Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Saemaul Undong: Berawal dari Desa, Berkembang ke Kota, Dikenal Dunia

Eko Sujatmo (Fasilitator Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu), Sholeh Anwari Hadi (Kepala Subbidang Penguatan Potensi Masyarakat BPPM DIY), dan Budiman Setyanugraha (Kepala Urusan Perencanaan Desa Ponjong) bersama delegasi dari Guatemala.
Fasilitator Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu Eko Sujatmo, Kepala Subbidang Penguatan Potensi Masyarakat BPPM DIY Sholeh Anwari Hadi, dan  Kepala Urusan Perencanaan Desa Ponjong Budiman Setyanugraha bersama delegasi dari Guatemala. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (30/11) –  Kunci keberhasilan dari gerakan Saemaul Undong adalah dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan adanya kepemimpinan lokal desa. Berkat tiga hal itu, Korea Selatan mampu mengubah diri menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di dunia.

Saemaul Undong adalah cara murni dari Korea Selatan untuk program pengembangan masyarakat yang digagas oleh kemauan politik dari kepemimpinan nasional atas di orde untuk melarikan diri dari kemiskinan yang telah diakui dunia. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan atas Saemaul Undong, ada tiga  faktor penentu keberhasilan dari gerakan ini, yaitu dukungan pemerintah dalam memainkan peran di periode gerakan, masyarakat yang proaktif dalam implementasi gerakan, dan kepemimpinan langsung yang dimulai dari tingkat desa.

President of Korean Saemaul Undong Center So-Jin Kwang menjelaskan Saemaul Undong diaplikasikan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat desa. Pada perkembangannya, Saemaul Undong tidak hanya diterapkan di desa tapi juga menular ke kota, ke sekolah, dan pabrik, sehingga semua masyarakat Korea memiliki kemauan untuk berubah. “Saemaul Undong membuat masyarakat mempunyai mental kerjasama yang sangat efektif,” kata So Jin Kwang kepada 52 peserta 2016 International Saemaul Training Program, Selasa (29/11).

So-Jin Kwan yang pernah menjadi dosen di salah satu universitas di Vietnam menceritakan penerapan semangat kerja sama yang ada di Korea Selatan. “Dahulu kemampuan teknik orang Korea sangat rendah, sehingga produk yang dihasilkan tidak bagus. Akan tetapi setelah Saemaul Undong diterapkan di pabrik-pabrik masa kini, investor asing menjadi percaya pada kualitas produk kami.” Sang Profesor juga mengajak kepada para peserta berkenan mengaplikasikan Saemaul Undong di delapan negara mitra program SGF. “Kita pasti bisa, kita harus melakukan itu, kita harus punya mental tantangan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Former Senior Researcher of Kyungwon University Saemaul Academy Lim Ha-Sung mengatakan keberhasilan itu didorong oleh pengembangan desa yang dimulai dari diri sendiri oleh penduduk Korea. Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan untuk membangun desa hingga negeri.  Masyarakat desa mengembangkan diri dan memikirkan kemajuan desa, walaupun dukungan dari pemerintah yang sangat kecil. Hampir 70 persen penduduk Korea Selatan tinggal di desa. Tidak heran jika gerakan yang dimulai dari desa menjadi cara yang efektif

“Masyarakat desa dituntut untuk mengetahui masalah yang ada di desa, hal apa yang mendesak atau prioritas dilakukan, kemudian semua harus berpartisipasi,” katanya.

Namun, Lim mengakui tidak mudah dalam menggerakan masyarakat desa untuk ikut bersama-sama memikirkan desanya. Apalagi jumlah warga desanya sangat banyak. Saemaul Undong dapat dimulai untuk diri sendiri, maupaun dari komunitas desa yang kecil.

“Ketika masyarakat menemukan masalah dan mencari sendiri solusinya, sehingga akan tercipta masyarakat yang bertanggungjawab,” tutur Lim.

Dari delapan negara, Cote d’Ivoire, Iran, Kirgiztan, Laos, Guatemala masih berstatus calon negara mitra. Kelima negara tersebut sedang dalam tahap penelitian atau kajian untuk menentukan wilayah program. Menurut Lim Ha-Sung, program yang akan dikembangkan di negara mitra harus sudah ditentukan tujuannya agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari akibat tidak ada komitmen dari masyarakat dan pemerintah untuk merawat keberlanjutannya.

So-Jin Kwang dan Lim Ha-Sung mengapresiasi implementasi program di Indonesia yang telah menjadi kantor perwakilan terbesar di luar Korea Selatan. Di Indonesia, SGF memulai program di DIY pada 2015 di Desa Ponjong dan Desa Bleberan di Kabupaten Gunungkidul, serta Desa Sumbermulyo di Kabupaten Bantul. Menggandeng Yayasan Penabulu, SGF mengembangkan Program Desa Lestari Berwawasan Nilai-nilai Gerakan Saemaul. Pada tahun ini SGF Kantor Perwakilan Indonesia memperluas kerjasama dengan Desa Tanjungwangi, Kabupaten Subang. (ES)