Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Gerakan Saemaul Undong, Bermula dari Kemiskinan Negara

Hong Jong-Kyoung, Duta Besar untuk Hubungan Internasional Propinsi Gyeongsang, mengisahkan sejarah Korea Selatan dan lahirnya Saemaul Undong.
Duta Besar untuk Hubungan Internasional Propinsi Gyeongsang Hong Jong-Kyoung menceritakan sejarah Korea Selatan dan lahirnya Saemaul Undong. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (29/11) Mempunyai pengalaman masa lalu menjadi negara paling miskin di dunia, membuat Korea Selatan mendorong lahirnya gerakan Saeamaul Undong. Gerakan tersebut diciptakan oleh Presiden Park Chung He pada tahun 1970 dan terus berkembang hingga saat ini.

Itulah cerita pembuka yang disampaikan Direktur Saemaul Globalization Foundation (SGF) Lee Ji Ha dalam pembukaan 2016 International Saemaul Training Program, Senin (28/11). Pelatihan yang digagas SGF ini melibatkan 52 orang delegasi dari delapan negara, diselenggarakan di Advanced Center for Korean Studies, Andong, Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan.

Tahun ini, SGF mengundang delegasi dari Indonesia, Vietnam, Kamboja, Iran, Guatemala, Laos, Kirgisztan, dan Cote d’Ivoire (Pantai Gading) untuk mengikuti kegiatan yang digelar sejak 28 November – 9 Desember 2016. Pengembangan bidang pertanian menjadi tema utama dalam kegiatan yang merupakan kerjasama SGF dengan Pemerintah Propinsi Gyeongsang Utara (red. Gyeongsangbuk-do) dan Kyungwoon University Saemaul Academy.

Lee Ji Ha mengisahkan kondisi Korea Selatan 60 tahun yang lalu ketika terbelit kemiskinan. Akhirnya pada 1970 gerakan Saemaul Undong dicetuskan dan diyakini dapat meninggalkan kemiskinan. Kini, berkat Saemaul Undong, Korea Selatan mampu menjadi salah satu negara maju di dunia dan ingin menularkan pengalamannya keluar dari kemiskinan untuk menjadi negara maju.

“Sekarang sudah abad ke-21 tapi masih banyak negara yang belum maju, jika Saemaul Undong dijalankan di negara lain pasti akan maju juga,” ungkap Lee.

Lee Ji Ha berharap para peserta dari delapan negara yang dipilih sebagai mitra program SGF dapat mengaplikasikan hasil pelatihan di negara masing-masing. Pengalaman baru tidak saja lahir dari pemateri pelatihan, melainkan peserta pun dapat saling bertukar ide-ide baik yang kelak dapat diterapkan kepada masyarakat di desanya, termasuk nilai-nilai Saemaul.

Duta Besar untuk Hubungan Internasional Provinsi Gyeongsang Utara Hong Jong-Kyoung memaparkan sejarah berdirinya negara Korea Selatan yang mempunyai kisah kejayaan pada masa kerajaan masa lampau. Kejayaan masa lampau itulah yang menjadi faktor kekuatan untuk membangkitkan desa dan negara. Masing-masing negara mempunyai kejayaan masa lalu seperti Kerajaan Khmer di Kamboja dan Kerajaan Persia di Iran. Hong berpesan agar jangan melupakan sejarah dan budaya. “Kalau dulu pernah jaya, tentu sekarang juga bisa maju,“ tandasnya.

Sebanyak 14 orang delegasi Indonesia merupakan perwakilan dari Desa Sumbermulyo, Desa Ponjong, Desa Tanjungwangi, Yayasan Penabulu, dan Pemerintah Provinsi DIY, serta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. (ES)