Skip to content

Liputan

Pemutakhiran Data Desa Masih Perlu Ditingkatkan
20 June 2022
[SIARAN PERS] Dana Abadi LSM: Menciptakan Lingkungan Pendukung untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi Lokal
01 June 2022
Perkumpulan Desa Lestari Membuka Rekrutmen Staf Baru
24 May 2022

Cerita Perubahan

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu
23 April 2022
Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas
10 April 2022
Desa Lestari dan Lokadata Dampingi 4 BUMDes di Kudus
21 February 2022

Perubahan Iklim Ganggu Ketahanan Pangan Gunungkidul

Sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul sudah memasuki musim hujan sejak pertengahan bulan September yang lalu. Sebelumnya Gunungkidul mulai memasuki bulan kemarau pada Juni-Agustus namun ternyata masih sering mengalami hujan dengan intensitas sedang. Anomali cuaca ini seperti mengulangi fenomena iklim pada 2010 silam.

Tak seperti biasanya saat hujan pertama tiba, para petani berbondong-bondong pergi ke lahan tegalnya untuk menanam berbagai macam tanaman pangan. Para petani lahan kering yang biasanya dapat memanen singkong lalu diolah menjadi gaplek, tahun ini sebagian besar petani belum dapat memanennya lantaran hujan yang terus mengguyur. Jika nekat memanen, petani akan mengalami kerugian karena kualitas gaplek menjadi buruk sehingga harga jual rendah.

Berdasarkan pantauan tim Desa Lestari di Pasar Karang Ijo Kulon, Desa Ponjong, harga gaplek berkisar Rp1.000 – Rp1.300. Padahal tahun lalu mencapai harga Rp2.300 di tingkatan pedagang pasar atau tengkulak. Kondisi ini jelas merugikan petani lahan kering yang biasa menanam tumpangsari meliputi jagung, singkong, padi gogo dan palawija.

“Terpaksa kami panen dan jual sekarang meskipun harga rendah,” tutur Sarijo, seorang petani yang sedang menjual gapleknya di pasar.

Pada diskusi pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Ponjong di Balai Desa Ponjong akhir pekan lalu, Petugas Penyuluh Lapangan Pertanian (PPLP) Heru Prasetya menjelaskan cuaca tidak menentu yang terjadi dapat mengancam ketahanan pangan. Heru juga mengingatkan petani agar mewaspadainya dengan melestarikan tanaman pangan lokal non padi seperti uwi, gembili, talas dan pangan lokal lainnya. Tanaman pangan lokal selain padi ini terbukti mampu menyediakan keanekaragaman pangan yang sehat bagi keluarga dan masyarakat desa.

Cuaca yang tidak menentu juga dapat mengancam turunnya produktifitas padi karena berpotensi munculnya berbagai macam hama dan penyakit padi. ”Kami menghimbau agar para petani mengurangi penggunaan pupuk kimia terutama urea dan mengoptimalkan penggunaan pupuk organik,” jelas Heru.

Heru menambahkan akibat perubahan iklim perlu adanya tindakan untuk mengurangi dampak tersebut diantaranya dengan adaptasi dan mitigasi. Adaptasi merupakan upaya penyesuaian penerapan teknologi, proses produksi melalui pengembangan kelembagaan sumber daya manusia (SDM) dan pengelolaan lingkungan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, penggunaan varietas yang toleran terhadap cengkeraman biotik dan antibiotik, pengelolaan air dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan agensia hayati.

”Tindakan mitigasi merupakan upaya penambahan dan perbaikan penerapan teknologi seperti sistem budidaya yang ramah terhadap lingkungan,” pungkasnya. (ES)