Inisiatif Lokal dalam Proses Perencanaan Program Pembangunan Desa di Provinsi DIY

Yogyakarta (18/9) – Yayasan Penabulu dan Saemaul Globalization melakukan evaluasi pelaksanaan program dan perencanaan partisipatif program desa percontohan Saemaul di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 16-17 September 2016 di Grand Tjokro Hotel Yogyakarta. Ada tiga desa yang menjadi mitra, antara lain Desa Bleberan dan Ponjong di Gunungkidul dan Desa Sumbermulya di Bantul.

Kegiatan evaluasi ini melibatkan beberapa stakeholder strategis, yaitu BPPM DIY, Bappeda Kabupaten Gunungkidul, BPMPKB Kabupaten Gunungkidul, PMD Kabupaten Bantul, serta dua perguruan tinggi sebagai bagian dari proses pencermatan dari sisi akademik, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia.

Fasilitator dari Yayasan Penabulu Budi Susilo dan Sri Purwani secara bergiliran memandu jalannya kegiatan evaluasi. Pada awal sesi, BPPM DIY sebagai pendukung utama program kerja sama Indonesia-Korea Selatan ini menyampaikan materi tentang Arah Kebijakan Desa. Selanjutnya, Pusat Studi Trisakti-Saemaul UGM memberikan penjelasan Fokus Program Trisakti-Saemaul 2017.

Refleksi capaian hasil pelaksanaan program tersebut dikemas dengan model diskusi kelompok berdasarkan meja dan sektor: pertanian, kelompok perempuan dan Pemdes, lalu diakhiri dengan presentasi dan catatan penajaman dari fasilitator.

 

20160917_100749
Presentasi Perencanaan Tahun Kedua dari Kepala Desa Bleberan. (sumber: dokumentasi lembaga)

Selama dua hari, perwakilan dari tiga desa percontohan Saemaul di DIY menyusun skala prioritas program pembangunan desa untuk tahun 2017. Program pembangunan desa yang menjadi prioritas berkaitan dengan isu pertanian dan pemberdayaan perempuan.

Kepala desa dari masing-masing desa mempertajam proses perencanaan dan inisiatif lokal. Kemudian, perwakilan desa memaparkan rencananya, antara lain: Pengembangan Agribisnis: Integrasi Ternak Sapi Potong Terpadu dan Budidaya Tanaman Padi, Pertanian Terpadu dan Pengembangan Agro-industri, dan Penggemukan Sapi Terpadu.

Proses ini dilakukan dengan cukup jelas dan singkat sehingga menimbulkan semangat dan antusias oleh para peserta. “Proses ini sangat partisipatif. Saya sangat terkesan karena kita disuruh melihat sendiri capaian hasil pekerjaan kita, mencari cara peningkatan, mengoreksi kendalanya dan yang paling penting diminta untuk membuat solusinya sendiri,” kata Sumarno, perwakilan Desa Bleberan.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Dewi dari BPMPKB Gunungkidul, “Proses selama dua hari ini dilakukan dengan menggunakan model partisipatif, bottom-up dengan kemasan yang tidak monoton dan membuat peserta fokus dan tidak mengantuk,” ucapnya.

Keberlanjutan membangun dan mengembangkan inisiatif lokal dalam perencanaan program desa ini akan dipertajam oleh Yayasan Penabulu maupun SGF bersama lembaga-lembaga yang kompeten, melalui proses pendampingan secara rutin maupun melalui jejaring di tiga desa mitra. (SP)