bengkok seluas 1000m2 miliknya sengaja disiapkan untuk media belajar bersama. Ada dua varietas yang ditanam, yakni hibrid dan nonhibrid, diharapkan akan ada perbandingan hasil diantara kedua varietas tersebut.

Suhardi mengatakan penggunaan pupuk organik, PGPR dan pestisida nabati sebagai tindak lanjut dari pelatihan sebelumnya akan dioptimalkan pada pembuatan demplot. ”Saya sudah membuat PGPR dan pestisida nabatinya dan siap diaplikasikan dalam demplot tersebut,” katanya. Penggunaan pupuk organik padat sebagai pupuk dasar akan mengurangi pupuk kimianya, dengan begitu petani akan beralih ke pertanian organik. (ES)