Skip to content

Liputan

Pemutakhiran Data Desa Masih Perlu Ditingkatkan
20 June 2022
[SIARAN PERS] Dana Abadi LSM: Menciptakan Lingkungan Pendukung untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi Lokal
01 June 2022
Perkumpulan Desa Lestari Membuka Rekrutmen Staf Baru
24 May 2022

Cerita Perubahan

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu
23 April 2022
Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas
10 April 2022
Desa Lestari dan Lokadata Dampingi 4 BUMDes di Kudus
21 February 2022

Gerakan Saemaul Undong, Bermula dari Kemiskinan Negara

Hong Jong-Kyoung, Duta Besar untuk Hubungan Internasional Provinsi Gyeongsang, mengisahkan sejarah Korea Selatan dan lahirnya Saemaul Undong. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (29/11) Mempunyai pengalaman masa lalu menjadi negara paling miskin di dunia, membuat Korea Selatan mendorong lahirnya gerakan Saeamaul Undong. Gerakan tersebut diciptakan oleh Presiden Park Chung He pada tahun 1970 dan terus berkembang hingga saat ini.

Itulah cerita pembuka yang disampaikan Direktur Saemaul Globalization Foundation (SGF) Lee Ji Ha dalam pembukaan 2016 International Saemaul Training Program, Senin (28/11). Pelatihan yang digagas SGF ini melibatkan 52 orang delegasi dari delapan negara, diselenggarakan di Advanced Center for Korean Studies, Andong, Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan.

Tahun ini, SGF mengundang delegasi dari Indonesia, Vietnam, Kamboja, Iran, Guatemala, Laos, Kirgisztan, dan Cote d’Ivoire (Pantai Gading) untuk mengikuti kegiatan yang digelar sejak 28 November – 9 Desember 2016. Pengembangan bidang pertanian menjadi tema utama dalam kegiatan yang merupakan kerjasama SGF dengan Pemerintah Propinsi Gyeongsang Utara (red. Gyeongsangbuk-do) dan Kyungwoon University Saemaul Academy.

Lee Ji Ha mengisahkan kondisi Korea Selatan 60 tahun yang lalu ketika terbelit kemiskinan. Akhirnya pada 1970 gerakan Saemaul Undong dicetuskan dan diyakini dapat meninggalkan kemiskinan. Kini, berkat Saemaul Undong, Korea Selatan mampu menjadi salah satu negara maju di dunia dan ingin menularkan pengalamannya keluar dari kemiskinan untuk menjadi negara maju.

“Sekarang sudah abad ke-21 tapi masih banyak negara yang belum maju, jika Saemaul Undong dijalankan di negara lain pasti akan maju juga,” ungkap Lee.

Lee Ji Ha berharap para peserta dari delapan negara yang dipilih sebagai mitra program SGF dapat mengaplikasikan hasil pelatihan di negara masing-masing. Pengalaman baru tidak saja lahir dari pemateri pelatihan, melainkan peserta pun dapat saling bertukar ide-ide baik yang kelak dapat diterapkan kepada masyarakat di desanya, termasuk nilai-nilai Saemaul.

Duta Besar untuk Hubungan Internasional Provinsi Gyeongsang Utara Hong Jong-Kyoung memaparkan sejarah berdirinya negara Korea Selatan yang mempunyai kisah kejayaan pada masa kerajaan masa lampau. Kejayaan masa lampau itulah yang menjadi faktor kekuatan untuk membangkitkan desa dan negara. Masing-masing negara mempunyai kejayaan masa lalu seperti Kerajaan Khmer di Kamboja dan Kerajaan Persia di Iran. Hong berpesan agar jangan melupakan sejarah dan budaya. “Kalau dulu pernah jaya, tentu sekarang juga bisa maju,“ tandasnya.

Sebanyak 14 orang delegasi Indonesia merupakan perwakilan dari Desa Sumbermulyo, Desa Ponjong, Desa Tanjungwangi, Yayasan Penabulu, dan Pemerintah Provinsi DIY, serta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. (ES)