Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Anak Berhak Terlibat dalam Musrenbangdes

Anak-anak belajar menemukan permasalahan yang terjadi di desa dengan mencocokkan gambar dan kondisi desa.
Anak-anak belajar menemukan permasalahan yang terjadi di desa dengan mencocokkan gambar dan kondisi desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Palu (22/11) – Anak-anak menjadi pelaku pembangunan. Antusiasme anak-anak yang bersimulasi turut dalam perencanaan pembangunan desa memberikan gambaran jika selama ini mereka hanya objek pembangunan orang dewasa.

Sebanyak 27 remaja usia 12-16 tahun dari sembilan desa mitra WVI ADP Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah mengikuti Kelas Partisipasi Pelibatan Anak dalam Musrenbangdes. Kegiatan pendampingan dilakukan setelah anak-anak pulang dari sekolah (pukul 14.00 – 17.30 WITA) dan hari Minggu, sehingga tidak mengganggu proses kegiatan sekolah formal. Selama lima hari sejak 18 – 22 November 2016, kelas Partisipasi diadakan di Amazing Resort Hotel Palu dan Desa Wayu di Kabupaten Sigi dengan Sri Purwani sebagai fasilitator dari Yayasan Penabulu

Proses belajar yang partisipatif mampu membangkitkan antusiasme para peserta yang notabene harus berhadapan dengan materi baru yang biasanya menjadi ranah pikiran orang dewasa. Fasilitator memperkenalkan tentang desa, hak-hak anak, pemetaan kebutuhan anak, maupun penggalian potensi desa dari kacamata anak-anak. Metode belajar disesuaikan dengan kondisi psikologis anak, yaitu diskusi dan paparan materi dengan cara bermain, bercerita, pemutaran film. Antusiasme anak-anak dalam kegiatan ini memberikan spirit bagi setiap proses belajar.

Sebanyak 27 remaja ini memiliki daya kritis dan keberanian berpendapat menyampaikan usulan kegiatan pembangunan desa yang menjadi harapan mereka. Ada banyak masalah yang ditemukan di desa diantaranya ketersediaan listrik, belum banyak rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK, akses jalan yang minim, maraknya kekerasan terhadap anak oleh pendidik dan orang tua, ketidakharmonisan keluarga, hingga pernikahan dini. Kasus-kasus tersebut muncul dari pemetaan kondisi anak di sembilan desa mitra dengan cara pengelompokan keadaan yang tidak disenangi dan harus dihadapi.

“Saya tidak ingin di desaku banyak orang mabuk dan anak yang tidak bersekolah lagi,” harapan Trivena Cornelia dari Desa Dombu.

Beberapa temuan seperti yang disampaikan oleh Trivena itulah yang selanjutnya disuarakan oleh anak-anak ketika mereka membuat pernyataan “Desaku Harapanku” versi anak. Kondisi tersebut akan dibawa oleh perwakilan anak yang ikut dalam sesi-sesi Kelas Partisipasi Anak dalam Musrenbangdes dalam pra-musrenbangdes khusus kelompok anak. Dari tahap pra-musrenbangdes khusus kelompok anak di masing-masing desa bertujuan menemukan prioritas usulan untuk diteruskan dalam musrenbangdes yang pendampingan dari para co-fasilitator yang telah mengikuti proses ToT sebelumnya.

“Anak-anak yang selama ini dianggap remeh oleh orang tua, ternyata mampu memetakan masalah desa yang dirasakan. Mereka mampu menjelaskan apa potensi desa, titik rawan di desa, bahkan peta kondisi sosial desa,” ungkap Sri. Proses ini tentu akan lebih memberikan sisi edukasi untuk anak karena telah memberikan kesempatan anak untuk belajar berpendapat dan terlibat dalam proses perencanaan pembangunan. (FSP)