Skip to content

Liputan

Pemutakhiran Data Desa Masih Perlu Ditingkatkan
20 June 2022
[SIARAN PERS] Dana Abadi LSM: Menciptakan Lingkungan Pendukung untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi Lokal
01 June 2022
Perkumpulan Desa Lestari Membuka Rekrutmen Staf Baru
24 May 2022

Cerita Perubahan

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu
23 April 2022
Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas
10 April 2022
Desa Lestari dan Lokadata Dampingi 4 BUMDes di Kudus
21 February 2022

Anak Berhak Terlibat dalam Musrenbangdes

Anak-anak belajar menemukan permasalahan yang terjadi di desa dengan mencocokkan gambar dan kondisi desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Palu (22/11) – Anak-anak menjadi pelaku pembangunan. Antusiasme anak-anak yang bersimulasi turut dalam perencanaan pembangunan desa memberikan gambaran jika selama ini mereka hanya objek pembangunan orang dewasa.

Sebanyak 27 remaja usia 12-16 tahun dari sembilan desa mitra WVI ADP Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah mengikuti Kelas Partisipasi Pelibatan Anak dalam Musrenbangdes. Kegiatan pendampingan dilakukan setelah anak-anak pulang dari sekolah (pukul 14.00 – 17.30 WITA) dan hari Minggu, sehingga tidak mengganggu proses kegiatan sekolah formal. Selama lima hari sejak 18 – 22 November 2016, kelas Partisipasi diadakan di Amazing Resort Hotel Palu dan Desa Wayu di Kabupaten Sigi dengan Sri Purwani sebagai fasilitator dari Yayasan Penabulu

Proses belajar yang partisipatif mampu membangkitkan antusiasme para peserta yang notabene harus berhadapan dengan materi baru yang biasanya menjadi ranah pikiran orang dewasa. Fasilitator memperkenalkan tentang desa, hak-hak anak, pemetaan kebutuhan anak, maupun penggalian potensi desa dari kacamata anak-anak. Metode belajar disesuaikan dengan kondisi psikologis anak, yaitu diskusi dan paparan materi dengan cara bermain, bercerita, pemutaran film. Antusiasme anak-anak dalam kegiatan ini memberikan spirit bagi setiap proses belajar.

Sebanyak 27 remaja ini memiliki daya kritis dan keberanian berpendapat menyampaikan usulan kegiatan pembangunan desa yang menjadi harapan mereka. Ada banyak masalah yang ditemukan di desa diantaranya ketersediaan listrik, belum banyak rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK, akses jalan yang minim, maraknya kekerasan terhadap anak oleh pendidik dan orang tua, ketidakharmonisan keluarga, hingga pernikahan dini. Kasus-kasus tersebut muncul dari pemetaan kondisi anak di sembilan desa mitra dengan cara pengelompokan keadaan yang tidak disenangi dan harus dihadapi.

“Saya tidak ingin di desaku banyak orang mabuk dan anak yang tidak bersekolah lagi,” harapan Trivena Cornelia dari Desa Dombu.

Beberapa temuan seperti yang disampaikan oleh Trivena itulah yang selanjutnya disuarakan oleh anak-anak ketika mereka membuat pernyataan “Desaku Harapanku” versi anak. Kondisi tersebut akan dibawa oleh perwakilan anak yang ikut dalam sesi-sesi Kelas Partisipasi Anak dalam Musrenbangdes dalam pra-musrenbangdes khusus kelompok anak. Dari tahap pra-musrenbangdes khusus kelompok anak di masing-masing desa bertujuan menemukan prioritas usulan untuk diteruskan dalam musrenbangdes yang pendampingan dari para co-fasilitator yang telah mengikuti proses ToT sebelumnya.

“Anak-anak yang selama ini dianggap remeh oleh orang tua, ternyata mampu memetakan masalah desa yang dirasakan. Mereka mampu menjelaskan apa potensi desa, titik rawan di desa, bahkan peta kondisi sosial desa,” ungkap Sri. Proses ini tentu akan lebih memberikan sisi edukasi untuk anak karena telah memberikan kesempatan anak untuk belajar berpendapat dan terlibat dalam proses perencanaan pembangunan. (FSP)